Di waktu yang telah berkembang pesat ini dan dakwah telah tersebar, hadits-hadits dan para penceramah telah memberi pengetahuannya terhadap ilmu ibadah, ilmu dzikir, dan ilmu berdoa kepada Allah akan tetapi diantaranya masih ada kesalahan diantara masyarakat dalam mengamalkannya khususnya dzikir pagi dan pentang. Disini penulis ingin membahas mengenai dzikir yang shahih dan sarih dan bantahan untuk orang yang menyatakan dzikir pagi yang keliru.
Dzikir
ذكر - يذكر - ذكرا - ذاكر - مذكور -أُذْكرْ ؛تذكرة؛ ذكرى؛ذَكَرٌ
Kata dzikir terdiri dari tiga huruf yaitu ذ-ك-ر , jika dibaca dzakara - yadzkuru - udzkur(fiil - kata kerja), atau dibaca dzikrun - Dzikran (mashdar) artinya menyebut, sebutlah, mengingat, ingatlah, peringatan, menjelaskan, jelaskanlah, penjelasan, menceritakan, mengambil pelajaran, menghina, mengagumi, ingin memiliki. Arti- arti itu disesuaikan dengan susunan kalimat sebelum dan sesudahnya atau qorinah (yaitu kata yang memalingkan arti)
Dzikir dengan hati atau fikiran adalah saat mengingat pesan-pesan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan Dzikir dengan lisan adalah menyebut nama-Nya. Masing-masing Dzikir tersebut ada dua macam lagi; Dzikir (ingat) karena lupa dan dzikir (ingat bukan karena lupa tetapi melupakan.
Yang berasal dari kata Addzikru di dalam Alquran terdapat 275 kata dengan berbagai makna. Selanjutnya Dzikir kepada Allah disebut Dzikrullah. Dzikir disebutkan dalam banyak ayat dalam Al-qur'an seperti Alhijr[15]:9; Al-anbiya[21] : 10,24,60 ; Yusuf[12] :42;Al-fajr[89]: 23; dan lain-lain.
Dzikir Tidak Boleh Dikhususkan dengan Bacaan, Waktu dan Bilangan Tertentu Tanpa Dalil
Allah Swt berfirman:
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan
dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai.” QS. Al-A’raf: 205
Imam Ibnu Katsir berkata: Allah Swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya agar dzikir menyebut asma-Nya pada
permulaan siang dan pada penghujung harinya, sebagaimana Dia memerintahkan agar
melakukan ibadah kepada-Nya pada kedua waktu tersebut.
Hal ini Dia ungkapkan melalui
firman-Nya:“dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum
terbenam(nya).” (QS. Qaf: 39)
.
Hal ini terjadi sebelum salat lima waktu difardukan pada malam Isra, dan ayat ini termasuk
Makkiyyah (turun periode Mekah). Makna yang dimaksud ayat ini ialah anjuran untuk melakukan banyak zikir bagi hamba-hamba
Allah di waktu pagi dan petang hari agar mereka tidak termasuk golongan orang-orang yang
lalai. Karena itulah Allah Swt. memuji para malaikat yang selalu bertasbih sepanjang malam
dan siang hari tanpa hentinya. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:
“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan
menyembah Allah.” (Al-A'raf: 206), hingga akhir ayat.
Sesungguhnya para malaikat disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat ini hanyalah agar mereka
dijadikan panutan dalam hal ketaatan dan ibadahnya. (Tafsir Ibnu Katsir, III: 538-539)
Dari Abu Ad-Darda`, ia berkata, ‘Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Maukah aku
beritahukan kepada kalian mengenai amalan kalian yang terbaik, dan yang paling suci di sisi
Raja (Allah) kalian, paling tinggi derajatnya, serta lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan
emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kemudian kalian
memenggel leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?’ Mereka berkata, ‘Ya.’ Beliau
bersabda, ‘Berdzikir kepada Allah Ta'ala’." HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, V: 389, No.
3377
Berzikir kepada Allah dengan lisan dan perbuatan. Dzikir lisan seperti membaca al-Qur’an,
bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil. Sementara Dzikir perbuatan dengan menaati segala
protokol syariat Allah, baik perintah maupun larangan.
Saat Dzikir tidak dibatasi oleh syariat baik waktu, lafal maupun bilangannya, tentu kita tak
boleh membatasi keumumannya. Sementara ketika syariat telah membatasinya, maka kita tak
boleh menambah atau menguranginya.
Dengan demikian, Dzikir akan bermanfaat sebagai penawar jiwa yang paling utama di saat
kita taat pada protocol syariat.
Pengertian Dzikir Waktu Pagi dan Petang
Kategori Hadis Waktu Pagi dan Petang dengan Bacaan Tertentu
KUMPULAN HADITS DZIKIR PAGI
& PETANG
A.
Pendahuluan
Dzikir pagi dan petang
merupakan ibadah yang dianjurkan oleh syariah yang bisa dilakukan
secara rutin. Akan tetapi seiring dengan populernya amalan ini banyak
orang yang menambah-nambah dan mengurang-ngurangi jumlah dan cara
beribadah tersebut. Hal ini adalah dilarang karena sudah tidak sesuai
syariat. Sama seperti orang yang diberi resep obat oleh dokter tetapi
ia malah menguranginya atau menambahinya tanpa dasar ilmu. Hal
tersebut bisa membuatnya overdosis atau kekurangan dosis yang
akhirnya bukannya malah sembuh tetapi malah lebih parah dari apa yang
dideritanya. Hal tersebut sama dengan agama ada perkataa “tidak
boleh berlebihan dalam agama” ia adalh betul bila dimaknai menambah
syariat-syarita baru karena ia sudah keluar dari jalur yang
ditentukan tanpa dasar ilmu bahkan sok tahu terhadap agama dan
berdusta atas Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu
penulis ingin memaparkan mengenai hadits-hadits dzikir pagi dan
petang yang shahih dan sharih. Kenapa sharih ? Karena shahih saja
belum tentu sharih. Shahih berarti benar, sedangkan sharih tegas atau
tepat. Artinya haditsnya benar dan penempatan haditsnya tepat dan
tegas menunjukkan amalan dzikir pagi dan petang dan bukan dzikir
khusus waktu lain apalagi hadits umum yang malah digunakan untuk
khusus.
B.
Hadits Shahih Dan Sharih
1.
1.Al-Ikhlas
3x, Al-falaq 3x, An-nas 3x :
عَنْ مُعَاذِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ
أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْنَا فِي
لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ
نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا
فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ أَصَلَّيْتُمْ
فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ قُلْ
فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ
فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ قُلْ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ
قَالَ قُلْ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي
وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
dari
Mu'adz bin Abdillah bin Khubaib dari bapaknya, ia berkata, "Pada
malam hujan lagi gelap gulita, kami keluar mencari Rasulullah ﷺ
untuk salat bersama kami, lalu kami menemukannya,
beliau bersabda, "Apakah kalian telah menunaikan salat?"
Belum sempat kujawab pertanyaan belau, langsung beliau bersabda,
"Katakanlah", namun sedikitpun aku tidak berkata-kata,
beliau bersabda, "Katakanlah", namun sedikitpun aku tidak
berkata-kata, kemudian beliau bersabda, "Katakanlah",
hingga aku berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang harus aku
katakan?, Rasulullah ﷺ
bersabda, "Katakanlah, QUL HUWALLAAHU AHAD (surah
Al-Ikhlas), QUL A'UUDZU BIRABBIL FALAQ (surah Al-Falaq) dan QUL
A'UUDZU BIRABBINNAAS (surah An- Naas) tiga kali pada waktu sore dan
pagi hari, maka dengan surah-surah ini akan mencukupimu (menjagamu)
dari segala keburukan."(HR.Abu Daud 5082)
Keterangan :
1.Qul
huwaallahu disini adalah sebutan untuk surat al-ikhlas
2.
Mu’awwidzatain berarti surat al-falaq dan an-nas
3.
Bacaan diatas merupakan doa karena dalam surat tersebut isinya doa.
4. Cara
mengamalkannnya di pagi hari membaca al-ikhlas 3 kali, al-falaq 3
kali, dan an-nas 3 kali maka akan menjagamu dari segala keburukan ,
serta di baca di sore hari
5. pagi
hari artinya sesudah subuh hingga siang dzuhur. Sedangkan sore hari
artinya dari setelah ashar hingga malam hari.
Lafadz:
أَعُوْذُ
باللَّهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَاجِيْمِ
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ﴿ ﴾
قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿ ١﴾اللَّهُ
الصَّمَدُ ﴿ ٢﴾لَمْ يَلِدْ وَلَمْ
يُولَدْ ﴿ ٣﴾وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا
أَحَدٌ ﴿ ٤﴾(3x)
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿ ﴾
قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿ ١﴾مِنْ
شَرِّ مَا خَلَقَ ﴿ ٢﴾وَمِنْ شَرِّ
غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿ ٣﴾وَمِنْ شَرِّ
النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ﴿ ٤﴾وَمِنْ
شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿ ٥﴾(3x)
بِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿ ﴾
قُلْ
أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس ﴿ ١﴾مَلِكِ
النَّاسِ ﴿ ٢﴾إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿ ٣﴾مِنْ
شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿
٤﴾الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ
النَّاسِ ﴿ ٥﴾مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
﴿ ٦﴾(3x)
2.
Memohon kebaikan pada hari itu dan berlindung dari keburukannya
عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا
وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ قَالَ الْحَسَنُ
فَحَدَّثَنِي الزُّبَيْدُ أَنَّهُ حَفِظَ
عَنْ إِبْرَاهِيمَ فِي هَذَا لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ
أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ
اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي
النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
dari
'Abdullah bin Mas'ud dia berkata, Apabila sore hari, Rasulullah ﷺ
mengucapkan doa yang berbunyi: 'AMSAINAA WA AMSAL MULKU
LILLAAH, WALHAMDU LILLAAHI, LAA-ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA
SYARIIKA LAHU "Kami memasuki sore hari dan pada sore ini jagad
raya tetap milik Allah. Segala puji bagi Allah tiada Tuhan selain
Allah, Dialah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Al Hasan berkata, maka
telah menceritakan kepada kami Zubaid bahwasanya ia menghafal dari
Ibrahim mengenai doa ini, 'LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA 'ALAA
KULLI SYAI'IN QODIIR, ALLOOHUMMA AS"ALUKA KHOIRO HAADZHILLAILATI
AWA A'UUDZU BIKA MIN SYARRI HAADZIHILLAILATI WA SYARRI MAA BA'DAHAA,
ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL KASALI WA SUU'IL KIBARI,
ALLOOHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIN FIN NAARI WA'ADZAABIN FIL
QOBRI "Bagi-Nyalah semua kekuasaan dan pujian, dan Dialah yang
berkuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari
kebaikan malam ini. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang
ada pada malam ini dan kejahatan sesudahnya. Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kemalasan, kesengsaraan di masa tua. Ya Allah aku
berlindung kepada-Mu dari azab neraka dan azab di dalam kubur.
(Shahih Muslim 2723)
Keterangan :
1.
Dibaca Pagi dan Sore hari
2.
Berisi doa meminta kebaikan dan berlindung dari keburukan di hari itu
3.
Lafadz “ALLOOHUMMA AS"ALUKA KHOIRO HAADZHILLAILATI AWA A'UUDZU
BIKA MIN SYARRI HAADZIHILLAILATI WA SYARRI MAA BA'DAHAA” tidak
perlu diubah menjadi “HAADZAL YAUM” karena di pagi hari pun tidak
mengubah makna karena ada kata “WA SYARRI MAA BA'DAHAA” yang
artinya dan kejahatana sesudahnya yaitu pada pagi dan siang harinya.
Lafadz
:
Pagi
hari :
أَصْبَحْنَا
وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ
مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ
مَا بَعْدَهَا وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ
مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا
بَعْدَهَا رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْكَسَلِ وَسُوءِ الْكِبَرِ رَبِّ
أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ
وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.
Sore
hari :
أَمْسَيْنَا
وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ
مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ
مَا
بَعْدَهَا
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ
اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا رَبِّ
أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَسُوءِ
الْكِبَرِ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ
عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي
الْقَبْرِ.
3.
Pernyataan pasrah hidup dan mati hanya kepada Allah semata
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ
إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ
اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ
أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ
نَمُوتُ وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ وَإِذَا
أَمْسَى فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ بِكَ
أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ
نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ
النُّشُورُ
قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
dari
Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah ﷺ
mengajari para sahabatnya, beliau berkata, 'Apabila
salah seorang di antara kalian berada pada pagi hari maka hendaknya
mengucapkan; ALLAAHUMMA BIKA ASHBAHNAA WA BIKA AMSAINAA WA BIKA
NAHYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAIKAL MASHIR. (Yang Allah dengan
pertolongan-Mu kami berada di pagi hari, dan dengan pertolongan-Mu
kami berada di sore hari, dan dengan kehendak-Mu kami hidup serta
mati, dan kepada-Mu tempat kembali). Dan jika berada di sore hari
maka ucapakanlah; ALLAAHUMMA BIKA AMSAINAA WA BIKA ASHBAHNAA WA BIKA
NAHYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAIKAN NUSYUUR.' (Yang Allah dengan
pertolongan-Mu kami berada di sore hari, dan dengan pertolongan-Mu
kami berada di pagi hari, dan dengan kehendak-Mu kami hidup serta
mati, dan kepada-Mu kami dibangkitkan). Abu Isa berkata, hadits ini
adalah hadits hasan.(HR.Tirmidzi 3391)
Keterangan :
1.
Dibaca ketika pagi hari dan sore hari
2.
Memiliki banyak riwayat lain tentang lafadz serupa.
3.
Tidak boleh mengubah cara selain yang ada di riwayat yang shahih
Lafadz
:
Pagi
Hari :(1)
اللَّهُمَّ
بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا
وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ
الْمَصِيرُ
Sore
Hari :(1)
اللَّهُمَّ
بِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ أَصْبَحْنَا
وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ
النُّشُورُ
4.
Persaksian sebagai seorang muslim yang lurus di atas fitrah
عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى
أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ
وَعَلَى كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَعَلَى
دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى
مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ
dari Abdullah bin
Abdurrahman bin Abza dari Bapaknya Nabi ﷺ
jika masuk waktu pagi atau masuk waktu sore memanjatkan
doa "Di waktu pagi kami memegang teguh agama Islam, di atas
kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad ﷺ
dan agama bapak kami Ibrahim, di atas jalan yang lurus,
dan tidak tergolong orang-orang musrik."(HR. Ahmad 14821)
Keterangan hadits :
1. Di baca di waktu pagi dan petang
2. Tidak ada riwayat menyebutkan perubahan kata "Ashbahnaa" menjadi "Amsainaa" di sore harinya.
5. Membaca Sayyidul Istighfar
عَنْ شَدَّادِ
بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَيِّدُ
الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ
رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ
وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي
فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ
مَا صَنَعْتُ إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي
فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِذَا قَالَ
حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ
مِثْلَهُ
dari
Syaddad bin Aus dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda, "Sesungguhnya istighfar yang paling utama
adalah jika seorang hamba mengucapkan: 'ALLAAHUMMA ANTA RABBII LAA
ILAAHA ILLAA ANTA KHALAQTANII WA ANA 'ABDUKA WA ANA 'ALAA 'AHDIKA WA
WA'DIKA MASTATHA'TU ABUU-U LAKA BI NI'MATIKA 'ALAYYA WA ABUU-U LAKA
BI DZANBII FAGHFIRLII FA INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA
A'UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA'TU (Ya Allah, Engkau adalah
Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau
telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati
perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku mengakui
dosaku kepada-Mu dan kuakui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku.
Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu, Aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatanku).' Jika ia mengucapkan di waktu
sore lalu meninggal, maka ia akan masuk surga. Dan jika ia membacanya
di waktu pagi lalu meninggal, maka ia mendapatkan seperti itu juga
(masuk surga)."(Shahih Bukhori 6323)
Keterangan :
1. Dalam riwayat ini disebutkan pagi hari dan sore hari, tapi diriwayat lain disebutkan siang hari dan malam hari. dua-duanya bisa diamalkan sebab "shobah" bisa dimaknai setelah subuh samapai sebelum ashar, dan kata "masaa" bisa dimaknai setelah ashar sampai pertengahan malam.
2. Kesalahan dalam membaca sayyidul isthgfar yaitu tidak menggunakan lafadz "ABUU-U LAKA BI NI'MATIKA 'ALAYYA WA ABUU-U LAKA BI DZANBII" kata "ABUU-U LAKA BI DZNABII" sering banya orang menghilangkan kata"LAKA" padahal itu masih termasuk sayyidul istighfar.
6. Memohon Keselamatan dalam agama, dunia,akhirat, keluarga, dan harta
Lafadz 1 :
قَالَ سَمِعْتُ
ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ
لَمْ
يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ
الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ
يُصْبِحُ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ
وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ
وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ
اسْتُرْ عَوْرَتِي وَقَالَ عُثْمَانُ عَوْرَاتِي
وَآمِنْ رَوْعَاتِي اللَّهُمَّ احْفَظْنِي
مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي
وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ
فَوْقِي وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ
أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
قَالَ
أَبُو دَاوُد قَالَ وَكِيعٌ يَعْنِي
الْخَسْفَ
Aku
mendengar Ibnu Umar berkata, "Rasulullah ﷺ
tidak pernah meninggalkan doa-doa tersebut saat tiba
waktu sore dan pagi hari, "ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKAL 'AAFIYATA
FIDDUNYAA WAL AAKHIRAH, ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKAL 'AFWA WAL
'AAFIYATA FI DIINII WA DUNYAAYA WA AHLII WA MAALII ALLAAHUMMASTUR
'AURATII -Utsman menyebutkan dengan lafadz- "'AURAATII WA AAMIN
RAU'AATII ALLAAHUMMAHFADZHNII MIN BAINI YADAYYA WA NIN KHALFII WA 'AN
YAMIINII WA 'AN SYIMAALII WA MIN FAUQII WA A'UUDZU BI'AZHAMATIKA AN
UGHTAALA MIN TAHTII (Ya Allah, aku memohon kepada-mu keselamatan di
dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu pemaafan dan
keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta. Ya Allah,
tutupilah auratku, -Utsman menyebutkan dengan lafadz- "Auratku,
dan amankanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, jagalah aku dari depan,
belakang, sisi kanan, sisi kiri, dan dari atas. Aku berlindung
kepada-Mu dengan kebesaran-Mu agar aku tidak diserang dari arah
bawah." Abu Daud berkata, "Waki' mengatakan, "Maksudnya
adalah penenggelaman."( HR Abu Daud 5074)
Lafaz 2 lebih lengkap :
قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ
لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي
وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
قَالَ وَكِيعٌ يَعْنِي الْخَسْفَ
saya mendengar Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan doa-doa tersebut ketika menjelang pagi dan sore, yaitu, "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dalam (menjalankan) agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku, berikanlah ketentraman apa-apa yang menjadi rasa ketakutanku, lindungilah kami dari bahaya yang datang dari hadapanku, dari belakangku, dari samping kananku, dari sampaing kiriku dan dari atasku dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya yang datang dari bawahku."(HR. Abu Daud : 3871)
Keterangan hadits :
1. Perbedaan lafadz 1 dan 2 adalah pada lafadz 1 tidak menggunakan 'afwa di awal
2. ini merupakan dzikir berupa doa keselamatan di dunia dan di akhirat
7. Memohon Perlindungan dari Segala Sesuatu yang Membahayakan
سَمِعْتُ
عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ يَقُولُ
قالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِي
صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ
لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا
يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي
الْأَرْضِ
وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ
يَضُرَّهُ شَيْءٌ
saya
mendengar Utsman bin 'Affan radhiallahu'anhu berkata, Rasulullah ﷺ
bersabda, "Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan
sore hari mengucapkan; BISMILLAAHILLADZII LAA YADHURRU MA'AS MIHI
SYAI UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAAI WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIM (Dengan
menyebutkan nama Allah yang tidak ada sesuatupun dengan menyebut
nama-Nya yang membahayakan di bumi maupun di langit, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali melainkan ia tidak
akan diganggu oleh sesuatupun." (Tirmidzi 3388)
8. Perkataan Terbaik Para Nabi
dari Abu Hurairah
radhiallahu'anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda, "Barang siapa yang membaca LAA ILAAHA
ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA
HUWA 'ALAA KULLI SYAI IN QODIIR (Tidak ada tuhan (yang berhak
disembah) selain Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Mahakuasa atas
segala sesuatu) sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya
mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh budak, lalu ditetapkan
baginya seratus kebaikan dan dijauhkan darinya seratus keburukan
serta baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu
hingga petang. Tidak ada amalan seseorang yang lebih utama dari
(membaca) zikir ini kecuali bila ada yang dapat melaksanakan (amalan
shalih) lebih banyak lagi dari sekedar (membaca) zikir
tersebut".(S.Bukhori 3293)
Keterangan :
1. Dibaca 100 kali
2. Dzikir khusus pagi dan sore hari
9. Memohon Diperbaiki Segala Urusan
أخبرنَا عبد الرَّحْمَن بن مُحَمَّد بن سَلام حَدثنَا زيد بن الْحباب أَخْبرنِي عُثْمَان بن موهب الْهَاشِمِي سَمِعت أنس بن مَالك يَقُول قَالَ النَّبِي (38 ب) صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لفاطمة مَا يمنعك أَن سَمْعِي مَا أوصيك بِهِ أَو تقولي إِذا أَصبَحت (وَإِذا) ب ح أمسيت
يَا حَيّ يَا قيوم بِرَحْمَتك أستغيث أصلح لي شأني كلَّه وَلَا تَكِلنِي إِلَى نَفسِي طرفَة عين (نوع آخر)
Abd al-Rahman bin Muhammad bin Salam memberi tahu kami, Zayd bin al-Habab memberi tahu kami, Othman bin Mawhab al-Hashimi memberi tahu saya, saya mendengar Anas bin Malik berkata bahwa Nabi (38 b) semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian berkata kepada Fatimah, “Apa yang mencegahmu dari keracunan?” Apa yang saya sarankan untuk Anda lakukan atau katakan jika di pagi hari (dan jika) di malam hari
"Wahai Yang Hidup, Wahai Pemelihara, dengan rahmat-Mu, aku mohon pertolongan, perbaiki semua urusanku untukku, dan jangan serahkan diriku sekejap mata"(HR. An-Nasai dalam Kitab Amalul yaum wa lail : 381 , no 570)
Keterangan :
1. Dibaca pada Pagi dan Malam hari
C. Hadits Dhaif
Dan Tidak Sharih
1. Hadits Allah yang mencukupi segala yang dibutuhkan
Lafadz :
حسبي الله لا
إله إلا هو عليه توكلت و هو ربّ العرش
العظيم
“Allahlah yang mencukupi (segala apa yang kubutuhkan, tidak ada
ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Dia, kepada-Nyalah
aku bertawakkal, dan Dialah Rabb yang menguasai Arsy yang agung.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya (no. 5081) secara mauquf
dari abu darda ra. , dan Ibnu Sunni meriwayatkan secara marfu’
dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 71)
Hadits
ini dha’if baik yang
diriwayatkan secara marfu’ maupun mauquf . Syaikh al-Albani
berkata: “Hadits ini Munkar.”(Lihat
Silsilah Ahadits adh-Dhaifah (no. 5286)
Keutamaannya : “Barangsiapa yang membaca pada setiap hari ketika
pagi dan sore: (Hasbiyallah Laa Ilaha Illa huwa ‘alaihi tawakkaltu
wa huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim) tujuh kali, maka Allah akan
mencukupi apa yang diinginkan dari perkara dunia dan akhirat.” (HR
Ibnu Sunni : Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad mengatakan dhaif (Syarh
Sunan Abi Daud [577], Maktabah Misykah). Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini munkar. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 5287). Juga
dalam HR Abu Daud secara mauquf no. 5081 : Syaikh Al Albani telah
meneliti riwayat ini sebagai riwayat maudhu’ (palsu). (Shahih wa
Dhaif Sunan Abi Daud No. 5081). Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam
tafsirnya terhadap surat At Taubah ayat 129, khususnya ketika
membahas riwayat Ibnu ‘Asakir ini: “ini (hadits) munkar.”
(Tafsir Al Quran Al ’Azhim, 4/244. Darut Thayyibah). Namun Syaikh
Syu’aib dan ‘Abdul Qodir Al Arnauth menyatakan sanad hadits ini
shahih dalam Zaadul Ma’ad (2/376))
Walaupun sanadnya shahih tetapi dari segi matannya lemah karena ada
kalimat :
كان بها أو كاذبا
artinya :
baik mengucapkannya secara jujur atau pura-pura (tanpa ada niat,
spontan, berbohong)
Tidak mungkin mengucapkan dzikir tersebut dengan berbohong. Padahal
berbohong adalah perbuatan terlarang. Maka matan disini adalah
munkar.
Jarh (celaan/kritikan) didahulukan dari pada ta’dil (pujian,
penegakan)
2.
Hadits Shalawat Pagi dan Sore 10 Kali
من صلىّ عليّ
حين يصبح عشرا و حين يمسي عشرا :
أدركته شفاعتي
يوم القيامة.
“Barang siapa bershalawat kepadku ketika pagi 10 kali dan ketika
sire hari 10 kali, dia akan memperoleh syafaatku pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani.
Hadits
ini dhaif karena snadnya munqathi’(terputus). Sebab, Khalid
bin Ma’dan tidak
mendengar hadits ini dari Abu Darda ra. Imam Ahmad menyatakan:
“Khalid
tidak
mendengar riwayat dari Abu Darda.”(Lihat Tahdzibut Tahdzib
(III/102-103, no.222 dan Silsilah Ahadits adh-Dhaifah no. 5788)
3.
Hadits
Memohon kebaikan Pagi hari
Lafadz :
أَصبحنا
و أصبح الملكُ لله ربّ العالمين.
اللهمّ
إنّي أسألك خير هذا اليوم:
فتحه,
و
نصره,
و
نوره,
و
بركته و هداه و أعوذ بك من شرّ ما فيه و
شرّ ما بعدهُ
“Kami
telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, Rabb seru
sekalian alam. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu supaya
memperoleh kebaikan, membukakan rahmat, pertolongan, cahaya, berkah,
dan petunjuk pada hari ini. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan
apa-apa yang berada di dalamnya dan dari kejahatan sesudahnya.
Diriwayatkan
Oleh Abu Dawud (no. 5084) dan ath-Thabrani dalam Mu’jam Kabiir
(III/no. 3453).
Hadits
ini Dhaif
karena ada dua cacata dalam sanadnya:
1.
Terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad
bin Isma’il bin Ayyasy.
Dia tidak pernah mendengar hadits (riwayat) dari ayahnya, dan hadits
ini dia riwayatkan dari ayahnya itu.
2.
sanadnya munqathi’
(terputus) di antara Syuraih
bin Ubaid
dan Abu
Malik.
Sedangkan Syuraih
tidak mendengar hadits ini darinya (Abu
Malik).
Imam Abu Hatim ar-Razi berkata dalam al-marasil
(hlm. 90): “Syuraih bin Ubaid dari Abu Malik, haditsnya
mursal.(Lihat
Al-Jarh wat-Ta’dil (VII/189-190), Tahdzibul Kamal (XXIV/5067),
Tahdzibut Tahdzib (IX/51-52), dan Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah
(no. 5606)
4.
Hadits Persaksian Pagi Hari
Lafadz :
اللهم
إني أصبحتُ أشْهدُكَ وَ أُشْهِدُ حملة
عرشك,
و
ملائكتك و جميع خلقك,
أنّك
أنت الله لا إله إلاّ أنتَ وحدك لا شريك
لك, و
أنّ محمدا عبدك و رسولُكَ
“Ya
Allah, sungguh pada pagi ini aku mempersaksikan engkau, Malaikat yang
mmemikul Arsy-Mu, para malaikat-Mu, dan seluruh makhluk-Mu,
bahwasanya Engkaulah Allah, tiada ilah kecuali Engkau Yang Maha Esa,
tidak ada sekutu bagi-Mu, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan
utusan-Mu.
Diriwayatkan
oleh Abu Dawud (ni. 5069), al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrad (no.
1201), an-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no.9), serta Ibnu
Sunni (no.70).
Hadits
ini Dhaif
karena dua cacat dalam sanadnya:
1.Terdapar
Perawi yang tidak dikenal bernama Abdurrahman
bin Abdul Majid.
2.
Para
ulama hadtis raga apakah Makhul
mendengar
hadits dari Anas
bin Malik
atau tidak?(Lihat Silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah (no. 1041). Jika ia
mendengar maka cacat hadits ini adalah ‘an’anahnya Makhul. Ibnu
Hibban menyatakan: “Kemungkinan ia berbuat Tadlis.” (Lihat
Mizanul I’tidal (II/577, 4913), Taqribut Tahdzib (no. 3948), dan
Silsilah adh-Dhaifah (no. 1041).
5.
Hadits Segala Nikmat Yang Diterima
اللهم
ما أصبح بي من نعمةٍ أوْ بأحدٍ من خلك فمنك
وحدك لا شريكَ لك,
فلك
الحمدُ و لك الشكرُ.
“Ya
Allah, segala nikmat yang kuterima atau diteima seluruh makhluk-Mu
pada pagi ini adlah dari-Mu. Maha Esa Engkau, tiada sekutu bagu-Mu.
Bagi-mu segala pujian dan bagi-Mu segala bentuk syukur (dari seluruh
makhluk-Mu.
Diriwayatkan
dari Abu Dawud (no. 5073), an-Nasa’i ‘Amalul Yaum wal Lailah
(no.7), Ibnu Sunni (no. 41), dan Ibnu Hibban Mawariduzh Zham’an
(no. 2361).
Hadits
ini Dhaif karena
dalam sandanya terdapat perawi majhul
(yang
tidak dikenal) yang bernama Abdullahh
bin Anbasah.
Adz-Dzahabi berkata: “Keadaannya tidak dapat diketahui.”(Lihat
Mizanul I’tidal (II/469), Takhrij al-Kalimut Thayyib (hlm. 73),
Dhaif Mawariduzh Zham’an (no. 301).
6.
Hadits Ayat Kursi Pagi dan Sore Hari
Imam
Al-Hakim berkata:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِي ،
ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ
يُوسُفَ ، ثَنَا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ ، ثَنَا أَبُو دَاوُدَ
الطَّيَالِمِيُّ ثَنَا حَرْبُ بْنُ
شَدَّادٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي
كَثِيرٍ ، حَدَّثَنِي الْحَضْرَمِيُّ
بْنُ لَاحِقٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
عَمْرِو بْنِ أَبَيَ بْنِ كَعْبٍ ، عَنْ
جَدِهِ أَبَيَ بْنِ كَعْبٍ -
رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ - أَنَّهُ
كَانَ لَهُ جَرِينُ تَمْرٍ ، فَكَانَ
يَجِدُهُ يَنْقُصُ ، فَحَرَسَهُ لَيْلَةً
، فَإِذَا هُوَ بِمِثْلِ الْغُلَامِ
الْمُحْتَلِمِ ، فَسَلَّمَ عَلَيْهِ
فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ ، فَقَالَ
: أَجِنِي
أَمْ إِنْسِيُّ ؟ فَقَالَ : بَلْ
جِنِّيٍّ : فَقَالَ
: أَرِنِي
يَدَكَ ! فَأَرَاهُ
، فَإِذَا يَدُ كَلْبٍ وَشَعَرُ كَلْبٍ
! فَقَالَ
: هَكَذَا
خَلْقُ الْجِنَ . فَقَالَ
: لَقَدْ
عَلِمَتِ الْجِنُّ أَنَّهُ لَيْسَ فِيهِمْ
رَجُلٌ أَشَدُّ مِنِي ! قَالَ
: مَا
جَاءَ بِكَ ؟ قَالَ : أُنْبِثْنَا
أَنَّكَ تُحِبُّ الصَّدَقَةَ ، فَجِئْنَا
نُصِيبُ مِنْ طَعَامِكَ ! قَالَ
: مَا
يُجِيرُنَا مِنْكُمْ ؟ قَالَ :
تَقْرَأْ آيَةَ
الْكُرْسِيَ مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ
( اللهُ
لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
، قَالَ : نَعَمْ
. قَالَ
: إِذَا
قَرَأْتَهَا غَدْوَةً أُجِرْتَ مِنَّا
حَتَّى تُمْسِيَ ، وَإِذَا قَرَأْتَهَا
حِينَ تُمْسِي أُجِرْتَ مِنَّا حَتَّى
تُصْبِحَ . قَالَ
أَبَيُّ : فَغَدَوْتُ
إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ
بِذَلِكَ ، فَقَالَ :صَدَقَ
الْخَبِيثُ"
“Muhammad bin Shalih bin Haani telah menceritakan kepadaku, Ibrahim
Ishaq bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, Harun bin Abdullah
telah menceritakan kepada kami, Abu Dawud Ath-Thayalisi telah
menceritakan kepada kami, Harb bin Syaddad telah menceritakan kepada
kami, dari Yahya bin Abu Katsir, Al-Hadhramiy bin Laahiq telah
menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Amr bin Ubay bin Kaab, dari
kakeknya, Ubay bin Ka’ab Ra, bahwa ia punya tempat
pengeringan/penumbukan kurma, maka ia dapati isinya berkurang. Lalu
ia menjaganya pada suatu malam, ternyata ia dapati suatu makhluk
yang menyerupai anak mencapai balig. Lalu ia salam padanya, maka ia
menjawab salam itu. Lalu ia bertanya, “Apakah anda Jin atau
manusia?” Ia menjawab, “Jin” Ia berkata lagi, “Tolong
perlihatkan tanganmu padauk!” Lalu ia memperlihatkannya, ternyata
tangan anjing dan berbulu anjing. Lantas ia berkata, “Apakah
demikian penciptaan bangsa jin?” Lalu ia menjawab, “Sungguh
bangsa jin tahu, bahwa tidak ada seseorang di kalangan mereka yang
lebih kuat dariku.” Ia bertanya, “Kabar apa yang engkau bawa?”
Ia menjawab, ‘Saya akan mengabarkan pada anda bahwa anda suka
bersedekah, maka kami datang mengambil makananmu” Ia bertanya lagi,
“Apa yang melindungi kami dari kalian?” Ia berkata, “Anda baca
ayat Kursi dari surat Al-Baqarah: “Allaahu Laa Ilaaha Illaa Huwa
Al-Hayyu Al-Qayyuum” Ia berkata, “Baik” Ia berkata lagi,
“Apabila anda membacanya di waktu pagi niscaya anda dilindungi dari
kami hingga waktu petang, dan apabila anda membacanya di waktu
petang niscaya anda dilindungi dari kami hingga waktu pagi” Ubay
berkata, “Maka waktu pagi aku berangkat menghadap Rasulullah saw.
lalu aku kabarkan kepada beliau tentang hal itu. Maka beliau
bersabda, “Makhluk keji itu benar” HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak,
I: 561, No. 2072
Status Hadis
قال الحاكم :
هَذَا حَدِيثٌ
صَحِيحُ الْإِسْنَادِ ، وَلَمْ يُخَرِجَاهُ
Al-Hakim berkata, "Ini adalah hadis shahih sanadnya, dan
keduanya (Al-Bukhari-Muslim) tidak meriwayatkannya"
(Al-Mustadrak, I: 561)
Hadis ini diriwayatkan pula oleh An-Nasai (As-Sunan Al-Kubra, IX:
352, No. 10.730, IX:352, No. 10.731, IX:353, No. 10.732), Ibnu Hiban
(Shahih Ibnu Hiban, III: 63, No. 784), Adh- Dhiya Al-Maqdisiy
(Al-Ahadits Al-Mukhtarah, IV: 33, No. 1260, IV: 34, No. 1261, IV: 37,
No. 1262). Ath-Thabrani (Al-Mu'jam Al-Kabir, I: 201, No. 541)
Melalui rawi yang sama, yaitu Yahya bin Abu Katsir, namun terdapat
kerancuan (idhtirab) pada jalur yahya baik sanad maupun matannya.
I.
Aspek Sanad
Versi I: Aban bin Yazid, Harb bin Syadad, dan Syaiban bin Abdurrahman
dari Yahya, dari AlHadhrami bin Laahiq, dari Muhammad bin Ubay bin
Ka’ab, dari Ubay bin Ka’ab
Versi II: Abu ‘Amr bin Al-Awza’I, dari Yahya, dari Abdullah
(bukan Muhammad) bin Ubay bin Ka’ab, dari Ubay bin Ka’ab
Versi III: Yahya, dari ‘Abdah bin Abu Lubabah (tidak langsung dari
Abdullah), dari Abdullah bin Ubay bin Ka’ab, dari Ubay bin Ka’ab
Versi IV: Yahya, dari Ath-Thufail bin Ubay bin Ka’ab (bukan dari
Abdullah dan Muhammad), dari Ubay bin Ka’ab
II.
Aspek Matan
Versi Yahya dari Thufail bin Ubay bin Ka'ab (HR. An-Nasai dan Ibnu
Hiban) dengan redaksi
قَالَ أَبَيٌّ
: فَمَا
الَّذِي يُجِيرُنَا مِنْكُمْ ؟ قَالَ :
هَذِهِ الْآيَةُ
: آيَةُ
الْكُرْسِيَ ، ثُمَّ غَدَا أَبَيٌّ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ، فَأَخْبَرَهُ ، فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : صَدَقَ
الْخَبِيثُ - رواه
النسائي في "الكبرى"
(٣٥٢/٩)
برقم:
(١٠٧٣٠)
، فَمَا الَّذِي
يَحْرِزُنَا مِنْكُمْ ؟ فَقَالَ :
هَذِهِ الْآيَةُ
، آيَةُ الْكُرْسِي ، قَالَ :
فَتَرَكْتُهُ
. وَغَدَا
أَبَيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ
، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَدَقَ
الْخَبِيثُ - رواه
ابن حبان في "صحيحه"
(٣ / ٦٣)
برقم:
(٧٨٤)
Versi Yahya dari Abdah bin Abu Lubabah (HR. Ad-Dhiya Al-Maqdisi)
dengan redaksi
فَقَالَ لَهُ
أُبَيٌّ : فَمَا
الَّذِي يُجِيرُنَا مِنْكُمْ ؟ قَالَ :
هَذِهِ الْآيَةُ
آيَةُ الْكُرْسِيَ ، ثُمَّ غَدَا إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ ، فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : صَدَقَ
الْخَبِيثُ - رواه
الضياء المقدسي في "الأحاديث
المختارة" (٤
/ ٣٧)
برقم:
(١٢٦٢)
Versi Yahya dari Hadhrami, dari Muhammad bin Ubay bin Ka'ab (HR.
Al-Hakim, An-Nasai, Adh-Dhiya Al-Maqdisi, Ath-Thabrani), antara lain
dengan redaksi
قَالَ :
مَا يُجِيرُنَا
مِنْكُمْ ؟ قَالَ : تَقْرَأُ
آيَةَ الْكُرْمِي مِنْ سُورَةِ الْبَقَرَةِ
{ اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ ، قَالَ : نَعَمْ
. قَالَ
: إِذَا
قَرَأْتَهَا عَدْوَةً أُجِرْتَ مِنَّا
حَتَّى تُمْسِيَ ، وَإِذَا قَرَأْتَهَا
حِينَ تُمْسِي أُجِرْتَ مِنَّا حَتَّى
تُصْبِحَ . قَالَ
أَبَيٍّ : فَغَدَوْتُ
إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ
بِذَلِكَ ، فَقَالَ : صَدَقَ
الْخَبِيثُ" - رواه
والحاكم في "مستدركه
" ( ١
/ ٥٦١)
برقم:
(٢٠٧٢)
Riwayat versi Abdah dan Thufail menunjukan bahwa pembacaan ayat Kursi
itu tidak berhubungan dengan dzikir waktu pagi dan petang. Sementara
versi Hadhrami berhubungan dengan dzikir waktu pagi dan petang. Mana
Riwayat yang benar?
Sekiranya tidak dapat dipastikan mana yang kuat (Raajih), maka hadis
demikian dikategorika dhaif Mudhtarrib sebab terjadinya Idhtirab
Hadis Mudhtarib adalah hadis yang diriwayatkan secara berlainan
tetapi sama dari segi kekuatan sehingga tidak dapat diselaraskan
antara satu sama lain. (Taisir Mushthalah Al-Hadits, hlm. 59)
Namun sekiranya dapat dipastikan mana yang kuat (Raajih), maka hadis
yang kalah (marjuuh) dikategorikan hadis syaadz. Menurut Syekh
Al-Albani, tambahan keterangan waktu pagi dan petang dikategorikan
syaadz (Ash-Shahihah, VII: 743)
حكم الألباني
في الصحيحة (٧٤٣/٧)
رقم:
(٣٢٤٥)
على زيادة الصباح
والمساء بالشذوذ
Dengan demikian, yang benar adalah versi Abdah dan Thufail bahwa
pembacaan ayat Kursi itu tidak berhubungan dengan dzikir waktu pagi
dan petang
Kesimpulan:
1.Menetapkan pembacaan ayat kursi pada dzikir waktu pagi dan petang
tidak berdasarkan hadis maqbul (diterima)
2. Pembacaan ayat kursi sesuai hadis shahih tidak dibatasi oleh waktu
tertentu
7.
Dzikir Pagi & Petang Selesai Majelis ?
Dzikir Dengan QS. ASH-SHAFFAT:
180-182 Selesai Majelis
عَنِ الشَّعْبِي،
قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَنْ
سَرَّهُ أَنْ يَكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ
الْأَوْفَى مِنَ الْأَجْرِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، فَلْيَقُلْ آخِرَ مَجْلِسِهِ
حِينَ يُرِيدُ أَنْ يَقُومَ:
سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
- رواه
إبن أبي حاتم -
Dari asy-Sya'bi, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda,
'Barangsiapa ingin diberikan timbangan dengan timbangan yang penuh
dengan pahala pada hari kiamat, maka hendaklah di akhir majlisnya
ketika hendak bangkit ia mengucapkan: "subhaana rabbika rabbil
'izzati 'amma yashifuun wa salaamun 'alal mursaliin wal hamdulullaahi
rabbil 'aalamiin"." HR. Ibnu Abu Hatim, Tafsir Ibnu Abu
Hatim, 12: 125
Hadis ini dhaif dengan dua sebab:
Pertama, Mursal (terputus sanadnya) karena diriwayatkan oleh
Asy-Sya'bi (Amir bin Syaraahil) langsung dari Nabi saw. tanpa melalui
rawi generasi shahabat, sementara Asy-Sya'bi adalah generasi Tabi'in
yang lahir masa kekhalifahan Umar bin Khatab tahun 21 H/641 M dan
wafat 103 H/723 M
Kedua, padanya terdapat rawi Yunus bin Abu Ishaq As-Sabi'iy, yang
diperselisihkan oleh para ulama, baik pribadinya maupun periwayatan
dari ayahnya (Abu Ishaq As-Sabi'iy). Karena itu, Imam Ahmad
mendhaifkan hadis Yunus dari Ayahnya.
Kesimpulan
Dzikir dengan QS. ASH-SHAFFAT: 180-182 selesai Majelis hadisnya dhaif
Kesimpulan Umum
أن الحديث لا
يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وطرقه
وأسانيده لا يقوي بعضها بعضا
لأنها شديدة
الضعف ، ورواتها فيهم الكذاب والمتهم
ومنكر الحديث ، فمثلها لا يتقوى.
Hadis itu (Dzikir dengan QS. ASH-SHAFFAT: 180-182) tidak sah dari
Nabi saw. Jalur dan Sanadnya tidak dapat menguatkan satu sama lain
karena sangat dhaif, dan para rawinya ada tukang dusta (Kadzdzaab),
tertuduh dusta (Muttaham bil Kadzib) dan Munkar Al-hadits. Maka hadis
semisal ini tidak akan naik derajat menjadi kuat.
8.
Dzikir Al-Fatihah
Keutamaannya :
1. Dia disebut A’zhamus Surah (Surat yang paling agung) (HR.
Bukhari No. 4204, 4370, 4426, 4720. Abu Daud No. 1458. Ad Darimi
dalam Sunannya No. 3371),
2. Sebagai Ruqyah, sehingga dibolehkan membacanya jika kita sedang
sakit (Bukhari No. 2156, 4721, 5404, 5417),
3. Surat istimewa yang tidak pernah Allah Ta’ala turunkan
sebelumnya dalam Taurat, zabur, dan Injil, bahkan tidak ada yang
sepertinya di dalam Al Quran sendiri (HR. At Tirmidzi No. 2875, dari
jalur Abu Hurairah. Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. Imam
Ad Darimi No. 3373. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 2875, 3125. Imam Ahmad,
dalam Musnadnya, No. 20180, 20181. dari Ubai bin Ka’ab. Ibnu Hibban
No. 775, dari Ubai bin Ka’ab),
4. Disebut sebagai induknya Al Quran (HR. Bukhari No. 4427. Ahmad No.
9788, Ad Darimi No. 3374).
Bantahan :
1. Hadits diatas tidak ada yang menganjurkan untuk membaca al-fatihah
untuk dibaca sebagai pembukaan dzikir pagi dan petang atau pun
ditunjukkan sebagai dzikir pagi dan petang.
2. Hadits-hadits di atas hanya menunjukkan keutamaan al-fatihah bukan
menganjurkan membaca di pagi dan petang.
3. A’zhamus Surah dipahami sebagai surat yang paling agung karena
al-fatihah dibaca diulang-ulang dan memilki makna bacaan yang agung.
4. Sebagai ruqyah berarti dibacakan didepan orang yang sakit, dan
bukan di tempat yang jauh karena asbabul wurud hadits tentang
al-fatihah sebagai ruqyah hanya disebutkan dilakukan di depan orang
yang sakitnya bukan di tempat yang tidak terjangkau. Ruqyah
al-fatihah itu adalah berdoa kepada Allah untuk kesembuhan orang yang
sakit tersebut.
5. Surat istimema yang tidak pernah Allah Ta’ala turunkan
sebelumnya dalam Taurat, zabur, dan Injil, bahkan tidak ada yang
sepertinya di dalam Al Qur’an sendiri maksudnya lafadznya tidak ada
yang yang semakna.
6. Induk Al-quran berarti terhimpun seluruh makna yang terdapat di
al-Qur’an, mengandung maksud dasar yang global, baik pokok-pokok
agama maupun cabangnya.
9.
Membaca 10 ayat dari Surat Al Baqarah (Ayat 2-5, 255-257,
284-286)
Keutamaannya :
1. Rumah dijauhi setan (HR Ad Darimi, No. 3382. Imam Ath Thabarani,
Al Mu’jam Al Kabir, No hadits. 8592. Imam Nuruddin Al Haitsami
mengatakan: rijal (periwayat) hadits ini adalah shahih, hanya saja
Asy Sya’bi tidak mendengar langsung dari Ibnu Mas’ud. Lihat
Majma’ Az Zawaid, 10/118. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah), Mencukupi
(HR. At Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Fadhail Al Quran ‘an
Rasulillah Bab Maa Ja’a fi Akhiri Suratil Baqarah, No. 2881.
Katanya: hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih
wa Dha’if Sunan At Tirmidzi No. 2881)
1.
Riwayat ad-Darimi :
قَالَ عَبْدُ
اللَّهِ مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ
سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ لَمْ
يَدْخُلْ ذَلِكَ الْبَيْتَ شَيْطَانٌ
تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى يُصْبِحَ
أَرْبَعًا مِنْ أَوَّلِهَا وَآيَةُ
الْكُرْسِيِّ وَآيَتَانِ بَعْدَهَا
وَثَلَاثٌ خَوَاتِيمُهَا أَوَّلُهَا {
لِلَّهِ مَا فِي
السَّمَوَاتِ }
Abdullah berkata, Barang siapa yang membaca sepuluh ayat dari
surah Al-Baqarah pada malam hari, niscaya setan tidak akan masuk ke
dalam rumahnya pada malam itu hingga pagi hari. Yaitu empat ayat dari
awal surat, ayat kursi dan dua ayat setelahnya, serta tiga ayat
penutup surat, yaitu mulai dari ayat: LILLAAHI MAA FIS SAMAAWAATI…
(Kepunyaan Allahlah segala apa yang ada di langit…) ( ad-Darimi no.
3425)
عَنْ ابْنِ
مَسْعُودٍ قَالَ مَنْ قَرَأَ أَرْبَعَ
آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ
وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ وَآيَتَانِ بَعْدَ
آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَثَلَاثًا مِنْ
آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَمْ يَقْرَبْهُ
وَلَا أَهْلَهُ يَوْمَئِذٍ شَيْطَانٌ
وَلَا شَيْءٌ يَكْرَهُهُ وَلَا يُقْرَأْنَ
عَلَى مَجْنُونٍ إِلَّا أَفَاقَ
dari Ibnu Mas'ud ia berkata, Barang siapa yang membaca empat ayat
dari awal surah Al-Baqarah, ayat kursi, dua ayat setelahnya dan tiga
ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, maka tidak ada satu setan pun
yang mendekati dirinya dan keluarganya pada hari itu, serta tidak ada
pula sesuatu pun yang ia benci (mendatangkan madharat baginya).
Tidaklah dibacakan ayat-ayat tersebut kepada orang gila, kecuali ia
pasti sadar. (ad-Darimi no. 3426)
Bantahan :
1. Kedua hadits diatas memiliki Isnad yang munqathi menurut husain
salim asad ad daroni. Karena di dalam sanadnya terputus antara
Abdullah bin Mas'ud yaitu sahabat Nabi SAW. Dengan amir bin syarahil.
Padahal mereka tidak pernah bertemu.
2. Hadits di atas mauquf hanya sampai berhenti di sahabat tidak
sampai derajat marfu’ maka tetap saja tidak bisa diamalkan.
3. Tidak di sebutkan khusus pagi dan petang,
2. Riwayat at-Tirmidzi
dari Abu Mas'ud Al Anshari ia
berkata, Rasulullah ﷺ
bersabda, "Barang siapa membaca dua ayat terakhir
dari surah Al-Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan
mencukupinya." Abu Isa berkata, Hadits ini hasan
shahih.(Tirmidzi no. 2881)
dari Nu'man bin Basyir dari
Nabi ﷺ,
beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menulis Al-Qur'an
sejak dua ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Allah
menurunkan dua ayat darinya sebagai penutup surah Al-Baqarah. Apabila
keduanya dibaca dalam rumah selama tiga malam, niscaya setan tidak
akan mendekati rumah tersebut." Abu Isa berkata, Hadis ini hasan
gharib.(HR.Tirmidzi no. 2882)
Bantahan :
1. Hadits rriwayat Tirmidzi Shahih tetapi tidak disebutkan adanya
pengkhususan pagi hari atau sore hari.
2. Makna kedua hadits di atas yaitu dibaca di malam hari yaitu 2 ayat
terakhir surat al-baqarah.
Kesimpulan
1. Membaca 10 ayat dari Surat Al Baqarah haditsnya lemah dan tidak
ada pengkhususannya di waktu pagi dan petang
2. Adapun 2 ayat terakhir surat al-baqarah dibaca ketika malam bukan
di pagi hari atau sore hari.
10.
Membaca Surat Ali Imran ayat 1-2 & Membaca
surat Thaha ayat 111-112
Keutamaannya :
Terdapat asma Allah yang agung bersama Al Baqarah, Ali Imran, Thaha
(Hadits Hasan oleh Syaikh Al-Bani. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah
No. 3856, As Silsilah Ash Shahihah No. 746), juga riwayat lain, (HR.
Abu Daud No. 1496, At Tirmidzi No. 3478, katanya: hasan shahih. Ad
Darimi No. 3389, Ahmad No. 27611)
عَنْ الْقَاسِمِ
قَالَ اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ الَّذِي
إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ فِي سُوَرٍ
ثَلَاثٍ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرَانَ
وَطه
dari Al Qasim dia berkata, "Nama Allah yang Agung yang apabila
berdoa dengan-Nya akan dikabulkan, yaitu di dalam tiga surat;
Al-Baqarah, Ali 'Imran dan Ta Ha."(HR. Ibnu Majah 3856)
jalur lain dari Al Qasim dari Abu Umamah dari Nabi ﷺ
seperti di atas."
Makna hadits :
1. Asma Allah yang agung yaitu “ al-Hayyu wal-Qayyum” dalam ayat
kursi, ali imran ayat 2, dan thaha ayat 111
2. Berdoa dengan asma tersebut ketika berdoa akan mudah diijabah oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala
3. Hadits di atas bukan dianjurkan membaca ayat tersebut tetapi
teka-teki dari Rasulullah kepada para sahabat untuk mencari asma
Allah yang agung tersebut dan digunakan ketika berdoa.
4. Hal ini berarti bukan dimaksudkan untuk dzikir pagi dan petang
tetapi untuk bertawasul dengan asma Allah SWT.
12.
Membaca surat Al Kafirun ayat 1-6
Keutamaannya : “Bahwa dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sesuatu
yang aku ucapkan jika aku berbaring di atas kasurku.” Beliau
bersabda: “Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun, sesungguhnya itu
merupakan pemutus dari kesyirikan.” (HR. At Tirmidzi No. 3403.
Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At
Tirmidzi No. 3403. Juga diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al
Kabir No. 2150, dari Jabalah bin Haritsah). Demikian keutamaan surat
Al Kafirun, dan tak satu pun yang menyebutkan keutamaannya dibaca
pagi dan sore secara rutin.
عَنْ فَرْوَةَ
بْنِ نَوْفَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَقُولُهُ
إِذَا أَوَيْتُ إِلَى فِرَاشِي قَالَ
اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ
dari Farwah bin Naufal radhiallahu'anhu bahwa ia datang kepada Nabi?
ﷺ dan
berkata, wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku ucapkan
apabila aku menuju ke tempat tidurku! Beliau berkata, "Bacalah
Qul yaa ayyuhal kaafiruun, karena surat tersebut adalah sikap
berlepas diri dari kesyirikan." (HR. At-Tirmidzi no. 3403)
Makna Hadits di atas :
1. Hadits di atas merupakan keutamaan surat al-kafirun yang
dianjurkan dibaca ketika mau tidur
2, Bukan bacaan untuk dzikir pagi dan petang
13.
Membaca Dzikir Pujian
Lafadz :
يا ربِّ لك الحمد
كما ينبغي لجلال وجهك و لعظيم سلطانك
artinya :
“Ya Tuhanku, Segala puji bagiMu sebagaimana seyogyanya kemuliaan
wajahMu dan keagungan kekuasaanMu.”
Keutamaannya : Dua malaikat tidak sanggup mencatatnya dan tidak tahu
cara mencatat pahala ucapan ini (saking besarnya). Diriwayatkan (1)
Imam Ibnu Majah dalam Sunannya, Kitabul Adab Bab Fadhlu Al Hamidin,
No. 3801. (2) Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 13118.
Juga dalam Al Mu’jam Al Awsath, No. 11305. Syamilah. (3) Imam Al
Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 4215. Syamilah. (4) Imam Alauddin Al
Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 5127, 6441. (5) Abul Fadhl As
Sayyid Abul Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’, No. 8100. Dalam
sanad hadits ini terdapat Qudamah bin Ibrahim, dalam Az Zawaid
disebutkan bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam At Tsiqat
(orang-orang terpercaya). Dan, Shadaqah bin Basyir belum ada orang
yang menjarh (kritik)-nya, dan mentsiqahkannya. Sedangkan semua
perawi lainnya adalah tsiqat. (Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdul
Hadi As Sindi, Hasyiah ‘Ala Ibni Majah, No. 3791. Mawqi’ Ruh Al
Islam) Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini. (Shahih wa
Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3801).
Makna Hadits :
1. Hadits ini menjelaskan mengenai pujian kepada Allah dan malaikat
tidak mengerti cara menulisnya.
2. Hadits tidak menjelaskan dengan sharih(tegas) tentang dzikir pagi
dan sore
3. Seandainya hadits ini shahih pun tidak bisa dikhususkan pada
dzikir pagi dan sore.
14.
Membaca Doa Agar Terhindar dari Syirik
Diriwayatkan (1) Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 19606, (2) Thabarani
dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 3503, (3) Ibnu Abi Syaibah dalam Al
Mushannaf, Juz 7, Bab 61, No. 1, (4) Imam Al Bukhari dalam Tarikh Al
Kabir, Juz. 9, Hal. 58. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Syu’aib
Al Arnauth, lantaran kemajhul-an Abu Ali Al Kahili. Syaikh Al Albani
telah menilai hadits Abu Musa ini sebagai hasan li ghairih. (Shahih
At Targhib wat Tarhib No. 36) lantaran adanya penguat dari jalur Abu
Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu.
Hadits :
خَطَبَنَا أَبُو
مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا
الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ
النَّمْلِ فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ حَزْنٍ وَقَيْسُ بْنُ
المُضَارِبِ فَقَالَا وَاللَّهِ
لَتَخْرُجَنَّ مِمَّا قُلْتَ أَوْ
لَنَأْتِيَنَّ عُمَرَ مَأْذُونٌ لَنَا
أَوْ غَيْرُ مَأْذُونٍ قَالَ بَلْ أَخْرُجُ
مِمَّا قُلْتُ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ
يَوْمٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ
أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ
لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ
وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى
مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا
نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ
شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ
لِمَا لَا نَعْلَمُ
Abu Musa Al Asy'ari berkhotbah di hadpan kami, "Wahai
manusia takutlah kalian akan syirik (riya'), karena ia lebih halus
dari langkah semut." Kemudian berdirilah Abdullah bin Hazn dan
Qais bin Mudharib dan berkata, "Demi Allah, kamu jelaskan semua
apa yang kamu telah katakan atau kami benar-benar akan mendatangi
Umar baik diizinkan atau tidak (agar ia menghukummu atas
perkataanmu)." Abu Musa berkata, Bahkan, aku akan jelaskan apa
yang telah aku katakan. Pada suatu hari Rasulullah ﷺ
berkhotbah di hadapan kami, beliau bersabda, "Wahai
sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik (riya') karena ia
lebih halus dari langkah semut." Kemudian seseorang bertanya,
"Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus menghindarinya,
sementara ia lebih halus dari langkah semut?" Maka beliau
menjawab, "Bedoalah dengan membaca, 'ALLAHUMMA INNAA NA'UUDZU
BIKA MIN AN NUSYRIKA BIKA SYAIAN NA'LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA LIMAA LAA
NA'LAMU (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari
menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami meminta
ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).'"(HR.
Ahmad no. 18781)
Makna :
1. Hadits shahih dikuatkan dalam adabul mufrad bab
fadhlu du’a dari abu bakar as-shiddiq
2. Hadits ini tidak tegas menyebutkan dzikir dikhususkan pada pagi
dan sore hari
15.
Hadits Berdoa memohon keselamatan, dan berlindung dari kekufuran,
kefakiran dan adzab kubur :
حَدَّثَنِي
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ
أَنَّهُ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ
إِنِّي أَسْمَعُكَ تَدْعُو كُلَّ غَدَاةٍ
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي
اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ تُعِيدُهَا ثَلَاثًا
حِينَ تُصْبِحُ وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي
فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَدْعُو بِهِنَّ فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ
أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ قَالَ عَبَّاسٌ
فِيهِ وَتَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
عَذَابِ الْقَبْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ تُعِيدُهَا ثَلَاثًا حِينَ
تُصْبِحُ وَثَلَاثًا حِينَ تُمْسِي
فَتَدْعُو بِهِنَّ فَأُحِبُّ أَنْ
أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ قَالَ وَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا
تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
وَبَعْضُهُمْ
يَزِيدُ عَلَى صَاحِبِهِ
telah menceritakan kepadaku 'Abdurrahman bin Abu Bakrah ia
berkata kepada bapaknya, "Wahai bapakku, di waktu pagi aku
selalu mendengarmu berdoa, "ALLAAHUMMA 'AAFINII FII BADANII
ALLAAHUMMA 'AAFINII FII SAM'II ALLAAHUMMA 'AAFINII FII BASHARII LAA
ILAAHA ILLAA ANTA (Ya Allah, berikanlah keselamatan terhadap badanku,
berikanlah keselamatan terhadap pendengaranku, berikanlah keselamatan
terhadap penglihatanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain
Engkau). Engkau ulang-ulang hingga tiga kali baik di pagi dan sore
hari" Ia menjawab, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ
berdoa dengannya, maka aku berkeinginan untuk mengikuti
sunahnya." Abbas berkata (dengan riwayatnya) di dalam hadits
tersebut, "Dan kamu juga mengucapkan, "ALLAAHUMMA INNII
A'UUDZU BIKA MINAL KUFRI WAL FAQRI ALLAAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN
'ADZAABIL QABRI LAA ILAAHA ILLA ANTA (Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kekafiran dan kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi
selain Engkau). Kamu ulang-ulang hingga tiga kali baik di pagi dan
sore hari, lalu kamu berdoa dengannya, (ayah Athiyyah menjawab) Maka
aku ingin mengikuti sunnah beliau." Ia berkata, "Rasulullah
ﷺ bersabda,
"Beberapa doa bagi orang yang tertimpa musibah, "ALLAAHUMMA
RAHMATAKA ARJUU FALAA TAKILNII ILAA NAFSII THARFATA 'AININ WA ASHLIH
LII SYA`NII KULLAHU LAA ILAAHA ILLAA ANTA (Ya Allah ya Tuhanku, aku
mengharap rahmat-Mu, karena itu janganlah Engkau serahkan urusanku
kepada diriku sendiri (janganlah Engkau berpaling dariku) sekejap
mata, perbaikilah semua urusanku, tidak ada Tuhan yang berhak
disembah selain engkau). " dan sebagian perawi ada yang
menambahkan doa yang telah disebutkan. (HR. Abu Dawud :5090)
Di dalam hadits tersebut ada perawi bernama Ja’far bin Maimun. Dia
adalah seorang rowi yang suka salah dalam periwayatan, dari seluruh
penilaian para ahlu jarh dan ta’dil imam ibnu hajar memberika
penilaian padanya : “Shoduq Yukhty” (Kitab Taqribu At-Tahdzib:
Ibnu Hajar. No. 947, Hal 141. Cetakan Darul Rasyid : Suriah)
Dan dalam kitab 'Amalul al-yaum wa al-lail karya al-Imam An-Nasai disebutkan sanad di bawah ini :
أخبرنَا مُحَمَّد بن الْمثنى حَدثنَا أَبُو عَامر حَدثنَا عبد الْجَلِيل حَدثنِي جَعْفَر بن مَيْمُون حَدثنِي عبد الرَّحْمَن بن أبي بكرَة أَنه قَالَ لِأَبِيهِ
Telah memberi kabar kami Muhammad bin Al-Mutsanna , Telah berkata kepada kami 'abdul jalil, Telah berkata kepadaku ja'far bin maymun abdurahman bin abi bakrah bahwasanya ia berkata kepada ayahnya
Berkata juga an-Nasai mengenai hadits di atas :
قَالَ أَبُو عبد الرَّحْمَن جَعْفَر بن مَيْمُون لَيْسَ بِالْقَوِيّ
" Ja'far bin Maimun tidak kuat (dalam hafalan haditsnya)"(Kitab 'Amalul al-yaum wa al-lail linnasai : 382, no 571)
16.
Membaca Doa Agar Terhindar Dari Kesulitan
HR. Bukhari No. 364, 2736, 6002, Muslim No. 1365, Ahmad No. 12616, Al
Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 12535, Abu Ya’la No. 3703, Ath
Thabarani dalam Ad Du’a No. 1349, dan lainlain.
Hadits :
Makna hadits :
1. Dalam hadits ini Rasulullah senantiasa berdoa meminta perlindungan
dari kesulitan, dan keburukan pada dirinya.
2. Doa ini doa mutlak bika muqayyah (terikat waktu)
3. Doa ini tidak dikhususkan untuk pagi dan sore.
17.Membaca
Doa Permohonan Ilmu, Rizki, dan Amal
HR. Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54, Ibnu Majah no.
925. Syaikh ‘Abdul Qodir dan Syu’aib Al Arnauth menyatakan sanad
hadits ini hasan dalam tahqiq Zaadul Ma’ad 2/375.
Makna Hadits :
1. Doa ketika selesai shalat shubuh
2. Bisa dijadikan redaksi doa mutlak karena maknanya
3. Bukan dzikir khusus pagi.
4. Harus dibedakan dzikir khusus pagi dengan setelah shalat, karena
beda kekhususan niat.
18.Membaca
Istigfar (100x)
[25] HR. Bukhari dalam Fathul Bari (11/101, no. 6307) dan Muslim
(4/2075, no. 2702)
Makna Hadits :
1. Istigfar harian nabi 70 kali atau 100 kali
2. Dianjurkan istigfar 70 atau 100 kali setiap hari pada sembarang
waktu.
3. Tidak ada anjuran 100 kali di pagi hari dan 100 kali di sore hari.
Tetapi 100 kali 1 hari.
4. Boleh lebih tetapi tidak ada batasan, atau ketentuan jumlahnya.
19.
Membaca Doa Agar Hati Diteguhkan
Keutamannya: Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa
yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala
diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati
teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim,
dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)
Makna Hadits :
1. Doa mutlak memperteguh iman dan hati
2. Bukan doa khusus dzikir pagi dan sore.
20. Mengucapkan Tasbih dan Tahmid dalam jumlah tak terhingga
عَنْ جُوَيْرِيَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَإِسْحَقُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ بِشْرٍ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي رِشْدِينَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ قَالَتْ مَرَّ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ صَلَّى صَلَاةَ الْغَدَاةِ أَوْ بَعْدَ مَا صَلَّى الْغَدَاةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ خَلْقِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ رِضَا نَفْسِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ زِنَةَ عَرْشِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ
dari Juwairiyah bahwasanya Nabi ﷺ keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai salat Subuh dan dia tetap di tempat salatnya. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ kembali setelah terbit fajar (pada waktu Duha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat salatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya, "Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu?" Juwairiyah menjawab, 'Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.' Kemudian Rasulullah ﷺ berkata, 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu 'SUBHAANALLOOHI WABIHAMDIHI, 'ADADA KHOLQIHI WARIDHOO NAFSIHI WAZINATA 'ARSYIHI WAMIDAADA KALIMAATIHI."Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridhaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya.' Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ishaq dari Muhammad bin Bisyr dari Mis'ar dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Abu Risydin dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah dia berkata, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ melewatiku ketika beliau usai salat Subuh. -lalu dia menyebutkan redaksi yang serupa. Namun beliau dengan menggunakan kalimat, 'SUBHANALLAH 'ADADA KHALQIHI, SUBHANALLAH RIDHO NAFSIHI, SUBHANALLAH ZINATA 'ARSYIHI, SUBHANALLAH MIDADA KALIMAATIHI. Mahasuci Allah sebanyak hitungan makhluk-Nya. Mahasuci Allah menurut keridhaan-Nya. Mahasuci Allah menurut kebesaran arasy-Nya. Mahasuci Allah sebanyak paparan kelimat-Nya.'(HR. Muslim : 2726 dalam kitab muqoddimah, Abu Daud 1503, riwayat lain An-Nasai dalam kitab 'amalul yaum wa al-lail : 383, no 574-577)
Keterangan :
1. Dibaca tiga kali
2. Hadits Shahih tetapi tidak ada penyebutan pagi dan sore hari
3. Dibaca setelah sholat subuh
Demikian dari saya
Semoga bermanfaat
Wallahu A’lam Bishawwab