Tampilkan postingan dengan label Fiqih dan Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih dan Ibadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2023

Adakah Larangan Mengkhususkan Ibadah ?

 


Alhamdulillah, pada pembahasan kali ini saya akan memaparkan mengenai "adakah larangan mengkhususkan ibadah ?". Banyak orang yang menganggap pengkhususan ibadah itu boleh, karena dianggap tidak ada larangannya. Akhirnya orang-orang tidak memperdulikan pertimbangan kebenaran ibadah yang dilakukan oleh orang lain. Hal itu berdampak pada kurangnya hubungan antar sesama dalam rangka amar ma'ruf dan nahyi munkar yang artinya menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang kepada yang munkar. Oleh karena itu saya paparkan dalil serta penjelasan berkaitan dengan hal tersebut, yang bisa dilihat berikut ini:


ARTI MENGKHUSUSKAN IBADAH

Menurut KBBI, menyatakan bahwa khusus artinya adalah khas; istimewa; tidak umum. Contoh dari kata khusus adalah "untuk anak buta tersedia buku bacaan khusus".

Sedangkan Ibadah artinya perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt., yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Berarti Mengkhususkan ibadah yakni menjadikan perbuatan istimewa untuk menyatakan bakti kepada Allah Swt., yang di dasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Untuk mengetahui perintah dan larangan-Nya perlu pedoman berupa wahyu dari Allah Swt.. Wahyu tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu berupa al-Qur'an dan as-Sunnah. al-Qur'an merupakan  kitab suci terakhir yang diturunkan ke bumi, sedangkan as-Sunnah yaitu pedoman atau petunjuk selain al-Qur'an berupa penyandaran kepada Rasulullah baik perbuatannya, perkataannya, persetujuannya, sifatnya, serta diamnya.


IBADAH YANG KHUSUS DAN UMUM

Ibadah dibagi berdasarkan sifat ibadahnya, yaitu terdiri dari ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus dan umum termasuk ke dalam berbagai jenis ibadah. Contoh :

Shalat

Shalat dapat dibagi berdasarkan tingkat perintah kewajibannya :

A. Shalat Fardhu, yaitu shalat yang diwajibkan dalam waktu tertentu untuk dilaksanakan, contoh sholat 5 waktu, yaitu shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya.

B. Shalat Sunnah, yaitu shalat yang tidak dosa bila meninggalkannya, tetapi mendapat pahala bila dilaksanakan, contoh sholat rawatib, sholat tahiyatul masjid, dsb.

Berdasarkan pembagian jenis shalat sudah terlihat bahwasanya terdapat pengkhususan jenis ibadah. Indikasi dari hal tersebut adalah bahwasanya shalat shubuh tidak mungkin masuk ke dalam shalat sunnah karena shalat shubuh hanya khusus bagi jenis shalat fardhu, sedangkan shalat rawatib khusus untuk shalat sunnah. Tidak mungkin shalat shubuh menjadi tidak wajib, padahal shalat shubuh adalah salahsatu shalat yang diperintahkan kewajibannya. Hal ini pula mengindikasikan permbagian yang sama kepada jenis ibadah lain yaitu shaum, sedekah, haji, umroh, dll.

Shalat bila dibagi berdasarkan rakaatnya :

Shalat Shubuh : 2 rakaat

Shalat Dzuhur : 4 rakaat

Shalat Ashar : 4 rakaat

Shalat Maghrib : 3 rakaat

Shalat Isya : 4 rakaat

setiap sholat memiliki kekhususan rakaatnya tersendiri, bila shalat shubuh dijadikan 3 rakaat maka sholat shubuh tidak lah khusus untuk 2 rakaat tetapi 3 rakaat juga, akan tetapi tidak begitu mudahnya diubah. Karena ibadah itu berdasarkan dalil naqli atau berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah.

Shaum

Shaum terdiri dari shaum wajib dan sunnat, shaum wajib yaitu shaum ramadhan, sedangkan shaum sunnat yaitu shaum hari senin dan hari kamis, ayyamul bidh, shaum arafah, shaum pada 10 muharram, dsb. hal ini mengindikasikan bahwa shaum arafah tidak bisa menjadi wajib karena shaum arafah adalah shaum khusus yang hukumnya sunnat.

Sedekah

Sedekah bersifat wajib manakala ia menjadi zakat, sedangkan diluar zakat adalah sedekah sunnat. tidak mungkin zakat menjadi sunnat, padahal sudah ada perintah wajibnya :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ ﴿ ٤٣﴾

artinya :
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku´lah beserta orang-orang yang ruku´.(al-Baqarah : 43)

sebagaimana kaidah fiqih :
الأَصْلُ فِي الْأَمْرِ لِلْوُجُوْبِ وَ لَا تَدُلُّ عَلَى غَيْرِهِ إِلَا بِقَرِيْنَة
Artinya :
" Perintah pada dasaranya menunujukkan arti wajib, kecuali adanya qarinah(tanda) yang memalingkan arti wajib tersebut."

Maka fiqih dari menunaikan zakat adalah berhukum wajib.

LARANGAN PENGKHUSUSAN IBADAH


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Artinya :

dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan salat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya."(HR.Muslim :1145, kitab shaum)

Berdasarkan hadits di atas tidak boleh mengkhususkan shalat malam dan shaum di hari jum'at atau malam jum'at. Hal ini bukan berarti shalat malam dan shaum itu dilarang hanya saja, tidak ada perintah untuk mengkhususkan di hari jum'at.

Apakah shalat malam dikhususkan di hari kamis dilarang juga ?

iya, karena shalat malam mengkhususkan pada hari jum'at saja dilarang, padahal hari jum'at adalah sayyidul aayaam atau disebut hari yang paling agung dari pada hari lainnya, akan tetapi tetap saja dilarang apalagi mengkhususkan pada hari kamis.

YANG DILAKUKAN RASULULLAH


عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ

Alqamah berkata 'saya bertanya kepada Aisyah, "Apakah Rasulullah ﷺ mengkhususkan hari tertentu?" dia menjawab, "Perbuatan beliau bersifat kontinu dan siapakah diantara kalian yang mampu seperti halnya Rasulullah ﷺ mampu (melaksanakannya)?"(ahmad :23147)

dalam riwayat lain :


عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ قَالَ قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطِيعُ

dari Alqamah ia berkata, Saya bertanya kepada Ummul mukminin Aisyah, "Wahai Ummul mukminin, bagaimanah amalan Rasulullah ﷺ? Apakah beliau mengkhususkan suatu amalan pada hari tertentu?" Aisyah menjawab, "Tidak, amalan beliau adalah terus menerus. Dan siapa pun kalian, pasti akan mampu melakukan amalan yang Rasulullah ﷺ mampu melakukannya."(muslim :784, kitab salatnya musafir dan penjelasan tentang qashar)

Rasulullah bila melakukan amalah sunnah beliau kontinyu, bila beliau terdapat halangan seperti adanya rukhsah ataupun maslahat yang lebih besar, maka beliau mengikuti rukhsah dan maslahat yang lebih besar. Contoh dari permasalah tersebut :

MASLAHAT PADA SHALAT DHUHA

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ

dari 'Aisyah, katanya, "Sama sekali belum pernah aku melihat Rasulullah ﷺ melakukan salat sunnah dhuha, namun aku melakukan salat sunnah dhuha. Rasulullah ﷺ meninggalkan amalan yang sebenarnya beliau suka melakukannya, karena beliau khawatir jangan-jangan para sahabat menirunya sehingga amalan itu diwajibkan."(Muslim :718, bab shalat sunnah dhuha)

MASLAHAT PADA SHALAT TARAWIH

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ

'Aisyah radhiallahu'anha mengabarkannya bahwa Rasulullah ﷺ pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan salat di masjid. Maka orang-orang kemudian ikut salat mengikuti salat beliau. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut salat dengan beliau. Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi lalu Rasulullah ﷺ keluar untuk salat dan mereka ikut salat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk salat Subuh. Setelah beliau selesai salat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak kemudian beliau membaca syahadat lalu bersabda, "Amma ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya." Kemudian setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia, tradisi salat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu.(HR. Bukhori : 2012)

Disini Nabi menghindari mafsadat dengan memilih maslahat yang lebih besar dengan meninggalkan kebiasaan beliau.

RUKHSOH SHALAT SUNNAH PADA SAAT SAFAR


عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ مَرِضْتُ مَرَضًا فَجَاءَ ابْنُ عُمَرَ يَعُودُنِي قَالَ وَسَأَلْتُهُ عَنْ السُّبْحَةِ فِي السَّفَرِ فَقَالَ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ فَمَا رَأَيْتُهُ يُسَبِّحُ وَلَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا لَأَتْمَمْتُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }

dari Hafs bin 'Ashim katanya, "Aku pernah sakit keras sehingga Ibnu Umar datang mengunjungiku." Hafsh bin 'Ashim berkata, "Aku lalu bertanya kepada beliau tentang salat sunnah ketika safar." Ibnu Umar menjawab, "Aku pernah menemani Rasulullah ﷺ ketika safar, namun aku tidak pernah melihat beliau melakukan salat sunnah. Sekiranya aku melakukan salat sunnah, niscaya aku akan menyempurnakan salatku, karena Allah Ta'ala berfirman; Sungguh pada diri Rasulullah terdapat keteladanan yang baik bagimu." QS. Ahzab; 21.(H.R Muslim : 689)

Mengikuti Nabi merupakan mengikuti keteladan yang baik, seorang muslim yang baik itu adalah yang mengikuti Nabi dan menjauhi hawa nafsunya.

MENGKHUSUSKAN IBADAH YANG DIPERBOLEHKAN

Syarat pengkhususan ibadah yang diperbolehkan yaitu :

1. Ibadah itu bersifat mutlak 

2. Ditentukan berdasarkan sebab akal sehat

3. Bila Bukan bersifat ibadah (bersifat  duniawi) tetapi bernilai ibadah

Contoh :

نْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيم

dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, ia berkata, "Nabi ﷺ bersabda, "Ada dua kalimat yang disukai Ar Rahman, ringan di lisan dan berat di timbangan, yaitu SUBHANALLAH WABIHAMDIHI dan SUBHAANALLAAHIL'AZHIIM."(HR. Bukhori : 7563)

Dzikir di atas boleh diucapkan ketika ia senggang, seperti ketika memasak, atau ketika berjalan ke suatu tempat. Dzikir di atas merupakan ibadah. Adapun contoh amalan dunia yang bernilai ibadah yaitu :

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

dari Ibnu Mas'ud berkata, bahwa Nabi ﷺ selalu memilah-milah hari yang tepat bagi kami untuk memberikan nasihat, karena khawatir rasa bosan akan menghinggapi kami.(HR. Bukhori :68)


عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

dari Abu Wa'il berkata, bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau Anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari" dia berkata, "Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi ﷺ memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami".(H.R Bukhori : 70)

Nabi dan para sahabat memilih waktu untuk tholabul ilmi, dan mengkhususkan waktu tertentu karena khawatir bosan.

KESIMPULAN

   Semua ibadah yang ditentukan waktunya, maka tidak boleh diubah waktunya. Karena setiap ibadah yang sudah ditentukan waktunya sudah ditetapkan kekhususannya oleh syariat. Orang yang mengubah ketetapan syariat maka ia telah membuat syariat baru. Adapun penentuan khusus waktu berdasarkan akal sehat seperti karena khawatir bosan bila ceramah atau bermajelis ilmu dilakukan setiap hari maka ia diperbolehkan, yang terpenting adalah mengutamakan kemaslahatan.



Kamis, 27 Juli 2023

Hukum Membaca al-Fatihah di Setiap Keadaan dan Setiap Doa ?



alhamdulillahirabbil 'alamin yang telah memberikan kita petunjuk sehingga kita bisa terus menimba ilmu terus mencari cahaya dan pertolongannya agar memudahkan kita menuju nsurga-Nya aamiin.asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadarasulullah. 'amma ba'du
   Seiring banyaknya orang yang ketika berdoa hanya bertumpu pada satu surat saja surat al-fatihah yang asal usulnya perlu dicari tahu. Banyak orang yang mengawali doa dengan al-fatihah ataupun setelahnya.
Oleh karena itu saya akan menjelaskan beberapa alasan tentang pengamalan dan penggunaan al-fatihah berbagai fungsi.

A.    Pengamalan dan penggunaan surat al-Fatihah Khusus dan Umum Shahih :

    DALIL-DALIL KHUSUS :
1. Surat Al-Fatihah sebagai Rukun Shalat
    Sebagaimana dalam hadits berikut :
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada salat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al-Fatihah)."(Shahih Bukhari : 756, kitab adzan)

2. Surat Al-Fatihah sebagai Rukyah
    Sebagaimana dalam hadits berikut :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ نَزَلْنَا مَنْزِلًا فَأَتَتْنَا امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ لُدِغَ فَهَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مِنَّا مَا كُنَّا نَظُنُّهُ يُحْسِنُ رُقْيَةً فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطَوْهُ غَنَمًا وَسَقَوْنَا لَبَنًا فَقُلْنَا أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً فَقَالَ مَا رَقَيْتُهُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ فَقُلْتُ لَا تُحَرِّكُوهَا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ مَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مِنَّا مَا كُنَّا نَأْبِنُهُ بِرُقْيَةٍ
    dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, Kami singgah pada suatu tempat, lalu datanglah seorang wanita kepada kami dan berkata, "Sesungguhnya pemimpin wilayah ini sedang sakit, maka apakah dari kalian ada seseorang yang bisa meruqyah?" Abu Sa'id berkata, "Maka berdirilah seorang laki-laki mengikuti wanita tersebut, padahal kami tidak mengira bahwa laki-laki tersebut pandai meruqyah. lalu ia meruqyahnya dengan surah Al-Fatihah hingga iapun sembuh. Lalu mereka memberi seekor kambing kepadanya dan memberi kami minuman susu." Maka kami bertanya kepadanya; Apakah kamu pandai meruqyah? Dia menjawab, Aku tidak meruqyahnya kecuali dengan surah Al-Fatihah. Abu Sa'id berkata, Aku lalu berkata, "Kalian jangan melakukan apapun (mengenai surah Al-Fatihah) sehingga kita datang kepada Rasulullah ﷺ, " lalu kami menemui Rasulullah ﷺ, kemudian aku menceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau pun bersabda, "Tidakkah dia tahu bahwa itu adalah ruqyah, bagilah (hadiah itu) dan ikutkan aku dalam pembagian kalian." Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, telah menceritakan kepada kami Hisyam melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun dia berkata dengan kalimat, 'lalu berdirilah salah seorang di antara kami mengikuti wanita itu, yang kami tidak mengiranya akan melakukan ruqyah.'(Shahih Muslim : 2201, kitab salam)

    DALIL-DALIL UMUM :
3. Surat Al-Fatihah Sebagai Tadabbur Makna Ayat-Ayatnya
    Tadabbur secara bahasa yaitu akhir sesuatu. Adapun tadabbur secara istilah yaitu kegiatan perenungan secara mendalam untuk mengetahui ujung atau kesudahan suatu perkara, termasuk dampak dan konsekuensinya. Sebagaimana berdasarkan surat an-nisa: 82, muhammad : 24, shaad : 29 
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿ ٨٢﴾
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa [4]:82)

    Langkah-langkah tadabbur:
    1. Memahami makna-makna al-qur'an dan kandungan isinya
memahami makna-makna dalam al-qur'an bukan hanya bisa membaca lafadznya saja tetapi memahami maksud ayat tersebut.
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿ ٢﴾
 Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.(Yusuf [12]:2)

    2. Membaca al-qur'an dengan perlahan
Membaca al-qur'an dengan perlahan akan membantu dan mendorong orang untuk memahami dan merenungi isi kandungan al-qur'an

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا ﴿ ٤﴾
 Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.(al-Muzzammil [73] :4)
    3. Memperbagus suara ketika membaca al-qur'an
Suara merdu akan melembutkan hati, karena tabiat yang baik pasti akan senang dengan orang yang melantunkan bacaan al-qur'an dengan bacaan dan suara yang indah.
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي مُوسَى لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
dari Abu Musa ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Musa, "Seandainya saja semalam kamu mengetahuiku sedang mendengarkan bacaanmu. Sungguh engkau telah diberi suara yang bagus sebagaimana yang telah diberikan kepada keluarga Daud."(Shahih Muslim : 793)
    4. Mengulang-ulang bacaan
Salahsatu hal yang membantu seseorang untuk merenungi makna al-qur'an dan merasakan keindahannya adalah dia berhenti pada ayat yang menggugahnya, lalu ia ulang-ulang dan tidak melewatinya begitu saja.
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿ ٦﴾
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu´) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.(al-Muzzammil [73]:6)
    5. Berdoa sesuai kandungan makna
Selain itu untuk menunjang seorang untuk merenungi makna al-qur'an yaitu dengan menghadirkan perasaan bahwa al-qur'an adalah firman Allah yang ditujunya. dia akan terpengaruhi di kehidupannya bbila ia bersama al-qur'an. Jika ia bertemu dengan ayat tentang surga ia memohon untuk surga, jika ia bertem ayat tentang petunjuk, ia memohon petunjuk.

    dari Hudzaifah ia berkata, Pada suatu malam, saya salat (Qiyamul Lail) bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau mulai membaca surah Al-Baqarah. Kemudian saya pun berkata (dalam hati bahwa beliau) akan rukuk pada ayat yang ke seratus. Kemudian (seratus ayat pun) berlalu, lalu saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan salat dengan (surat itu) dalam satu rakaat. Namun (surah Al-Baqarah pun) berlalu, maka saya berkata (dalam hati bahwa) beliau akan segera sujud. Ternyata beliau melanjutkan dengan mulai membaca surah An Nisa` hingga selesai membacanya. Kemudian beliau melanjutkan ke surah Ali 'Imran hingga selesai hingga beliau selesai membacanya. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon, dan bila beliau membaca ayat ta'awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan.(Shahih Muslim : 772, kitab shalatul musafirin wa qasruha)

 B.   Pengamalan dan penggunaa surat al-fatihah yang salah :

1. Surat Al-Fatihah sebagai Mujarab doa dan sebagai doa
    Orang-orang yang menganggap surat al-fatihah sebagai mujarab doa dan pula sebagai doa berdalil dengan hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنْ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيتَهُ
    dari Ibnu Abbas ia berkata, Ketika malaikat Jibril sedang duduk di samping Nabi ﷺ tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka dari arah atas kepalanya. Lalu malaikat Jibril berkata, "Itu adalah suara salah satu pintu langit yang dibuka, sebelumnya ia belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini." Lalu keluarlah daripadanya malaikat. Jibril berkata, "Ini adalah malaikat yang hendak turun ke bumi, sebelumnya ia belum pernah turun ke bumi sama sekali kecuali pada hari ini saja." Lalu ia memberi salam dan berkata, "Bergembiralah atas dua cahaya yang diberikan kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelummu, yaitu pembuka Al Kitab (surah Al-Fatihah) dan penutup surah Al-Baqarah. Tidaklah kamu membaca satu huruf dari kedua surat itu kecuali pasti akan diberikan kepadamu."(Shahih Muslim 806)

Makna hadits :
1. Dua cahaya yaitu dua hal yang agung, menyinari, menjadi jelas mengndung kosakata iman, islm dan ihsan, yang dua cahaya itu bila dibacakan ia akan mendapatkannya.
2. Amalan yang terkandung dalam hadis ini adalah membaca al-fatihah dan 2 ayat terakhir al-baqarah akan mendapatkan pahala dan bila berdoa dengan doa yang terkandung di dalamnya maka ia akan diberikan
3. Pahala membaca taurat dan injil tidak seperti pahala membaca surat al-fatihah dan akhir al-baqarah 
4. Doa dalam taurat dan injil tidak belum pernah ada kandungannya seperti doa yang terkandung dalam al-fatihah dan akhir surat al-baqarah
5. Kelebihan antara surat dalam al-qur'an hanya pada makna-makna kata saja bukan sifatnya
6. Al-fatihah  disebut qur'an adzim karena mengandung tauhid, ibadah, pelajaran, peringatan, dan tidak mengenyampingkan kekuasaan Allah.
(Intisari dari kitab Bahrul Muhith Tsujaj Fii Syarhi Shahihil Imam Muslim bin Hujaj :16/363-374)

Adapun orang yang memaknai hadits ini bila membaca al-fatihah maka doanya akan cepat dikabul merupakan kesalahan arti dan tidak disebutkan harus membaca al-fatihah ketika mau berdoa. Tetapi yang benar yaitu berdoa dengan yang ada dalam surat al-fatihah itu yaitu "ihdina shiratal mustaqim"

Pertanyaannya : bila al-fatihah ini maksudnya adalah amalan pemakbul doa, lalu kenapa rasulullah tidak pernah membaca al-fatihah terlebih dahulu atau setelahnya?
2. Surat Al-Fatihah sebagai Tawasul amaliyah
Pengertian membaca surat al-fatihah sebagai tawasul ada beberapa model dan maksud, sebagai berikut :
    a. Tawassul Membaca surat al-fatihah untuk kiriman ke mayyit
Hal ini bertentangan dengan al-qur'an, sebagaimana surat an-Najm ayat 38-39 : 
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ﴿ ٣٨﴾ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ ٣٩﴾
    Artinya :
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,(38) dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,(39).

Selain itu tidak ada dalil yang shahih dan sharih tentang mengirim bacaan al-Qur'an.
Karen ibadah badaniyah tidak bisa diwakilkan apalagi orang yang meninggal tidak bisa berniat lagi.
    b. Tawassul Membaca surat al-fatihah dengan maksud spontan atau disuruh
Coba perhatikan hadits di bawah ini :
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوْا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنْ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لَا يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَكُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا وَلَا مَالًا فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَالًا فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الْآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنْ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لَا أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ فَتَحَرَّجْتُ مِنْ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الْأَمْوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنْ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَسْتَهْزِئُ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لَا أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتْ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ
    bahwa 'Abdullah bin 'Umar radhiallahu'anhuma berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada tiga orang dari kalangan orang sebelum kalian yang sedang bepergian hingga ketika mereka singgah dalam gua lalu mereka memasuki gua tersebut hingga akhirnya ada sebuah batu yang jatuh dari gunung hingga metutupi gua. Mereka berkata, Tidak akan ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali bila kalian berdoa meminta kepada Allah dengan perantaraan kebaikan amal kalian. Maka seorang diantara mereka berkata, "Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang sudah renta. Dan aku tidaklah pernah memberi minum susu keluargaku pada akhir siang sebelum keduanya. Suatu hari aku keluar untuk mencari sesuatu dan aku tidak beristirahat mencarinya hingga keduanya tertidur, aku pulang namun aku dapati keduanya sudah tertidur dan aku tidak mau mendahului keduanya meminum susu untuk keluargaku. Maka kemudian aku terlena sejenak dengan bersandar kepada kedua tanganku sambil aku menunggu keduanya bangun sampai fajar terbit, lalu keduanya terbangun dan meminum susu jatah akhir siangnya. Ya Allah seandainya aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah batu ini. Maka batu itu sedikit bergeser namun mereka belum dapat keluar. Nabi ﷺ berkata, Kemudian berkata, yang lain, "Ya Allah, bersamaku ada putri pamanku yang menjadi orang yang paling mencintaiku. Suatu hari aku menginginkannya namun dia menolak aku. Kemudian berlalu masa beberapa tahun hingga kemudian dia datang kepadaku lalu aku berikan dia seratus dua puluh dinar agar aku dan dia bersenang-senang lalu dia setuju hiingga ketika aku sudah menguasainya dia berkata, tidak dihalalkan bagimu merusak keperawanan kecuali dengan cara yang haq. Maka aku selamat dari kejadian itu. Lalu aku pergi meninggalkannya padahal dia wanita yang paling aku cintai dan aku tinggalkan pula emas perhiasan yang aku berikan kepadanya. Ya Allah seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah pintu gua ini dimana kami terjebak di dalamnya. Maka terbukalah sedikit batu itu namun mereka tetap belum bisa keluar. Bersabda Nabi ﷺ: Kemudian orang yang ketiga berkata, Ya Allah aku pernah memperkerjakan orang-orang lalu aku memberi upah mereka kecuali satu orang dari mereka yang meninggalkan haknya lalu dia pergi. Kemudian upah orang tersebut aku kembangkan hingga beberapa waktu kemudian ketika sudah banyak harta dari hasil yang aku kembangkan tersebut orang itu datang kepadaku lalu berkata, "Wahai 'Abdullah, berikanlah hak upah saya!" Lalu aku katakan kepadanya; Itulah semua apa yang kamu lihat adalah upahmu berupa unta, sapi, kambing dan pengembalanya." Dia berkata, "Wahai 'Abdullah, kamu jangan mengolok-olok aku!" Aku katakan: Aku tidak mengolok-olok!" Maka orang itu mengambil seluruhnya dan tidak ada yang disisakan sedikitpun. Ya Allah seandainya apa yang aku kerjakan itu semata mencari ridha-Mu, maka bukakanlah celah batu gua yang kami terjebak di dalamnya." Maka batu itu terbuka akhirnya mereka dapat keluar dan pergi".(Shahih Bukhari : 2272)
Di atas disebutkan tiga contoh tawassul dengan amal shaleh, sebagai berikut :
1. Menyebut kisahnya yang Mengutamakan orangtua dalam sedekah dengan sabar dan ikhlas
2. Menyebut kisahnya yang Memberi Emas dan menghindari zina yang hampir terjadi dengan sabar dan ikhlas
3. Menyebut kisahnya yang mengembangkan hak gaji pekerjanya yang tertunda menjadi harta yang banyak dan mengembalikannya tanpa sepeserpun ia ambil dengan sabar dan ikhlas

jadi syarat untuk bertawassul dengan benar yaitu :
    1. Dengan menyebut amalan shaleh terbaik yang pernah dilakukan,
     bukan secara spontan beramal dulu.
    2. Ikhlas karena Allah.

Sebagaimana Allah menceritakan doa orang yang bertawassul dengan amal shaleh yang pernah ia lakukan, sebagai berikut :
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ۚ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴿ ١٩٣﴾
Artinya :
 Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.(Q.S Ali Imran : 192)

Di atas disebutkan bahwa amalan yang sebelumnya ia lakukan yaitu menjawab seruan penyeru kepada iman, maka ia beriman yang tidak mudah bagi orang untuk melakukan itu. Oleh karen itu membaca surat al-fatihah spontan tanpa dibareng niat ikhlas tetapi dikomando oleh pemimpinya maka ini bukan amalan terbaik yang sebagai syarat dari tawassul ini.

3. Surat Al-Fatihah sebagai kiriman pahala amalan ke mayyit
  Lanjutan dari sebelumnya

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ﴿ ٣٨﴾ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ﴿ ٣٩﴾
    Artinya :
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,(38) dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,(39).

Kalau ada pengiriman pahala dengan bacaan al-qur'an maka akan ada pula pengiriman dosa ketika berbuat dosa jika berpatokan atau berpedoman dengan logika, padahal kita diperintah oleh Allah SWT. untuk berpedoman kepada al-Qur'an dan As-Sunnah dalam hal aqidah dan ibadah karena akal tidak dapat dicerna. Sebagaimana Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿ ٥٩﴾
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S An-Nisa : 59)

Karena kewajiban seorang muslim yaitu berpedoman kepada kitabullah dan sunnah muhammad saw. dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Dan ada juga larangannya yaitu  :
قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
    Aisyah, telah mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa mengamalkan suatu perkara yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak."(Shahih Muslim:1718, kitab al-aqdhiyah)

Artinya ia tidak akan diterima amalnya dan akan dipertanggungjawabkan atas apa yang ia lakukan dengan mengada-ngada atas nama Allah.

4. Surat Al-Fatihah sebagai tabarruk
    Sebelum menjelaskan mengenai tabarruk maka saya akan menjelaskan mengenai barakah/berkah secara istilah yaitu kebaikan yang bertambah dan terus lanjut. Sedangkan Tabarruk yaitu mengambil berkah pada sesuatu.
    Tabarruk hanya diperbolehkan kepada yang Allah bolehkan contohnya seperti :
1. Mengambil sebagian tubuh Nabi
2. Menikmati hujan
3. Mengambil sesuatu yang bermanfaat secara syariat dan akal sehat

Adapun yang tidak ada dalilnya maka tidak bisa dijadikan sebagai sumber berkah.

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ﴿ ٩٢﴾
[6:92] Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.(Al-An'am : 92)

Di atas ini disebutkan bahwa al-Qur'an memiliki keberkahan, adapun keberkahannya tidak disemua sisi hanya disisi yang disebutkan yaitu 
    1. Membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya
    2. Sebagai peringatan untuk penduduk mekah dan luar lingkungannya
    3. Berkah bagi yang beriman kepada kitab itu agar selalu memelihara ibadah kepadaNya

Kemudian di ayat lain disebutkan
    
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ ﴿ ٢٩﴾
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran."(Shaad : 29)

Disebutkan juga keberkahan lainnya yaitu :
1. Menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berfikir
2. Bila ditadabburi al-qur'an itu

Sedangkan peringatan untuk yang mengingkarinya ia tidak akan mendapatkan keberkahannya, sebagai mana firman Allah SWT :
وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ ۚ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ ﴿ ٥٠﴾
Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?(Al-Anbiya : 50)

    Adapun membaca al-fatihah dengan menyebut kedudukan surat tersebut dengan menyebut "bibarokatil ummil qur'an, alfatihah..." maka tidak ada dalil atas hal tersebut. karena tawassul dengan hanya menyebut kedudukannya tidak akan sama sekali membuat doanya itu makbul. Karena tawassul yang diperbolehkan cuma 3 kategori yaitu :
    1.Tawassul dengan amal shaleh terbaik dan ikhlas
    2. Tawassul dengan asma wa shifat Allah
    3. Tawassul dengan orang yang shaleh yang masih hidup

Sedangkan tawassul jenis lain adalah batil dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

5. Al Fatihah sebagai Pemenuhan hajat

‘Allaamah Muhammad Al-Amir Al-Kabiir Al-Maalikiy (w. 1228 H) berkata:


الفاتحة ِلا قرئت له
ال وجود لهذا الحديث وال يعرف وإنما الوارد فيها وفضل شهر رمضان على سائر الشهور
كفضل هللا على سائر العبادكذب موضوع


“Hadis: ‘Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk apa saja’ tidak ada sumber asalnya untuk hadis ini
dan tidak dikenal, yang ada tentangnya tiada lain: ‘Keutamaan bulan Ramadhan atas seluruh
bulan seperti keutamaan Allah atas seluruh hamba’ hadis ini adalah dusta maudhu’ (palsu)”
(An-Nukhbah Al-Bahiyyah fii Al-Ahaadits Al-Makdzuubah ‘Ala Khairil Bariyyah, hlm. 11-12)(1)

الفاتحة ِلا قرئت له
"Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk apa saja"

Hadist tersebut adalah palsu
Wallahu a'lam bishowaab

Semoga bermanfaat....

Senin, 17 Juli 2023

Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Part 3


MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO'A
Kapan kita diperbolehkan mengangkat tangan ketika berdo'a? Abu Azmi Kab.
Bandung
Jawaban:

Tentang masalah tersebut telah di- jawab dalam putusan Dewan Hisbah tahun 2009 tentang "Mengangkat Ta- ngan Ketika Berdo'a" dengan istinbath hukum sebagai berikut:

Adapun yang dimaksud dengan kondisi dan tempat tertentu yang disyari'atkan mengangkat tangan keti- ka berdo'a adalah sebagai berikut:
Pertama, ketika Mendoakan Per- seorangan dan umat.
1. Berdo'a dan kaifiyyatnya adalah ta'abbudi.
2. Mengangkat kedua tangan waktu berdo'a pada kondisi dan tempat tertentu disyari'atkan.
3. Berdo'a sambil mengangkat kedua tangan pada kondisi dan tempat  tertentu yang tidak ada keterangan yang sahih adalah bid'ah.

1. Mendoakan Umat Agar Cacian Beliau Saat Marah Jadi Kebaikan 

Dari Aisyah, ia berkata:


دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِأَسِيرٍ فَلَهَوْتُ عَنْهُ فَذَهَبَ فَجَاءَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ مَا فَعَلَ الأَسِيرُ قَالَتْ هَوْتُ عَنْهُ مَعَ النِّسْوَةِ فَخَرَجَ فَقَالَ مَا لَكِ قَطَعَ اللَّهُ يَدَكِ أَوْ يَدَيْكِ فَخَرَجَ فَآذَنَ بِهِ النَّاسَ فَطَلَبُوهُ فَجَاءُوا بِهِ فَدَخَلَ عَلَيَّ وَأَنَا أُقَلِّبُ يَدَيَّ فَقَالَ مَا لَكِ أَجُنْتِ قُلْتُ دَعَوْتَ عَلَيَّ فَأَنَا أُقِلِّبُ يَدَيَّ أَنْظُرُ أَيُّهُمَا يُقْطَعَانِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ مَدًّا وَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَوْ مُؤْمِنَةٍ دَعَوْتُ عَلَيْهِ فَاجْعَلْهُ لَهُ زَكَاةً وَطُهُورًا. رواه احمد وإسحاق بن راهويه و البيهقي

Nabi saw. menemuiku bersama seo- rang tawanan, lalu aku memalingkan perhatian darinya kemudian ia pergi. Maka datanglah Nabi saw. seraya berkata Apa yang dilakukan oleh tawanan itu? Aisyah berkata,Aku bersama sekelompok perempuan memalingkan per- hatian darinya lalu ia keluar. Nabi saw. berkata,'Kenapa dengan kamu! Apakah Allah akan memotong tanganmu atau kedua tanganmu? Lantas beliau keluar I dan memberitahukan kepada orang- orang (agara mencari tawanan itu). Ke- mudian mereka mencarinya dan mere- ka datang bersama tawanan itu. Maka Nabi saw. mendatangiku pada saat itu aku membalikkan (mengebelakang- kan) tanganku. Beliau berkata,Kenapa denganmu, apakah kamu menutupi- nya? Aku berkata,Engkau telah men- doakanku, maka aku mengebelakang- kan tanganku, aku ingin melihat apa- kah keduanya terputus. Maka beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya serta mengangkat kedua tangannya tingi-tinggi seraya berdoa,Ya Allah! Sesungguhnya aku ini manusia biasa, aku marah seperti manusia pun suka marah, maka mukmin atau mukminat mana saja yang aku pernah mendoakan (kejelekan), jadikanlah baginya sebagai pembersih dan penyuci terhadap dosanya) al-Imam Ahmad, XXXX: 303, Ishaq bin: H.r. Ahmad, Musnad Rahawaeh, al-Musnad, II: 543, Al Baehaqi, as Sunanul Kubra, IX: 98.Syu'aeb Al Arnauth mengatakan, 'Sanad hadis ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari & Muslim" Musnad al-Imam Ahmad, XXXX: 304. 

2. Mendoakan Muhajir Yang Bunuh Diri

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَدِمَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِي عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَكَّةَ ... فَقَصَ الطَّفَيْلُ رُؤْيَاهُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ وَلِيْدَيْهِ فَاغْفِرْ اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ. رواه ابن حبان و الحاكم و ابو يعلى و البخاري، في الادب و الرفع و الطبراني في الأوسط

Dari Abu Az Zubair dari Jabir, ia me- ngatakan, Thufail bin Amr ad Duwasi menjumpai Nabi Saw. di Makkah...Ke- mudian At Thufail menceritakan kisah (mimpinya) itu kepada Rasulullah Saw. lalu Rasulullah Saw. mengangkat kedua tanganya dan berdoa,Ya Allah! Dan un- tuk kedua tanganya, ampunilah ia, 'Ya Allah! Dan untuk kedua tanganya, ampunilah ia, 'Ya Allah! Dan untuk kedua tanganya, ampunilah ia". H.r. Ibnu Hi- ban, Shahih Ibnu Hiban, V:9; Al Hakim, al Mustadrak, IV: 86; Abu Ya'la, Musnad Abu Ya'la, IV: 126; Al Bukhari, al Adabul Mufrad, hal. 215, Raf'ul Yadaeni Fis Sha- lah, hal. 140; At Thabrani, al Mu'jamul Ausath, III: 204.

3. Mendoakan Keselamatan Umat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ النَّبِيَّ    


صلى الله عليه وسلم تَلاَ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي إِبْرَاهِيمَ (رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ) الآيَةَ. وَقَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلام ) إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ) فَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي وَبَكَى... رواه مسلم و ابو عوانة و النسائي والبيهقي
وابن مندة
Dari Abdullah bin Amr bin al 'Ash, se- sungguhnya Nabi saw. membaca fir- man Allah azza wa jalla mengenai Ib- rahim, 'Ya Allah! Sesungguhnya mereka (berhala-berhala) telah banyak menye- satkan manusia, siapa yang mengikut- iku sesungguhnya ia dari golonganku". Dan Nabi Isa berkata, Jika Engkau me- nyiksa mereka, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabi- jaksana". Lalu Nabi saw. mengangkat kedua tanganya dan berdoa,Ya Allah! Umatku-umatku! Sambil menangis". H.r. Muslim, Shahih Muslim, I: 191, Abu 'Awanah, al-Musnad, I: 137, An Nasai, as Sunanul Kubra, VI: 373, Al Baehaqi, Syu'abul Iman, I: 283, Ibnu Mundah, al
Iman, Il : 868.


4. Mendoakan Khalid bin Al Walid

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ إِلَى بَنِي جَدِيمَةَ فَدَعَاهُمْ إِلَى الإِسْلامِ فَلَمْ يُحْسِنُوا أَنْ يَقُولُوا أَسْلَمْنَا فَجَعَلُوا يَقُولُونَ صَبَأْنَا صَبَأْنَا فَجَعَلَخَالِدٌ يَقْتُلُ مِنْهُمْ فَذَكَرْنَاهُ فَرَفَعَ النَّ صلى الله عليه وسلم يَدَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَبْراً إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ خَالِدٌ مَرَّتَيْنِ . رواه البخاري و ابن حبان و البيهقي و النسائي و عبد الرزاق و احمد و عبد بن حميد

Dari Salim, dari bapaknya ia mengata- kan,Nabi Saw. mengutus Khalid bin Al Walid ke bani Jadzimah. Ia mengajak mereka untuk memeluk Islam, akan te- tapi mereka tidak mengetahui (meng- erti dengan baik) untuk mengatakan kami berserah diri. Bahkan mereka mengatakan,Kami berpindah agama, kami berpindah agama. Maka mulailah Khalid membunuh salah seorang dari mereka...lalu kami terangkan hal itu kepada beliau, maka Nabi Saw. meng- angkat tanga seraya berdoa,Ya Allah! Sesungguhnya aku melepas diri dari apa yang telah diperbuat oleh Khalid (diucapkan dua kali)." H.r. Al Bukhari, Shahih al-Bukhari, III : 70, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VII: 120, Al Baiha- qi, as Sunanul Kubra, IX : 115, An Nasai, as Sunanul Kubra, III : 474, Abdurrazaq, al-Mushannaf, V: 222, X: 174, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, X: 444, Abd bin Humaid, al-Musnad, 1:239.


5. Ketika Mendoakan Kaum Daus

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ جَاءَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقال يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ عَصَتْ وَأَبَتْ فَادْعُ الله عَلَيْهَا فَاسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ النَّاسُ هَلَكَتْ دوسٌ فَقَالَ اللَّهُمَّ أَهْدِ دَوْسًا وَأْتِ بِهِمْ.


Dari Abu Hurairah, r.a. telah datang At Thufail bin Amr Ad Duasi kepada Rasul- ullah Saw., ia mengatakan, Wahai Rasul- ullah! Sesungguhnya Daus berpaling serta menolak (ajaran Islam), mohonlah (kecelakaan) kepada Allah untuknya. Kemudian Rasulullah Saw. mengadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan 
dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika terjadi gerhana pada hari itu. Kemudi- an saya menjumpai beliau, pada saat itu Rasulullah Saw. sedang mengang- kat kedua tanganya berdoa, bertakbir, bertahmid, dan bertahlil sampal terang kembali. Maka beliau membaca dua surat dan salat dua rakaat: H.r. Mus- lim, Shahih Muslim, Il : 269, Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, Ill : 332, Abu Daud, Sunan Abu Daud, 1:264.

6. Berdoa Pada Istisqa

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إلا في الاسْتِسْقَاءِ وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إبطيه. رواه البخاري و مسلم و البيهقي و ابو داود والنسائی و ابن ماجه و احمد و
ابو يعلى

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi Saw. tidak pernah mengangkat kedua tanganya ketika berdoa melainkan pada salat istisqa sampai terlihat putihnya kedua ketiaknya". H.r. Al Bukhari, Shahih al Bukhari, I : 226, Muslim, Shahih Muslim, Il : 216, , Al Baihaqi, as Sunanul Kubra, Ill : 357, Abu Daud, Sunan Abu Daud, 1:216, An Nasai, as Sunanul Kub- ra, I: 450, 559, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, 1:373, Ahmad, Musnad al Imam Amad, XX:231, Abu Ya'la, al-Musnad, V: 339,346,399.

7. Berdoa Setelah Doa Wudhu (Syahadatain)

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ لَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مِنْ حُنَيْنٍ بَعَثَ أَبَا عَامِرٍ عَلَى جَيْشِ إِلَى أَوْطَاسِ ... فَدَعَا بِمَاءٍ فتَوَضَّأَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ . عامِرٍ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ ابي اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ فَقُلْتُ وَلِي فَاسْتَغْفِرْ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لعبد الله بن قيس ذَنْبُهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
مدخلاً كَرِيمًا. رواه البخاري

Dari Abu Musa r.a. ia mengata- kan,Ketika Nabi Saw. selesai dari pe- rang hunain, beliau mengutus Abu Amir untuk memimpin pasukan ke Authas...maka Nabi Saw. meminta air lalu beliau berwudlu, kemudian beliau mengangkat kedua tanganya berdoa,Ya Allah! Ampunilah 'Ubaid Abu Amir, aku melihat putihnya kedua ketiak beliau. Kemudian beliau berdoa lagi, 'Ya Allah! Tempatkanlah ia di atas dari pada kebanyakkan manusia dari ciptaanMu. Kemudian aku (Abdullah bin Qais) berkata,Ya Rasulullah! Mo- honkanlah ampunan bagiku! Beliau bersabda, Ya Allah! Ampunilah dosa- dosa Abdullah bin Qais, masukkanlah ia pada hari kiamat ke tempat yang sangat mulia". H.r. Al Bukhari, Shahih al Bukhari, III: 67.

8. Ketika Istigotsah di Perang Badar

عَنْ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إلى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفُ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَغْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكُ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلَامِ لَا تَعْبَدُ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَاذَا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ... فَأَنزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ( إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أي تبدكُمْ بِالْفِ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُردِقِين

Dari Umar bin Al Khathab, la menga- takan, Ketika perang Badar, Rasulullah Saw. melihat orang-orang musyrik itu beribu-ribu. Sedangkan para shahabatnya berjumlah sekitar tiga ra tus sembilan belas orang. Lalu Nabi Saw, mengadap kiblat menadahlan tangan dan mulallah beliau menyeru Tuhanya Ya Allah! Penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku, ya Allahl Berikanlah kepadaku apa yang Engkau janjikan terhadapku, ya Allah! Seandainya sekelompok dari ahli Islam ini binasa, tidak akan ada di muka bumi ini ada yang menyem- bah. Maka tidak henti-hentinya beliau menyeru Tuhannya dengan memben tangan tanganya menghadap kiblat sehingga selendangnya jatuh dari pundaknya...Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat "dz tasta gitsuuna rabbakum...(Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada. Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya ba- gimu: "Sesungguhnya Aku akan men-datangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berbondong-bondong)...H.r. Muslim, Shahih Muslim, 146, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VII: 141, Abu 'Awa- nah, al Musnad, IV: 255, At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, V: 251, Ibnu Abu Syaibah, al Mushanna, VI: 75,Al Asba- hani, Dalailun Nubuwwah, 1: 119, Ah- mad, Musnad al Imam Ahmad, 1:334. 


9. Doa Nabi Saw. di Kuburan Baqi

عن عبد الله بن كثير بن المطلب أَنَّهُ سَمِعَ محمد بن قيس يَقُولُ سَمِعْتُ عَايشة تخلت فقالت ألا أحبلُكُمْ عَنِ النَّبي صلى الله عليه وسلم جَاءَ الْبَقِيعَ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ
Dari Abdullah bin Katsir binal Muthal bahwasanya la mendengar
Muhamad
bin Qais mengatakan Saya mendengar Aisyah berkata,Maukah saya certa kan kepadamu dari Nabi saw...hingga bellau sampai di Bagi, lalu bellau lama berdiri kemudian beliau mengangkat kedua tanganya tiga kall...Hr. Muslim, Shahih Muslim,670, Abu Nulem, al Mustakhraj alas shahih Muslim, 18:54, An Nasal, as Sunanul Kubra, 1:655, V 288, al Mujtaba, V:92, VI:72&74,Ab- durraza, al Mushannal, 8:571. 9. Berdoa pada Qunut

عن ثابت عن أنس بن مالك في قِصَّةِ القراء وقتلهم قال : فقال لي أنسَ لَقَدْ رَأَيْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما صلى الغداة رفع يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ يَعْنِي عَلَى الذين قتلوهم

Dari Tsabit dari Anas bin Malik, tentang kisah Ahli Qura (pengajar Alquran) dan pembunuhan terhadap mereka. la (Tsabit) berkata Anas mengatakan kepadaku Sungguh aku menyaksikan Rasulullah Saw, menadahkan kedua tangan beliau setiap kali salat Gadzat (Subuh) mengangkat kedua tanganya mendoakan terhadap mereka yaitu terhadap orang-orang yang mem bunuh (ahli Qura). Hr. Al Bahagi, as Sunanul Kubra, I: 211, Abu Awanah al Musnad, IV: 462, At Thabrani, al Mujamul Ausath, IV:475, al Mujamus Shagit I: 194, al Mujamul Kabir, IV: 59, Ahmad, Musnad al Imam Ahmad, XIX: 393, Abu Nuaim, Hilyatul Auliya 1: 124, Al Khathib Al Bagdad, at Tarik- hul Kabir, XI: 440, Abd bin Humaid, al Musnad, No 1276, An Nasal as Suna nul Kubra, No. 8297.■


Minggu, 02 Juli 2023

Tata Cara Sholat Jenazah


Mengenai kaifiat sholat jenazah akan dipaparkan dibawah ini :

Oleh: Deni Solehudin

 

A.      Salat Jenazah dengan Empat Kali Takbir

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا

Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar menuju tempat salat, membariskan shaf, lalu takbir empat kali. (HR Bukhari, 1168)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Lalu beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang, kemudian membariskan mereka dalam shaf, lalu beliau bertakbir empat kali". (HR Bukhari, 1247).

B.      Bacaan-Bacaan Salat Jenazah.

1.      Takbir Pertama

Setelah takbir pertama, bacaan salat jenazah adalah ta’awudz, al-fatihah, surat, dan shalawat.

Keterangan:
a. Dalil membaca ta’awudz adalah keumuman ayat Al-Qur’an, sebagai berikut:

إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (16:98)

b. Dalil Membaca Al-Fatihah dan surat

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : سُنَّةٌ وَحَقٌّ.

Dari Thalhah bin Abdullah bin Auf ia berkata, “Saya salat jenazah di belakang Ibn Abbas, maka beliau membaca Al Fatihah dan surat dan menjaharkannya hingga terdengar oleh kami. Ketika selesai, saya memegang tangan beliau dan bertanya kepadanya mengenai hal itu. Beliau menjawab, “itu adalah sunnah dan benar”. (HR. An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro, 2:448).

وَلِلْحَاكِمِ مِنْ طَرِيقِ اِبْنِ عَجْلَانَ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ سَعِيدٍ يَقُول : صَلَّى اِبْنُ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَجَهَرَ بِالْحَمْدِ ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا جَهَرْت لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ .

Berdasarkan riwayat Al-Hakim melalui jalan Ibn ‘Ajlan, sesungguhnya Sa’id bin Sa’id berkata, “Ibnu Abbas salat jenazah dengan menjaharkan Al-fatihah, kemudian berkata, ‘Aku menjaharkan hanyalah supaya kamu mengetahui bahwa pekerjaan itu adalah sunnah Nabi saw.’” (Tuhfatul Ahwadzy, 3:84).

c. Dalil membaca shalawat

عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.

Dari Imam Az Zuhry, ia berkata, “Abu Umamah bin Sahl telah memberitahukan bahwasanya seseorang dari sahabat Nabi saw. telah memberitahukannya, “Sesungguhnya sunnah di dalam salat jenazah itu hendaklah imam bertakbir kemudian membaca Al-fatihah dengan sir setelah takbir pertama, lalu membaca shalawat atas Nabi saw., mengikhlaskan do’a untuk jenazah pada takbir-takbir (yang tiga), dan tidak membaca surat apa pun pada ketiga takbir itu, kemudian mengucapkan salam secara sir. (HR Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro, 4: 38; Musnad As-Syafi’i: 620)

2.      Takbir Kedua

Membaca do’a

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ

Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa 'Aafihi Wa'fu 'Anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi' Mudkhalahu Waghsilhu Bilmaa`I Wats Tsalji Wal Baradi Wa Naqqihi Minal Khathaayaa Kamaa Naqqaitats Tsaubal Abyadla Minad Danasi Wa Abdilhu Daaran Khairan Min Daarihi Wa Ahlan Khairan Min Ahlihi Wa Zaujan Khairan Min Zaujihi Wa Adkhilhul Jannata Wa A'idzhu Min 'Adzaabil Qabri Au Min 'Adzaabin Naar.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia; muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya; bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).” (HR Muslim, 1600)

3.      Takbir Ketiga

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا
اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ

Allahummaghfirli Lihayyina Wa Mayyitina Wa Syahidina Wa Ghaibina Wa Shaghirina Wa Kabirina Wa Dzakarina Wa Untsana.

“Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup di antara kami dan orang yang sudah meninggal, orang yang hadir di antara kami dan orang yang tidak hadir, orang yang masih kecil di antara kami dan orang yang sudah tua, yang laki-laki dan yang perempuan kami.”

Allahumma Man Ahyaitahu Minna Fa Ahyihi 'Alal Islam Waman Tawaffaitahu Minna Fa Tawaffahu 'Lala Iman.

“Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah dia dalam (keadaan) Islam, orang yang Engkau wafatkan dari kami maka wafatkanlah mereka dalam keadaan iman).” (HR Tirmidzi, 945)

4. Takbir Keempat

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاء فَاغْفِرْ لَهُ

“Ya Allah, engkau adalah Tuhan jenazah tersebut, Engkau telah menciptakannya, dan Engkau telah memberinya petunjuk untuk memeluk agama Islam, dan Engkau telah mencabut nyawanya, Engkau lebih mengetahui terhadap rahasianya dan perkaranya yang nampak.” (HR Abu Daud, 2785)

5. Salam

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan, dari Ibnu 'Aqil dari Muhammad bin Al Hanafiyyah, dari Ali radliallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kunci salat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur salat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam." (HR Abu Dawud, 56; Baihaqi, As-Sunanul Kubro, 2: 15)

عَنْ عَلْقَمَةَ وَالأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : ثَلاَثُ خِلاَلٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُنَّ تَرَكَهُنَّ النَّاسُ إِحْدَاهُنَّ التَّسْلِيمُ عَلَى الْجَنَازَةِ مِثْلَ التَّسْلِيمِ فِى الصَّلاَةِ.

 

Dari AlqAmah dan Al Aswad, dari Abdullah (Ibn Mas’ud), Ia berkata, “Tiga perkara yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. tetapi ditinggalkan oleh manusia: di antaranya salam pada salat jenazah sebagaimana salam pada salat-salat lainnya. (HR Baihaqi dalam As-Sunanul Kubro, 4:43 dan dalam Ma’rifah As-Sunan wal Atsar, 5: 305)


Rabu, 29 Maret 2023

Kaifiyat Qunut Nazilah



Dikutip dari Kaifiyat Qunut Nazilah - Website Official PP Persatuan Islam (persis.or.id)

KAMIS, 09 MARET 2023


Kaifiyat Qunut Nazilah

BY Hendi Santika — 01 Desember 2016
0

Qunut Nazilah adalah qunut yang dilaksanakan karena musibah yang menimpa kaum muslimin dengan mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi kaum muslimin atau keburukan dan laknat bagi kaum penindas kaum muslimin, pada setiap salat wajib, dirakaat terakhir setelah bacaan bangkit dari ruku’.

    Qunut dengan sebab mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi sebuah kaum atau kebinasaan dan azab bagi satu kaum

عَنْ أَنَس " أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَقْنُت إِلَّا إِذَا دَعَا لِقَوْمِ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْم " Dari Anas bi Malik berkata : Sungguh Nabi Saw tidak melaksanakan qunut kecuali berdoa kebaikan bagi suatu kaum atau keburukan bagi suatu kaum . HR Ibn Khuzaimah no. 603

    Dilaksanakan Pada Salat Wajib (termasuk salat jumat) pada rakaat terakhir

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ dari Ibnu Abbas, ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh, yaitu di akhir shalat (rakaat terakhir) HSR. Abu Dawud no. 1223 dan Ahmad no. 2643 Adapun terkait qunut nazilah pada dalat jumat, memang tidak ada dalil khusus, jika kita teliti hadis diatas, maka ada ada tiga alasan. Pertama, kalimat mutatabi'an menunjukan kontinuitas qunut dalam salat wajib selama 1 bulan. Kedua, penyebutan subuh, zuhur, ashar, magrib, isya merupakan lil ghalib salat wajib sedangkan mafhumnya adalah salat wajib termasuk jumat. Ketiga, pada setiap akhir salat (rakaat terakhir) menunjukan pada setiap salat wajib, sehingga kesimpulannya termasuk di dalamnya salat jumat disyariatkan qunut nazilah. Adapun terkait sebagian atsar salaf yang membid’ahkan qunut pada salat jumat adalah terkait dengan pengkhususan pada salat jumat, bukan dalam qunut nazilah.

    Dilaksanakan dalam salat berjama’ah, boleh munfarid

Semua hadis terkait dengan qunut nazilah terkait dengan salat berjamaah, termasuk didalamnya disyariatkan ucapan amin bagi ma’mum. Namun keduanya bukan menjadi syarat bagi qunut nazilah, tapi lebih sebagai keutamaan dalam qunut nazilah.

    Pada rakaat terakhir, setelah bacaan bangkit dari ruku’

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ص كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ، أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ، قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ، فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ: " سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيد  الخ Dari Abu Hurairah Ra berkata : Sungguh Rasulullah Saw apabila akan berdo’a kebaikan atau keburukan bagi seseorang beliau qunut setelah ruku’ dan terkadang beliau membaca “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakalhamd, ya Allah selamatkanlah al Walid bin al-Walid...” Hr Bukhari No. 4219

    Redaksi do’a disesuaikan, tidak ada redaksi khusus tertentu dari Nabi SAW

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا لِأَحْيَاءٍ مِنْ الْعَرَبِ اللَّهُمَّ نَجِّ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ، اللَّهُمَّ نَجِّ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ نَجِّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ، اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ص شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ، يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ Dari beberapa redaksi hadis diatas (Hr Bukhari dan Abu Dawud), Rasulullah saw tidak menentukan do’a secara khusus, belau menggunakan redaksi yang berbeda-beda ada yang khitabnya person khusus, adapula yang umum. Akan tetapi isinya tidak terlepas dari mendo’akan kebaikan dan keselamatan bagi kaum muslimin yang teraniyaya, sebaliknya mendo’akan adzab dan laknat bagi yang menganiyaya kaum muslimin. Apakah person khusus tertentu atau sebuah kaum.

    Redaksi do’a disunahkan ringkas

Redaksi atau konten do’a disunahkan untuk tidak memanjangkan do’a qunut, disamping do’a-do’a yang diajarkan Rosul saw ringkas, juga berdasarkan reportase dari sahabat Anas bin Malik سُئِلَ أَنَسُ، أَقَنَتَ النَّبِيُّ ص فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ: أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ: بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا " Anas bin Malik ditanya apakah Rosulullah saw qunut pada salat subuh ? Anas bin Malik menjawab “ bernar”. Apakah Qunut sebelum ruku’ ? Anas menjawab : “Setelah ruku’ sebentar” Hr. Bukhari no. 951

    Do’a qunut dibaca dengan jahar atau nyaring dalam setiap salat wajib

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لِأَحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ يَجْهَرُ بِذَلِكَ وَكَانَ يَقُولُ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا لِأَحْيَاءٍ مِنْ الْعَرَبِ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ { لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ } الْآيَةَ " Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah Saw jika ingin mendoakan kecelakaan kepada seseorang atau berdoa keselamatan kepada seseorang beliau selalu qunut setelah ruku’." Kira-kira ia berkata; "Jika beliau mengucapkan: "sami’allahu liman hamidah, " beliau berdoa: "Wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian, Ya Allah selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, salamah bin Hisyam, dan 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah. Ya Allah keraskanlah hukuman-Mu atas Mudlar, dan timpakanlah kepada mereka tahun-tahun paceklik sebagaimana tahun-tahun pada masa Yusuf." -beliau mengeraskan bacaan tersebut, - beliau juga membaca pada sebagian shalat yang lainnya, beliau membaca pada shalat subuh: "Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan dari penduduk arab." Sampai akhirnya Allah Azza Wa Jalla mewahyukan kepada beliau: "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (Ali Imran: 128)." HR. Bukhari no. 3812 Bacaan atau do’a qunut nazilah dibaca dengan nyaring, baik dalam salat jahriyah maupun sirriyah.

    Ma’mum mengucapkan amin

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ص شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ، وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ، وَالْعِشَاءِ، وَالصُّبْحِ، فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ، إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، مِنَ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ، يَدْعُو عَلَيْهِمْ، عَلَى حَيٍّ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ، أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَقَتَلُوهُمْ "، قَالَ عَفَّانُ فِي حَدِيثِهِ: قَالَ: وَقَالَ عِكْرِمَةُ: هَذَا كَانَ مِفْتَاحَ الْقُنُوتِ dari Ibnu Abbas, ia berkata; "Rasulullah Saw melakukan qunut selama sebulan berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Subuh, yaitu di akhir shalat setelah mengucapkan, sami’allahu liman hamidah pada raka'at terakhir. Beliau mendoakan keburukan atas mereka, yakni (beberapa) kabilah dari bani Sulaim, yaitu Ri'l, Dzakwan dan Ushayyah, orang-orang yang ada di belakang beliau mengamininya. Beliau pernah mengirim utusan kepada mereka untuk mengajak memeluk Islam, namun mereka justru membunuh utusan tersebut." 'Affan berkata dalam haditsnya, ia berkata; Ikrimah berkata; "Ini adalah permulaan qunut." HSR. Ahmad no. 2643 Pengucapan amin oleh ma’mum dibaca setelah imam selesai mengucapkan do’a qunut dengan nyaring.

    Boleh mengangkat tangan

Pada dasarnya asal dalam berdo’a adalah tidak mengangkat tangan, kecuali jika ada dalil sahih yang menerangkan berdo’a dengan mengangkat tangan. Hal ini berdasarkan hadis dari Anas bin Malik Ra عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: " كَانَ النَّبِيُّ ص لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ " Dari Anas bin Malik Berkata : Nabi Saw ketika berdo’a tidak mengangkat kedua tangannya kecuali dalam Istisqa. Dan sungguh beliau mengangkatnya sehingga terlihat putihnya ketiak beliau. Hr. Bukhari no. 978 Hadis diatas menjadi dalil bahwa asal dalam berdo’a adalah tidak mengangkat tangan, adapun pengecualian istisqa bukan berarti menjadi batas atau menafikan mengangkat tangan pada tempat yang lain, selama ada dalil yang sahih dan sarih. Adapun terkait qunut nazilah terhadap hadis sahih Riwayat imam Ahmad فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى شَيْءٍ قَطُّ وَجْدَهُ عَلَيْهِمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ kata Anas; "Tidak kulihat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam sedemikian sedih sebagaimana kesedihan beliau atas tragedi yang mereka alami (dibunuhnya 70 Ahli al-Quran). Dan kulihat Rasulullah Saw dalam salat subuh beliau angkat kedua tangannya mendoakan kecelakaan atas mereka (yang mendzalimi). HSR. Ahmad no. 12173 Jika imam mengangkat tangan dalam qunut nazilah, maka ma’mumpun disyariatkan mengangkat tangan sebagaimana imam, sesuai dengan dalil, bahwa dijadikan imam itu untuk diikuti gerakannya. Adapun terkait kaifiyat mengangkat tangan pada qunut nazilah, sama sebagaimana dalam istisqa yaitu mengangkat kedua tangan sampai kelihatan ketiak.

    Tidak disyariatkan mengusap wajah

Sebagian dari orang yang qunut biasanya mengusap wajah setelah qunut. Hal tersebut memang berdasarkan dalil umum terkait selesai berdo’a dengan mengakat tangan. Akan tetapi hadis-hadis yang menerangkan Rasul Saw berdo’a dengan menyapu atau mengusap muka setelah berdo’a hadis-hadisnya dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah. Dengan demikian tidak disyariatkan mengusap wajah setelah do’a qunut nazilah

    Tidak disyariatkan mengucapkan salawat

Adapula sebagian masyarakat dalam praktik qunut mengucapkan salawat pada akhir do’a qunut. Penambahan ucapan salawat tersebut tidak terdapat dalam hadis-hadis mengenai qunut. Karena asal dalam beribadah itu terlarang, kecuali ada dalil yang memerintahkannya, karena itu tidak disyariatkan membaca salawat diakhir doa qunut.   Wallahu a’lam 

Lembaga Kajian Turats dan Pemikiran Islam PP Pemuda Persis