Kamis, 16 Februari 2023

Shalawat Dalam Khutbah Jum'at , Apakah Rukun ?




 KAMIS, 16 FEBRUARI 2023

Kantor

Jl. Perintis Kemerdekaan No.2, Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40117

Shalawat Dalam Khutbah

 BY HENDI SANTIKA — 01 SEPTEMBER 2015

    Ada yang berpendapat bahwa dalam khutbah Jum’at kesatu dan kedua membaca shalawat termasuk rukunnya, berdasarkan QS 33 : 56. Mohon penjelasannya. Abdulah, Bengkulu Ayat yang anda maksud adalah sebegai berikut: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Q.s. 33/Al-Ahzab : 56 Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Demikian pula para malaikat bershalawat kepada Nabi atas perintah Allah swt. Di dalam beberapa riwayat diterangkan bahwa Allah swt bershalawat kepada Nabi saw itu maksudnya Allah menyanjung Nabi Muhammad di hadapan para malaikat dan menganugerahkan rahmat serta maghfirah-Nya kepada beliau saw. Sedangkan malaikat bershalawat kepada Nabi saw maksudnya berdo’a kebaikan untuk Nabi saw dan memohonkan ampunan serta barakahnya. Demikian di antaranya perkataan Abu al-Aliyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari. Tafsir Ibnu Katsir, VI : 457. 

    Menurut para ahli tafsir bahwa Allah swt sedang menerangkan kedudukan yang mulia hamba dan utusan-Nya ini dan bahwa Allah swt menyanjung Nabi Muhammad di hadapan malaikat muqarrabun (yang palinf didekatkan) dan bahwa para malaikat pun bershalawat atas beliau. Maka Allah swt memerintahan seluruh penduduk alam rendah/dunia khususnya manusia untuk bershalawat kepada beliau. Dengan demikian, bersatulah shalawat-alam tinggi dan alam rendah, yakni shalawat Allah swt, malaikat, dan hamba-hamba-Nya.

     Setelah diteliti dan dikaji tidak didapatkan satu pun hadits atau riwayat yang shahih bahwa ayat-ayat yang berkenaan dengan shalawat Allah, shalawat malaikat, dan perintah bershalawat kepada orang-orang yang beriman dikaitkan dengan upacara khutbah Jum’at. Entah sejak kapan hal itu ada dan menjadi kebiasaan kaum muslimin. Yang lebih mengherankan lagi dikhususkan pada upacara khutbah Jum’at dengan mejadikannnya sebagai rukun khutbah Jum’at. Oleh karena itu perlu kiranya dikemukakan di sini sejarah adanya shalawat pada khutbah beserta beberapa riwayat adanya shalawat pada khutbah disertai keterangan kedha’ifannya. Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah dipaparkan sebelumnya, tidak terdapat satu pun dari keterangan-keterangan itu yang menunjukkan bahwa dalam tahmid (memuji Allah pertanda memulai khutbah) disertakan bacaan shalawat, baik sebelum atau sesudahnya. Bahkan kami belum mendapatkan keterangan atau hadits yang shahih atau paling tidak atsar shahabat yang shahih tentang disertakannya shalawat kepada Nabi saw di dalam tahmid itu. 

    Setelah kami terus mencoba meneliti tentang hal itu, kami dapatkan beberapa riwayat yang menerangkan tentang hal itu, namun hadits-haditsnya tidak dapat dijadikan hujah karena sanad-sanad riwayat tersebut seluruhnya tidak terlepas dari kedla’ifan-kedla’ifan. Oleh karena itu kami merasa perlu menerangkan beberapa kedla’ifan hadits-hadits yang menerangkan adanya pembacaan shalawat di dalam tahmid sebagai berikut: 

كُلُّ أَمْرٍ لَمْ يُبْدَأ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ وَالصَّلاَةِ عَلَيَّ فَهُوَ أَقْطَعُ أَبْتَرُ مَمْحُوقٌ مِنْ كُلِّ بَرَكَةٍ 

Setiap urusan yang tidak dimulai dengan memuji Allah dan shalawat kepadaku, maka terputus, kosong, dan terhapus dari barakah. H.r. Abu Ya’la, Al Irsyad, I : 449, Al Hindi, Kanzul Umal,: 2510. Dalam kitab Subulus Salam I : 5, diterangkan:

 كُلُّ كَلاَمٍ لاَيَذْكُرُ اللهَ فِيْهِ وَلاَ يُصَلِّي فِيْهِ عَلَيَّ فَهُوَ أَقْطَعُ أَكْتَعُ مَمْحُوقُ الْبَرَكَةِ.

 Setiap ucapan yang tidak dimulai dengan memuji Allah dan shalawat kepadaku, maka terputus, kosong, dan terhapus dari barakah. Subulus-Salam, I : 5. Perlu diketahui bahwa kedua redaksi hadits ini bukanlah sabda Nabi saw melainkan pernyataan yang disandarkan kepada seorang shahabat, yaitu Abu Hurairah tanpa menyebutkan bahwa itu merupakan sabda Rasulullah saw. Jadi secara sanad hadits ini mauquf. Di samping itu pada sanadnya terdapat rawi bernama Isma’il bin Abu Ziad As Syami yang dinyatakan matruk (diduga kuat pemalsu hadits) oleh ad-Daraquthni. Lihat Al Mughni fid Du’afa libnil Jauzi, I : 113. 

    Selain kedua redaksi hadits di atas terdapat pula riwayat lain yang menerangkan bahwa para shahabat Rasul pernah bershalawat dalam khutbahnya. Adapun riwayat-riwayatnya antara lain sebagai berikut :

 عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَعَدَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ الله rيَوْمَ سُمِيَ خَلِيْفَة رَسُولِ اللهِ r فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِ r ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ ثُمَّ وَضَعَهُمَا عَلَى الْمَجْلِسِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُ r يَجْلِسُ عَلَيْهِ مِنْ مِنْبَرِهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ الْحَبِيْبَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى هَذَا الْمَجْلِسِ يَتَأَوَّلُ هَذِهِ الآيَةَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ … 

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Abu Bakar duduk pada mimbar Rasulullah saw pada hari dirinya disebut khalifah Rasul. Lalu ia memuji kepada Allah dengan pujian yang memang Dia berhak mendapatkannya dan bershalawat kepada Nabi, kemudian mengulurkan kedua tangannya, lalu menempatkannya pada tempat duduk yang pernah dipergunakan Rasulullah saw ketika khutbahnya, kemudian ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. mentakwil ayat ini ya ayuuhal ladzina amanu…H.r. Ibnu Mardawaih, Al Hindi, Kanzul Ummal, juz III, hal. 271 Riwayat ini tidak shahih disebabkan menyalahi riwayat lainnya yang masyhur bahwa Abu Bakar pada saat itu berkhutbah tanpa membaca shalawat. Hal ini seperti dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Abd bin Humaid, al-Humaidi, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Abu Hatim. Adapun haditsnya sebagai berikut: 

عَنْ قَيْشِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِيْقَ قَامَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَؤُنَ هَذِهِ الآيَةَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ وَأَنَّا سَمِعْنَا رَسُولَ اللهِ r يَقُولُ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِذَا رَأَوْا الظاَلِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ يُوْشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ

. Dari Qaisy bin Abu Hazim, sesungguhnya Abu Bakar as-Shiddiq berdiri (berkhutbah), lalu beliau bertahmid kemudian berkata: “Hai orang-orang, sesungguhnya kamu membaca ayat ini “Ya ayuhalladzina amanu…” (Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.). Kami mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Hai orang-orang, apabila kamu melihat kezhaliman tetapi kamu tidak dapat mengubahnya niscaya Allah akan meratakan adzab kepada mereka.” Dengan demikian jelas sekali lafal bahwa Abu Bakar membaca shalawat merupakan idraj (tambahan) yang dla’if. 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَقْرَئُ عَبْدَالرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فِي آخِرِ خِلاَفَةِ عُمَرَ…فَلَمَّا صَعِدَ عُمَرُ الْمِنْبَرَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِهِ فَلَمَّا فَرَغَ قَامَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِ r ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ

… Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Saya membacakan kepada Abdurrahman bin Auf pada akhir kekhalifahan Umar…ketika Umar naik mimbar muadzin mulai beradzan, ketika ia selesai, Umar berdiri lalu memuji kepada Allah, menyanjung-Nya dan bershalawat atas Nabi saw kemudian berkata, ‘Amma ba’du’…H.r. Al-Bazzar, Musnad al-Bazzar, I:299-300 Riwayat ini pun menyalahi riwayat yang masyhur bahwa Umar ketika itu khutbah tanpa shalawat, seperti dalam riwayat Abdurrazaq, V : 439, Abu Hatim At Tamimi Al Bisti, At Tsiqat, II : 153, Abul Husain, Muslim Al Hajaj, At Tamyiz, I : 175. Adapun haditsnya sebagai berikut: 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَقْرَىءُ عَبْدَالرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فِي خِلاَفَةِ عُمَرَ…فَلَمَّا اِرْتَقَى عُمَرُ الْمِنْبَرَ أَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي أَذَانِهِ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ أَذَانِهِ قَامَ عُمَرُ فَحَمِدَ اللهِ وَأَثْنَى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ

… Dari Ibnu ‘Abbas, ia mengatakan: “Aku membacakan kepada Abdurrahman bin Auf pada kekhilafahan Umar…Ketika Umar naik mimbar mulailah muadzin adzan, ketika telah selesai dari adzannya berdirilah Umar (berkhutbah), maka beliau memuji kepada Allah dengan pujian yang memang Dia ahlinya, lalu beliau mengatakan,’Amma ba’du…”. Di samping hadits ini terdapat pula hadits-hadits lainnya yang menerangkan tentang khutbah Umar tanpa shalawat. Seperti halnya dalam riwayat Abu Ya’la, Malik, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Dawud. Adapun haditsnya sebaga berikut:

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ خَطَبَ عُمَرُ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ r فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلاَ وَإِنَّ الْخَمْرَ نَزَلَ تَحْرِيمُهَا يَوْمَ نَزَلَ وَهِيَ مِنْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ مِنَ الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ وَالْعَسَلِ

… Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan: “Umar berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw. Maka beliau memuji kepada Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau mengatakan: ‘Amma ba’du, ingatlah bahwasanya khamer pengharamannya turun pada hari (dimana) ia turun, yaitu dari lima macam; dari hinthah (gandum), syair, tamr (kurma), zabib (anggur), dan ‘asl (madu)…. Ada juga riwayat yang disandarkan kepada ‘Utsman bin Affan sebagai berikut:

 عَنْ بَدْرِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ لَمَّا بَايَعَ أَهْلُ الشُّوْرَى عُثْمَانَ خَرَجَ وَهُوَ أَشَدُّهُمْ كآبَةٍ فَأَتَى مِنْبَرَ رَسُولِ اللهِ r فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ r وَقَالَ إِنَّكُمْ فِي دَارِ قِلْعَةٍ وَفِي بَقِيَةِ أَعْمَارٍ فَبَادِرُوا آجَالَكُمْ بِخَيْرِ مَا تُقَدِّرُونَ عَلَيْهِ فَلَقَدْ أَتَيْتُمْ صَبَحْتُمْ أَوْ مَسَيْتُمْ أَلاَ وَإِنَّ الدُّنْيَا طُوِيَتْ عَلَى الغُرُورِ فَلاَ تَغُرَنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَنَّكُمْ بِاللهِ الْغُرُوْرُ

… Dari badr bin Usman dari bapaknya, ia mengatakan: Ketika sampai kepada anggota musyawarah Usman, ia keluar dan ia adalah orang yang paling mendalam kesedihannya, lalu ia mendatangi mimbar Rasulullah saw dan berkhutbah kepada orang-orang. Maka ia bertahmid dan menyanjung Allah swt. serta bershalawat kepada Nabi saw dan ia berkata: “Sesungguhnya kalian berada di rumah benteng dan di dalam sisa-sisa umur. Maka bersegeralah kepada ajal-ajal kalian dengan kebaikan yang kalian mampu. Sungguh kalian telah datang pagi atau petang. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini dikemas di atas tipu daya. Maka janganlah kalian terperdaya oleh dunia dan janganlah tipuan-tipuan memperdayakan kalian kepada Allah”. H.r. At-Thabari, Tarikh at-Thabari, II:589. Pada sanad hadits ini terdapat rawi yang mubham (tidak jelas), yakni hanya diterangkan ammuhu (pamannya). Sedangkan dalam kitab-kitab rijal tidak ada keterangan bahwa Badr bin Usman pernah menerima hadits dari pamannya. Dengan demikian hadits ini dla’if karena ada rawi yang mubham dan sanadnya munqathi’ (terputus). Ada juga yang disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib yakni sebagai berikut: 

عَنْ عَوْنَ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ كَانَ أَبِي مِنْ شُرَطِ عَلِيٍّ وَكَانَ تَحْتَ الْمِنْبَرِ فَحَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ صَعِدَ الْمِنْبَرَ يَعْنِي عَلِيًّا فَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ r وَقَالَ خَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَالثَّانِي عُمَرُ رَضِي الله عَنْه وَقَالَ يَجْعَلُ اللهُ تَعَالَى الْخَيْرَ حَيْثُ أَحَبَّ

. Dari Aun bin Abu Juhaifah, ia berkata: Bapakku di antara …Ali, dan ia berada di bawah mimbar, lalu ia menceritakan kepadaku bahwa Ali naik mimbar lalu bertahmid dan bershalawat kepada Nabi saw. Lalu ia berkata: “Yang terbaik di antara umat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar, yang kedua Umar.” Dan ia berkata: “Allah menetapkan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” H.r. Abdullah bin Ahmad, Musnad Ahmad I:106, Fadhailus Shahabah, I:306, as-Sunnah, II:581 Khutbah Ali pada hadits di atas, disampaikan di Kufah setelah usai perang Nahrawan (melawan kaum Khawarij) yang terjadi pada tahun 38 H/658 M (Lihat, Tarikh Ibnu Asakir, XXXXIV:207; Tarikh Baghdad, XI:124; Fathul Bari, VII:386) atau 2 tahun sebelum Ali meninggal dunia (tahun 40 H/660 M). Khutbah tersebut diriwayatkan oleh 80 orang lebih dari kalangan shahabat maupun tabi’in. Dilihat dari thuruq (jalur periwayatan), riwayat Abu Juhaifah dan Abdu Khair paling banyak jumlahnya. Riwayat Abu Juhaifah diriwayatkan oleh 10 orang, antara lain ‘Aun bin Abu Juhaifah, al-Hakam bin Utaibah, Yazid bin Abu Ziyad, Abdullah bin Abus Safar, Abu Ishaq as-Sabi’i, Hushain bin Abdurrahman. Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 

    Dilihat dari redaksi secara umum, riwayat shalawat dalam tahmid terbagi kepada tiga macam: Pertama, disertai tahmid dan shalawat. Kedua, disertai tahmid tanpa shalawat. Ketiga, hanya disebutkan berkhutbah tanpa keterangan tahmid dan shalawat. Dilihat dari mukharrij (pencatat hadits), khutbah ‘Ali di atas paling banyak, diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan Abdullah bin Ahmad. Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari 17 guru yang bersumber dari empat orang murid Ali bin Abu Thalib: Abu Juhaifah, Abdu Khair bin Yazid al-Hamdani, Alqamah bin Qais, dan al-Harits. Setelah memperhatikan: 

(a) Tarikh periwayatan bahwa khutbah itu disampaikan oleh Ali pada waktu dan tempat yang sama. 

(b) Keterangan tanpa salam dan shalawat diriwayatkan oleh lebih dari 40 orang yang bersumber dari Abu Juhaifah, Abdu Khair, Ibnu Abas, Alqamah bin Qais, dan lain-lain. 

(c) Keterangan dengan salam dan shalawat hanya diriwayatkan oleh dua orang yang juga bersumber dari Abu Juhaifah melalui Abu Khalid az-Zayat, dari ‘Aun.

     Kami berkesimpulan bahwa riwayat yang menerangkan Ali bershalawat pada versi Abdullah bin Ahmad statusnya dla’if karena mukhalafah ats-tsiqat (menyalahi rawi-rawi tsiqat) dalam bentuk idraj fil matan (penambahan kalimat pada matan), yakni kalimat: “bershalawat kepada Nabi” setelah kalimat “bertahmid kepada Allah dan menyanjung-Nya”. 

Penambahan ini bersumber dari murid Abdullah bin Ahmad bernama Ahmad bin Ja’far al-Qathi’i. Dalam riwayat lain diterangkan 

خَطَبَ عَلِيُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ يَوْمًا فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ r ثُمَّ قَالَ يَا عِبَادَ اللهِ لاَ تَغُرَنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَإِنَّهَا دَارُ الْبَلاَءِ مَحْفُوْفَةٌ وَبِالْفَنَاءِ مَعْرُوْفَةٌ وَبِالْقَدَرِ مَوْصُوفَةٌ وَكُلُّ مَا فِيْهَا إِلَى زَوَالٍ

… Ali bin Abu Thalib berkhutbah pada suatu hari, maka ia bertahmid dan menyanjung Allah swt serta bershalawat kepada Nabi saw, kemudian berkata: “Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia karena dunia adalah rumah ujian dan bencana yang diperingan dengan kehancuran telah dimaklum, dengan ukuran yang telah tetap, dan setiap apa yang ada padanya akan hilang…H.r. Ibnu Asakir, Tarikh Ibnu Asakir, XXXXII:500, Kanzul Ummal, juz XIV, hal. 251; Ahmad bin Marwan ad-Dinuri, al-Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilmi, I:364. Kata Ahmad bin Marwan, “Isnaduhu dha’ifun jiddan (sanad hadits ini sangat daif)

     Dengan demikian hadits-hadits yang menunjukkan adanya membaca shalawat pada tahmid di awal khutbah, kedla’ifannya sangat parah bahkan ada yang palsu. Apalagi dijadikan rukun khutbah Jum’at sampai dinyatakan khutbah tidak sah tanpa shalawat. Hal ini sungguh berlebihan, dan jauh dari dalil-dalil yang shahih. Adapun tentang penulisan shalawat pada tahmid di dalam kitab-kitab mulai terjadi pada pertengahan zaman Abasiyyah, karena ternyata dalam kitab-kitab yang ditulis pada masa sebelumnya tidak ada shalawat pada permulaannya, seperti Shahih al-Bukhari dan lainnya. Khilafah Abbasiyah berkuasa sejak tahun 132 H/750 M hingga 656 H/1258 M (Lihat, Khulashah Tarikh Tasyri’ al-Islami, 1985:46 Lihat pula, Fathul Bari, I:9) Di dalam kitab Fathul Bari diterangkan: “Kemudian yang berkata demikian (khutbah tanpa tahmid dan syahadat) karena mereka melihat imam-imam dari guru-guru Imam al-Bukhari dan guru-guru para guru al-Bukhari, seperti Malik dalam al-Muwatha, Abdurrazaq dalam al-Mushannaf, Ahmad dalam al-Musnad hingga tak terhitung lagi banyaknya dari para imam yang memulai karyanya tidak lebih dari basmalah.”

© 2023 Pimpinan Persatuan Islam — Cahaya Islam Berkemajuan.

 

Hukum Qunut Witir Part 2 (Terakhir)



 Dikutip dari Persis.co.id

KAMIS, 16 FEBRUARI 2023

Takhrij Qunut dalam Witir Hadits-Hadits Marfu’ Bag. II

 BY HENDI SANTIKA — 18 AGUSTUS 2016

Apabila kita perhatikan bagan diatas, maka bisa di jelaskan sebagai berikut: Riwayat Al-Hasan bin ‘Aly ini disampaikan hanya kepada Abul Haura seorang.  Abul Haura adalah Robi’ah bin Syaiban As-Sa’dy. Rowi ini telah dinilai tsiqoh oleh Imam An-Nasai dan Ibnu Hibban memasukkannya kedalam daftar rowi-rowi tsiqoh di kitabnya At-Tsiqoh. Dan sepanjang analisa kami sampai saat ini Abul Haura tidak mendapatkan kritik atau ta’lil dari imam yang lain. Oleh karena itu kesendiriannya dalam periwayatan dari Al-Hasan bin ‘Aly tidak terlalu membahayakannya walau Imam ini tergolong rowi yang sangat sedikit meriwayatkan hadits, karena Al-Hasan bin ‘Aly pun sebagai Shahabat Shigor tidak terlalu banyak dalam periwayatan. Sampai tahap ini riwayat terlihat kokoh sepanjang tidak mukholafah dengan rowi yang lebih tsiqoh darinya. Kemudian setelah itu Abul Haura menyampaikan riwayat tentang do’a witir ini ke dua orang rowi tsiqoh yakni Bureid bin Aby Maryam[1] dan Abu Zaid Al-Jarrod[2]. Untuk riwayat Al-Jarrod diriwayatkan oleh Imam Ath-Thobarony no.2713. Apabila kita lihat jalur sanadnya terdapat kelemahan di rowi Ar-Robie bin Rukain. Namun kelemahannya adalah muhtamal dan terangkat karena Bureid bin Aby Maryam mengikutinya (lihat bagan). Dari Bureid inilah terdapat jalur-jalur sanad yang tersebar. 6 rowi meriwayatkan darinya. Ke 6 rowi tersebut adalah:

Abu Ishaq: ‘Amr bin ‘Abdullah bin ‘Ubaid As-Sabi’ie. Rowi ini Tsiqoh atas penilaian Ibnu Ma’in, Al-‘Ijly dan An-Nasai. Bahkan Abu Hatim yang tergolong Imam Mutasyaddid dalam penilaian rowi menilainya “Tsiqoh. Akan tetapi ada sedikit penilaian yang dijadikan pertimbangan oleh Imam Ibnu Hajar dari ucapan Ahmad bin Hanbal.

أبو أسحاق ثقة ولكن هؤلاء الذين حملوا عنه بأخرة (Lihat keseluruhan komentar diatas di kitab Tahdzibul Kamal. Juz 22 hal.102) Atas seluruh komentar para ahlu jarh dan ta’dil diatas Imam Ibnu Hajar telah sangat tepat sekali menyimpulkan dalam kitab Taqribnya: Tsiqotun, Muktsirun ‘Abidun, telah tercampur di akhir periwayatannya[3]. Abu Ishaq ini sebanding dengan Imam Zuhry dalam banyaknya riwayat yang ia sebarkan ke murid-muridnya. Dan beliau termasuk Imam yang masyhur dalam banyak periwayatan.

Syu’bah Bin Hajjaj: Imam besar dalam periwayatan hadits. Imam Al-Bukhory mengatakan dari ‘Aly bin Madiny bahwa Syu’bah riwayatnya mencapai 1000 hadits. Keluasan ilmunya dapat ta’dil dari para imam dengan sebutan Tsiqotun, Hafidzun, Mutqinun, Tsabtun, Faqihun dsb. Imam Ibnu Hajar menyimpulkan dari seluruh penilaiannya dengan: Tsiqotun, Hafidzun, Mutqinun. Dan Imam At-Tsaury memujinya dengan mengatakan: Pemimpin kaum muslimin dalam hadits. [4]

Yunus bin Aby Ishaq: dari keseluruhan penilaiannya Imam Ibnu Hajar menilai: Shoduq Yahimu Qolilan (Jujur dan ada sedikit kekeliruan) [5]

Al-Hasan bin ‘Ammaroh: rowi ini lemah sekali. Beberapa imam menilainya matruk sehingga di simpulkan oleh Al-Hafitdz dengan penilaian: Matruk. [6]

Al-‘Ala bin Sholih: rowi ini mendapat tautsiq dari Abu daud. Namun Abu Zur’ah dan Abu Hatim menilai: “La ba-sa bih”. Hadits-haditsnya dinilai munkar oleh Ibnu Madiny. [7]

Al-Hasan bin ‘Ubaidillah bin Urwah : rowi ini tsiqoh atas semua penilaian para imam termasuk Imam Abu Hatim. [8]

Dari keenam rowi ini yang meriwayatkan dari Buraid bin Aby Maryam Syu’bah lah rowi yang paling tsiqoh. Dan apabila kita lihat di bagan riwayat yang telah penulis kumpulkan Riwayat dari Syu’bah terlihat kokoh dimana 9 rowi yang meriwayatkan darinya dan diteruskan oleh rowi-rowi lain dibawahnya 1dan dikeluarkan oleh para imam mukhorrij semuanya dalam satu kata satu suara menyebutkan do’a yang yang diajarkan dari Rasulullah saw adalah do’a tanpa menyebutkan lafadz “Qunut”. Sehingga kesimpulan khusus sanad jalur Syu’bah adalah sangat kuat dan kokoh tidak terjadi perselisihan. Kekuatan riwayat ini ditambah jalur periwayatan dari arah Al-Hasan bin ‘Ubaidillah sebagai mutabi’nya yang dikeluarkan oleh Ath-Thobarony no.2708 (lihat bagan). Walau pada jalurnya terdapat kelemahan pada rowi Hasyim bin Marsyad namun kelemahannya terangkat dan dikuatkan oleh jalur Syu’bah tersebut karena keduanya meriwayatkan tanpa tambahan lafadz “Qunut” dan juga dikuatkan pula oleh jalur Abu Yazid Al-Jarrod sebagai Mutabi’nya Bureid yang dikeluarkan oleh Ath-Thobarony no.2713. Walau jalur Al-Jarrod ini hanya satu arah terpisah dan terdapat rowi lemah yaitu Ar-Robi’ bin Rukain namun riwayat yang dibawanya tanpa tambahan lafadz “Qunut” adalah juga saling menguatkan karena Ar-Robi’e termasuk rowi yang muhtamal. Atas penjelasan pertama ini jelas dari ketiga jalur ini saling menguatkan dengan riwayat terkuat adalah jalur Syu’bah tersebut. Berikut riwayat Syu’bah:

 حدثنا يحيى بن سعيد عن شعبة حدثني بريد بن أبي مريم عن أبي الحوراء السعدي قال قلت للحسن بن علي : ما تذكر من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أذكر أني أخذت تمرة من تمر الصدقة فألقيتها في فمي فانترعها رسول الله صلى الله عليه وسلم بلعابها فألقاها في التمر فقال له رجل : ما عليك لو أكل هذه التمرة ؟ قال : "إنا لا نأكل الصدقة" قال: وكان يقول : "دع مايريبك إلى مالايريبك فإن الصدق طمأنينة وإن الكذب ريبة" قال : وكان يعلمنا هذا الدعاء "اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت إنه لا يذل من واليت" وربما قال : "تباركت ربنا وتعاليت".

 (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad: Musnad Ahmad. Juz 2 hal. 345 no.1723 cet. Darul Hadits) Riwayat Syu’bah ini juga dikeluarkan melalui Utsman bin Umar (H.R. Ad-Darimy) Abu Daud, Umar bin ‘Aly (H.R.Al-Bazzar no.1336), Mu’ammal (H.R.Abu Ya’la no.6759 dan H.R.Ibnu Hibban no.722), Abdul Malik (H.R.Abu Ya’la), Muhammad bin Ja’far (H.R.Ahmad no.1727, H.R.Ibnu Khuzaimah), Yazid bin Zarba’ (H.R. Ibnu Khuzaimah), ‘Amr bin Marzuq (H.R.Ath-Thobarony no.2707), dan ‘Affan (H.R.Ath-Thobarony no.2710) (Lihat bagan riwayat diatas). Riwayat jalur Syu’bah ini semuanya tidak terdapat tambahan lafadz “Qunut”. (catatan: warna hitam adalah para mukhorrij yang meriwayatkan tanpa tambahan “Qunut”. Adapun warna orange adalah mukhorrij yang meriwayatkan ada tambahan “Qunut”) Kemudian penilaian kedua adalah pada jalur periwayatan yang terdapat tambahan lafadz “Qunut” yaitu: 2

Jalur Abu Ishaq: Jalur Abu Ishaq ini sepintas terlihat mudlthorib (goncang) dari segi matan (lihat bagan: Hitam adalah lafadz tanpa “Qunut”. Orange terdapat lafadz “Qunut”). Apakah ini ada kekeliruan dari Abu Ishaq sebagai sumbernya atau kemungkinan kedua dari para murid yang meriwayatkannya?. Penulis anggap dari arah keduanya bisa jadi keliru, karena Abu Ishaq ini ada kelemahan yakni berubah hafalan di akhir. Atas dasar itu apabila tidak sesuai dengan rowi yang lebih kuat darinya yaitu Syu’bah maka kekeliruan itu lebih kuat diketahui dan riwayatnya adalah Syad. Dan tidak bisa di pandang Ziyadatu Ats-Tsiqoh.

Dari jalur sanad yang bersumber darinya, penulis simpulkan sebagai berikut:

Terdapat 8 rowi yang meriwayatkan darinya yaitu: Musa bin ‘Uqbah, Ziyad bin Khoitsamah, Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Isroil bin Yunus, Sufyan At-Tsaury, Abul Ahwash dan Syarik bin Abdullah (lihat bagan)

Jalur Musa bin Uqbah (Al-Mu’jamu Al-Kabiru no.hadits 2701), Ziyad bin Khoitsamah (Ad-Du’a no.743), dan Abu Bakar bin ‘Ayyasy (Ad-Du’a no.743) ketiganya meriwayatkan dari Abu Ishaq tanpa ada tambahan lafadz “Qunut”.

Musa bin Uqbah rowi tsiqoh[9]. Dan kebawahnya Muhammad bin Ja’far bin Aby Katsir adalah rowi tsiqoh riwayat jama’aah[10]. Termasuk muridnya yang meriwayatkan yaitu Said bin Aby Maryam adalah rowi tsiqoh tsabtun hujjatun[11]. Hanya saja Ahmad bin Ishaq bin Wadlih ini sebagai syaikhnya Imam Ath-Thobarony rowi mastur. Namun riwayatnya Musa ini terangkat dari mutabi’ terkuatnya Syu’bah.

Ziyad bin Khoitsamah Al-Ju’afy tsiqoh[12]. Syuja’ bin al-Walid bin Qois rowi Shoduq dan Waro’ terdapat kekeliruan[13]. ‘Aly bin Husain bin Ibrohim bin Al-Hurr rowi shoduq[14]. Al-Husain bin Ishaq At-Tastary syaikhnya Ath-Thobarony. Jalur Ziyad riwayatnya hasan terangkat dari mutabi’ terkuatnya Syu’bah.

Abu Bakar bin ‘Ayyasy rowi muhtamal Abu Bakar bin ‘Ayyasy rowi shoduq yang diperbincangkan, Yahya bin ‘Abdul Hamid Al-Hamany adalah Hafidzun. [15] Al-Husain syaikhnya Ath-Thobarony. Jalur Abu Bakar ini Hasan terangkat riwayatnya oleh mutabi’nya Syu’bah.

Ketiga jalur diatas dari Musa bin ‘Uqbah, Ziyad bin Khotsamah dan Abu Bakar bin ‘Ayyash adalah saling menguatkan satu sama lain. Kemudian untuk jalur yang lainnya dari arah: Syarik, Sufyan Ats-Tsaury Abul Ahwash Zuhair dan Isroil justru beberapa jalurnya terdapat tambahan “Qunut”.

Jalur Syarik goncang (Idlthirob): terdapat dua arah periwayatan ke Abu Bakar Ibnu Aby Syaibah dan Yahya Al-Hamany. Jalur Abu Bakar diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.1178, Ibnu Aby Syaibah no.6954, Abu Ya’la no.6765 dengan ada tambahan lafadz “Qunut”. Adapun jalur Yahya maqrun dengan Abu Bakar yang diriwayatkan oleh At-Thobarony di kitab Mu’jamul Kabir no.2703 dan kitab Ad-Du’a no.737 tidak ada tambahan lafadz “Qunut”.

Syarik rowi shoduq banyak salah dari apa yang pernah penulis kaji. (lihat kajian khusus Syarik ini disini). Karena itu dua jalur yang berbeda ini yakni terdapat tambahan “Qunut” dan tidak adalah lebih kuat kekeliruan dari Syarik bin Abdullah. Namun apakah lafadz tambahan “Qunut” tersebut Syarik jelas mendengar dari Abu Ishaq?

Jalur Sufyan At-Tsaury goncang (idlthirob): 3 mukhorrij mengeluarkan riwayat tanpa tambahan lafadz Qunut yakni Imam Ahmad no.1721, Abu Na’im kitab Hilyah, dan Imam Ath-Thobarony no.2706. adapun riwayat Abdurrozzaq no.4985 terdapat tambahan “Qunut”. Padahal Imam Ahmad di no.1721 meriwayatkan dari Abdurrozzaq tidak ada tambahan lafadz “Qunut”. Di jalur ini lebih kuat lafadz tidak ada tambahan “Qunut”. Dimana Sufyan At-Tsaury mendengar dari Abu Ishaq.

Jalur Abul Ahwash goncang (idlthirob). Arah Qutaibah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzy, Abu Daud dan Al-Baihaqy tanpa tambahan “Qunut” sedang arah Ibnu Jawwas dan dari arah ketiga rowi yang diriwayatkan oleh Ath-Thobarony terdapat tambahan “Qunut”. Abul Ahwash ini adalah Salam bin Sulaim. Dia rowi tsiqoh atas penilaian Ibnu Ma’in, namun Abu Hatim menilai Shoduq. Terdapat ta’lil dari Imam Ahmad dalam penilaian hadits yang dibawa Abul Ahwash dari Sammak dengan perkataan:

كان أبو الأحوص يخطئ في هذا “

Abul Ahwash keliru dalam masalah ini”. (lihat keseluruhan komentar diatas di kitab Mizanul I’tidal: Imam Adz-Dzahaby Juz 3 hal:254)

Jalur Zuhair ketiga arahnya meriwayatkan dengan ada tambahan lafadz “Qunut”.

Jalur Isroil bin Yunus goncang (Idlthirob), Imam Ad-Darimy dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan tambahan lafadz “Qunut” sedang Imam Ath-Thobarony tidak terdapat tambahan lafadz “Qunut”.

Atas penjabaran diatas penulis menilai tambahan lafadz “Qunut” adalah dari Abu Ishaq itu sendiri. Abu Ishaq meriwayatkan ke murid-muridnya kadang ada tambahan “Qunut’ kadang juga tidak ada lafadz “Qunut”. Apakah ketidak konsistennan Abu Ishaq dalam periwayatan ke murid-muridnya adalah pertanda riwayat yang dibawanya sudah berubah seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad atau memang demikian yang ia dengar dari gurunya yaitu Bureid bin Aby Maryam? Oleh karena itu kiranya penulis simpulkan seluruh riwayat Al-Hasan bin ‘Aly ini sebagai berikut:

Jalur periwayatan yang tidak ada tambahan lafadz Qunut terdapat 3 jalur yaitu:

Jalur Syu’bah bin Hajjaj (Murid Bureid)

Jalur Abu Yazid bin Jarrod (mutabi’nya Bureid)

Jalur Al-Hasan bin ‘Ubaidillah (Murid Bureid)

Jalur periwayatan yang ada tambahan lafadz Qunut terdapat 2 Jalur yaitu:

Jalur Yunus bin Aby Ishaq (Muridnya Bureid)

Jalur Al-‘Ala bin Sholih (Muridnya Bureid)

Jalur periwayatan yang goncang beberapa jalur tidak ada tambahan “Qunut” sebagian jalur lagi terdapat tambahan “Qunut”:

Jalur Abu Ishaq (Muridnya Bureid)

Terdapat 3 versi periwayatan di jalur Bureid ini. Dan jalur yang mahfudz adalah jalur periwayatan yang tidak ada tambahan “Qunut” dimana Syu’bah rowi paling Atsbat diantara rowi yang lainnya diikuti oleh 2 jalur lagi yang lurus selamat dari kegoncangan. Adapun jalur Yunus bin Aby Maryam lemah karena ia termasuk rowi yang shoduq yang keliru. Kemudian jalur Al-Ala juga lemah riwayat-riwayat yang dibawanya banyak kemungkaran menurut Ibnu Madiny. Untuk Jalur Abu Ishaq hemat penulis “Idltirob” sulit dalam pentarjihan disaat beberapa imam mukhorrij mengeluarkan riwayatnya berbeda-beda. Abu Ishaq memiliki kelemahan di akhir periwayatannya. dalam periwayatan ini Abu Ishaq diduga kuat sudah berubah hafalannya. Terakhir untuk jalur Al-Hasan bin ‘Ammaroh tidak diperhitungkan karena rowi ini Matruk. Atas dasar ini penulis menyimpulkan riwayat dari Al-Hasan bin ‘Aly ini yang benar tidak ada tambahan lafadz “Qunut”. Wallahu A’lam.  

Riwayat Ubay bin Ka’ab r.a

Untuk riwayat Ubay bin Ka’ab pun jalur periwayatannya sangat banyak. Untuk mempermudah penjabarannya penulis kutip bagan riwayat silsilah Ubay bin Ka’ab r.a:   Bagan 1: 3 Bagan 2: 4 (Catatan: data ini diambil dari riwayat-riwayat yang telah penulis kumpulkan dan kutip di catatan akhir) Lihat Bagan: Bagan riwayat diatas riwayatnya membahas tentang Shalat witir 3 rokaat, yg didalamnya rokaat pertama membaca “Sabbihis”. Rokaat kedua membaca: “Qulya Ayyuhal” dan rokaat ketiga : “Qulhuwallahu Ahad”. Semuanya bermuara ke Said bin Abdurrahman dari Abdurrahman r.a dari Ubay bin Ka’ab r.a dari nabi saw: sampai jalur ini sangat kuat semuanya tsiqoh: Sahabat nabi saw dan sa’id sebagai tabiin Tsiqoh. Setelah itu dari said terdapat 5 orang rowi yang meriwayatkan, yaitu:

‘Azroh bin Abdurrohman: Tsiqotun. (Syaikh Qotadah)

Dzarr bin Abdullah: Tsiqotun ‘Abidun

Qotadah bin Di’amah: Tsiqotun tsabtun

Urwah bin Al-Harits: Tsiqotun

Zubaid bin Al-Harits: Tsiqotun tsabtun ‘Abidun.

kelima rowi diatas tsiqoh sampai sini jalur sangat kuat. Dan yang terkuat dari kelima rowi diatas adalah Zubaid (Tsiqotun Tsabtun ‘Abidun) Berikut penjelasan 5 rowi kebawahnya:

Riwayat ‘Azroh bin Abdurrahman:

Pada riwayat ‘Azroh ini hanya terdapat 1 jalur : ‘Azroh>> Qotadah>> Said bin Aby Arubah>> Abdul Aziz>> Yahya>> An.Nasai no.1701. (Lihat bagan hadits 2). Dijalur ini semua rowi tsiqoh kecuali rowi abdul aziz : “maqbul” Atas dasar itu maka jalur Azroh ini Hasan. Apa yang diriwayatkan pada jalur ini? Berikut H.R.An-Nasai no.1701:

 أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، قال: أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، قال: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَزْرَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ، وَيَقُولُ: يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا "

 Diriwayat ini isinya tentang bacaan surat pada shalat witir diakhiri setelah salam membaca “Subhanal Malikul Quddus”. dan tidak kita dapatkan Qunut.  

Riwayat Dzarr bin Abdullah: (Tsiqotun ‘Abidun)

Pada riwayat Dzarr ini terdapat 2 jalur kebawah (lihat bagan berikut no.haditsnya). Jalur 1: Dzarr>> Tholhah>> Al-A’masy>> Abu Ubaiah>> Muhammad bin Abu Ubaidah. Dari Ibnu Aby Ubaidah diriwayatkan oleh 6 rowi Yaitu: Ibn Aby Syaibah (Abdullah penyusun Mushonnaf), Muhammad bin Husain, Utsman bin Aby Syaibah, Abu Ja’far, Muhammad bin Said, dan Muhammad bin Abdullah. Di jalur ini kuat sekali: Tholhah bin mushorrif Al-yamy: Tsiqotun Qori’un Fadlilun.[16] Sulaiman bin Mihron Al-A’masy: Tsiqotun Hafidzun [17] Abu Ubaidah:Namanya Abdul Malik bin Ma’an: Tsiqotun [18] Muhammad bin Aby Ubaidah: Tsiqotun [19] Ibn Aby Syaibah (Mushonnaf): Tsiqotun Hafidzun Shohibu Tashonif [20] Rowi yang lainnya Mutabi bagi Ibn Aby Syaibah. Atas dasar ini maka jalur ini adalah Shahih. (Jalur terkuat) Apa yang diberitakan pada jalur ini? Berikut haditsnya Ibn Aby Syaibah no. 7 (mewakili no.3-4-5-10-11-17-21-26-27: untuk nomor-nomor hadits ini lihat teks haditsnya di paling bawah) :

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقُولُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا "

. Pada jalur terkuat ini isinya sama dengan jalur AZROH yakni tentang bacaan surat pada shalat witir diakhiri setelah salam membaca “Subhanal Malikul Quddus”. dan tidak kita dapatkan Qunut. Begitupun 5 riwayat lainnya sebagai mutabi bagi Ibn Aby Syaibah sama tanpa ada Qunut (jalur tanpa  Qunut semakin kokoh) Jalur 2 : Dzaar>> Zubaid. Dari Zubaid diriwayatkan oleh 3 rowi yaitu: jarir, Sufyan dan A’masy.

JARIR>>Abu Umar Ad-Dlorir>> Ibn Abdurrohman Al-Bazzaz>> Abdullah>> Imam Ahmad.

Jarir rowi tsiqoh di kitabnya, apabila dihafalannya lemah. Namun disini jarir ada 2 rowi yang menjadi mutabi.nya yaitu sofyan dan A’masy. Karena itu dalam periwayatan ini jarir dpastikan meriwayatkan dari kitabnya.

Abu Umar Ad-Dorir (Shoduq ‘Alimun)[21].

Muhammad bin Abdurrahim Al-Bazzaz (Tsiqotun Hafidzun)[22].

JALUR INI HASAN (lihat hadits 6 No. 21143 Riwayat Ahmad )

At-Tsaury>> Wakie’>> Ishaq bin Ibrohim>> Al-Marwazy (Musnad)

Sufyan bin Said aTs-Tsaury: (Tsiqotun hafidzun)

Wakie’ bin Jarroh : (Tsiqotun Abidun Hafidzun [23]).

Ishaq bin Ibrohim bin Makhlad: (Tsiqotun Hafidzun Mujtahidun [24])

Al-Marwazy: Muhammad bin Nasr (Tsiqotun Hafidzun) [25]

JALUR INI SHOHIH (lihat hadits 9 no.387 Riwayat Al-Marwazy)  

Al-A’masy>> Abu Ja’far>> Abdurrahman Ad-Dasyataky>> Ibn Buker>> Ibn Zuhaer>> Asy-Syasyiy (Musnad).

Al-A’masy: (Tsiqotun Hafidzun [26])

Abu Ja’far (Isa bin Abi Isa): Shoduq buruk hafalan[27].

Abdurrohman bin Abdullah Ad-Dasytaky (Tsiqotun)[28]

Muhammad bin Buker: Shoduq Yukhty [29]

Ahmad bin Zuher bin Harb: Tsiqotun [30]

JALUR INI HASAN LIGHOIRIH (lihat hadits 16 no.1433 Riwayat Asy-Syasyie) Dari ketiga jalur diatas yang terkuat dan shohih adalah riwayat Al-Marwazy dari Ishaq. Apa yang diriwayatkan oleh ketiga jalur diatas dari Zubaid dari Dzarr? Berikut haditsnya:

 حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي آخِرِ صَلاتِهِ فِي الْوِتْرِ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، ثَلاثًا، يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ ". وَفِي رِوَايَةٍ: كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مِرَارٍ، يَمُدُّ بِالثَّالِثَةِ صَوْتَهُ حَتَّى يَنْقَطِعَ نَفَسُهُ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَإِذَا سَلَّمَ وَفَرَغَ، قَالَ: فَذَكَرَهُ، إِلا أَنَّهُ قَالَ: وَطَوَّلَ الثَّالِثَةَ. وَفِي أُخْرَى: كَانَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الْوِتْرِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " يُطَوِّلُهَا ثَلاثَ مِرَارٍ 

Pada riwayat Zubaid ini ketiga jalur ini isinya sama dengan jalur AZROH yakni tentang bacaan surat pada shalat witir diakhiri setelah salam membaca “Subhanal Malikul Quddus”. dan tidak kita dapatkan Qunut. (jalur tanpa  Qunut semakin kokoh)  

Riwayat Qotadah bin Di’amah (Tsiqotun Tsabtun)

Pada jalur ini Qotadah langsung dapat riwayat dari Said bin Abdurrohman. Said>> Qotadah>> Said bin Aby Arubah>> Isa bin Yunus.

Said bin Aby Arubah: Tsiqotun Hafidzun [31]

Isa bin Yunus bin Aby Ishaq: Tsiqotun Ma-munun [32]

Dari Isa bin Yunus diriwayatkan oleh dua orang rowi, yaitu: Ishaq dan Musayyab.

Ishaq bin Ibrohim bin Makhlad : Tsiqotun Hafidzun Mujtahidun [33]

Musayyab bin Wadlih : Shoduq tapi banyak keliru [34]

Di jalur Ishaq bin Ibrohim riwayatnya sama dengan riwayat ‘Azroh dan Dzar yang jalur riwayatnya sangat kuat yakni tidak ada qunut. Berikut haditsnya Hadits 8 No. 159 Riwayat Al-Marwazy :

 حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفَى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ". وَفِي رِوَايَةٍ: ب: " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَ آمَنَ الرَّسُولُ ". وَفِي رِوَايَةٍ: " وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ". ثَلاثَ مَرَّاتٍ. وَفِي أُخْرَى: " فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ". ثَلاثًا وَيَمُدُّ فِي الثَّالِثَةِ. وَفِي لَفْظٍ: " وَيَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ " 

Riwayat Al-Marwazy ini diikuti oleh Riwayat At-Thobarony dari Ishaq lewat Musa bin Harun Al-Hammal yang tsiqoh. (lihat Hadits 14 No. 8115) Adapun di jalur Musayyab bin Wadlih riwayatnya ADA TAMBAHAN QUNUT. Berikut riwayatnya hadits 118 no. 1659 Riwayat Ad-Daroqutny dan juga Al-Baihaqy hadits 23 no.4861:

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا الْمُسَيَّبُ بْنُ وَاضِحٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: رُبَّمَا قَالَ الْمُسَيَّبُ، عَنْ عَزْرَةَ، وَرُبَّمَا لَمْ يَقُلْ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيهَا بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ "، مَرَّتَيْنِ يُسِرُّهُمَا وَالثَّالِثَةَ يَجْهَرُ بِهَا، وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ 

Di jalur Musayyab ini ada tambahan Qunut dan beliau rowi yang banyak salah. Sedangkan di jalur Ishaq yang Tsiqoh tidak ada tambahan  Qunut. Ini jelas riwayat Musayyab adalah MUNKAR.  

Riwayat URWAH BIN AL-HARITS (Tsiqotun)

Hadits 20 H.R. Ibnu Sunniy No. 706

 أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِيُّ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، رَضِيَ اللَّـهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِـ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِـ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَلا يُسَلِّمُ إِلا فِي آخِرِهِنَّ، يَقُولُ بَعْدَ التَّسْلِيمِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثًا 

Pada riwayat URWAH ini Qotadah meriwayatkan juga tanpa Qunut. Artinya qotadah bin Di’amah punya 3 jalur ke Said bin Abdurrohman. Jalur pertama beliau dapat dari AZROH dulu (lihat bagan atau hadits 2), jalur kedua langsung dari Said bin Abdurrohman (lihat bagan atau hadits 8) , jalur ketiga dari URWAH dulu (pembahasan sekarang). Cara periwayatan seperti ini tidak ada masalah sepanjang isi riwayatnya sama, masih sezaman dengan Said dan rowi diatasnya adalah guru bagi Qotadah. Namun apabila kita telusuri silsilah periwayatan Qotadah ke Urwah itu tidak ada. Dan illat ini diketahui oleh beberapa Imam diantaranya: قال أبو داود لم يسمع قتادة من عروة شيئا. Abu Daud berkata: Qotadah tidak mendengar dari Urwah sedikitpun. قيل له فالقاسم وسالم وعروة قال لم يسمع منهم Dikatakan (kepada Ahmad bin Hanbal oleh Abdullah anaknya) tentang Qotadah: Qotadah tidak mendengar dari Qosim, Salim dan Urwah”. Ini adalah Ilal bagi Qotadah. Namun apakah di jalur  ini kekeliruan Qotadah? Coba kita sedikit membandingkan dengan Jalur di awal yaitu jalur Azroh. Jalur Azroh :

 أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، قال: أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، قال: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَزْرَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ ........   

Jalur Urwah : 

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِيُّ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، رَضِيَ اللَّـهُ عَنْهُ  قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ ........ 

Coba kita perhatikan pada kedua jalur ini terdapat persamaan :

Jalur Azroh Sanad Qotadah ke bawah: Qotadah>> Said bin Aby Arubah>> Abdul Aziz>> Yahya bin Musa.

Jalur Urwah Sanad Qotadah ke bawah: Qotadah>> Said bin Aby Arubah>> Abdul Aziz>> Yahya bin Musa.

Kedua jalur ini sama. Jalur Azroh diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i. adapun Jalur Urwah diriwayatkan oleh Ibnu Sunny lewat Abu Abdurrohman. Dari sini kemungkinannya adalah Riwayat Ibnu Sunny ada kesalahan nama. Ini dikenal dalam Ilmu Mustholah adalah “Mushohhaf”. Penilaian “Mushohhaf” ini dari penulis di dasari oleh:

Urwah bukan gurunya Qotadah dan tidak pernah mendengar riwayat darinya. Sedang ‘Azroh riwayat An-Nasai guru dekatnya Qotadah.

Karena isi matan dan Jalur sanad Qotadah kebawahnya sama

Ana belum mengenal gurunya Ibnu Sunny yakni Abu ‘Abdurrohman ini siapa? Kemungkinan kelirunya dirowi ini atau bisa juga Ibnu Sunny.

Terdapat kemiripan nama antara ‘Azroh dan ‘Urwah dalam tulisan:

عزرة  -  عروة Kekeliruan penulisan ini biasa terjadi dalam system “Tashnif”. Dan ini bisa didapatkan di beberapa riwayat. Silahkan pelajari tentang “Mushohhaf”. Kesimpulannya Nama Rowi ‘Urwah dalam periwayatan Sholat Witir ini hakikatnya tidak ada walau matannya sama dengan rowi ‘Azroh. Dan yang mahfudz (terpelihara) adalah apa yang diriwayatkan  Imam An.Nasai no.1701 yaitu ‘Azroh ke Qotadah (pembahasan ‘Azroh ke Qotadah sudah dibahas diawal). Masuk penjelasan terakhir jalur Zubaid  

Riwayat ZUBAID AL-HARITS: Tsiqotun tsabtun ‘Abidun.

Pada jalur Zubaid dari Said bin Abdurrohman bin  Al-Abza ini terdapat 3 rowi yang meriwayatkan (lihat skema gambar) yaitu: 1- Zubaid>> Fitr>> isa bin yunus>> ‘Aly bin Hasyrom>> Abdullah (hadits no.19-24) 2- Zubaid>> Sufyan>> Makhlad (hadits no.1-13-22-28) 3- Zubaid>> Mis’ar>> Hafs bin Ghiyats>> Umar bin Hafs (hadits no.12-15-25) Ketiga rowi diatas yaitu Fitr, Sufyan dan Mis’ar meriwayatkan dari Zubaid.   Penjelasan:: JALUR ZUBAID KE FITR. Zubaid>> Fitr>> isa bin yunus>> ‘Aly bin Khosyrom>> Abdullah (hadits no.19-24) * Zubaid: Tsiqotun tsabtun ‘Abidun. * Fitr bin Kholifah: hanya dapat nilai Shoduq (Ibn Hajar). * Isa bin Yunus bin Aby Ishaq: Tsiqotun Ma-munun. [35] * ‘Ali bin Khosyrom : Tsiqotun. [36] * ‘Abdullah bin Sulaiman bin Al-‘Asy-‘Ats: terdapat kritikan dari ayahnya abu daud: “dia pendusta”. Imam Ad-Daroquthny mengatakan: “Tsiqoh namun dia banyak salah dalam perkataannya pada hadits [37] Apa yang diriwayatkan pada Jalur ini? Berikut riwayatnya: Hadits 19 riwayat Ad-Daroquthny no.1660 dan hadits 24 riwayat Al-Baihaqy no.4862: 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ، فِي الأَخِيرَةِ يَقُولُ: رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ "

 Di jalur ini pembahasan sholat witir nya terdapat tambahan Qunut. Dengan melihat jalur diatas Nampak jelas hadits munkar dengan sanadnya parah. Disamping terdapat rowi Abdullah bin Sulaiman yang dinilai “pendusta” oleh ayahnya (Abu daud). Penilaian dusta dari ayahnya ini difahami karena kekeliruannya dalam sanad dan dinilai banyak salah dalam hadits oleh Imam Ad-Daroquthny. Juga jalur ini ada keanehan pada munculnya rowi FITR BIN KHOLIFAH?. Fitr bin Kholifah tidak ada sanad keguruan dengan Zubaid dan juga ke Isa bin Yunus. Ini jelas ghorib. Keanehan sanad ini ditimbulkan siapa lagi kalau bukan oleh Abdullah bin Sulaiman? JALUR ZUBAID KE FITRH RIWAYATNYA MUNKAR. Berikutnya:   JALUR ZUBAID KE SOFYAN: Zubaid>> Sufyan>> Makhlad (hadits .1-13-22-28) Dari hadits 1-13-22-28 diatas (lihat bagan dan haditsnya diatas) ke empat riwayatnya bermuara ke Makhlad bin Yazid. Zubaid dan Sufyan sudah dibahas keduanya rowi tsiqoh dan kuat. Adapun Makhlad? Makhlad bin Yazid: rowi ini telah dinilai oleh Imam Ahmad: “La ba’sa bih Wakaana Yahim” (tidak apa-apa tapi dia ada keliru). Abu Hatim : “Shoduq”. Adapun Yahya bin Main menilai “Tsiqoh” [38]. Dari semua penilaian ini Ibnu Hajar menyimpulkan: “Shoduq Lahu Auham”. (Shoduq tapi banyak kekeliruan). Apa yang diriwayatkan pada jalur ini? Berikut riwayatnya: hadits 1 riwayat An-Nasai No.1699 (dan juga mewakili hadits 13-22-28):

 أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، قال: حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ " 

Di jalur ini pembahasan Sholat witirnya terdapat Qunut. Dengan melihat penilaian diatas jalur ini bermasalah di rowi MAKHLAD. * Rowi ini dinilai suka keliru dalam riwayat. Bahkan dinilai banyak kekeliruan oleh Ibn Hajar dengan derajat Shoduq. * Penilaian Tsiqoh dari Ibnu Main pada riwayat ini tidak terbukti. Karena riwayat yang ada tambahan Qunut ini menyelisihi riwayat yang lebih kuat tanpa Qunut dengan rowi-rowinya tsiqoh tanpa cacat. Sedangkan Makhlaq banyak keliru. * Jalur ini menyelisihi riwayat Wakie’ dari Sofyan di jalur Dzarr (sudah dibahas diatas) berikut penilaian kedua Jalurnya: * Said bin Abdurrohman>> Dzarr>> Zubaid>> Sufyan>> Wakie’ (hadits 9) * Said bin Abdurrohman>> Zubaid>> Sufyan>> Makhlad (hadits 1)   Dengan memperhatikan kedua jalur ini Nampak jelas kekeliruan Makhlad terdapat 2 hal: >> Makhlad keliru meriwayatkan seharusnya dari Zubaid itu ke Dzarr dulu baru ke Said seperti riwayat Wakie’ yang tsiqotun ‘Abidun Tsabtun. >> Juga Makhlad keliru meriwayatkan dengan ada tambahan Qunut padahal jalur Wakie yang kuat tidak ada tambahan Qunut. JALUR MAKHLAD MUNKAR menyelisihi riwayat WAKIE’. Pembahasan terakhir berikutnya: JALUR ZUBAID KE MIS’AR. Zubaid>> Mis’ar>> Hafs bin Ghiyats>> Umar bin Hafs (hadits no.12-15-25) Berikut riwayatnya: hadits 15 riwayat Asy-Syasyiy no.1432:

 حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ، نا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، نا أَبِي، عَنْ مِسْعَرٍ، حَدَّثَنِي زُبَيْدُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ لا يُسَلِّمُ فِيهِنَّ حَتَّى يَنْصَرِفَ، أَوَّلُ رَكْعَةٍ بِ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَالثَّانِيَةُ بِ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَالثَّالِثَةُ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَأَنَّهُ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ عَنْ صَلاتِهِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ مَرَّتَيْنِ، يَرْفَعُ صَوْتَهُ وَيَجْهَرُ بِالثَّالِثَةِ " 

Penilaian Rowi: * Mis’ar bin Kidam: Tsiqotun Tsabtun [39] * Hafs bin Ghiyats: Tsiqotun Faqihun berubah hafalannya sedikit di akhir [40] * Umar bin Hafs: Tsiqotun boleh jadi ada kelirunya [41] Di jalur Mis’ar ini terdapat tambahan Qunut pada Shalat Witirnya. Dimana pada riwayat ini terdapat dua rowi yang memiliki kekurangan yaitu Umar dan Hafs (Anak Ayah) Hafs ini rowi yang banyak meriwayatkan hadits berbeda dengan Anaknya yaitu Umar sedikit dalam periwayatan. Hafs ini rowi tsiqoh namun dinilai Mukhtalith (pikun) di  akhir hidupnya. Adapun anaknya yaitu Umar juga rowi tsiqoh namun dinilai bisa terjadi kekeliruan dalam haditsnya (Wahm). Jalur riwayat ini pada dasarnya baik namun apabila kita bandingkan dengan riwayat yang lain dari Zubaid nampaklah kekeliruan Umar bin Hafs ini. Berikut perbandingannya: * Zubaid>> Jarir ((lihat hadits 6 No. 21143 Riwayat Ahmad ) Hasan Lidzatih. * Zubaid>> Sufyan>> Wakie’ (lihat hadits 9 riwayat Al-Marwazy no.387) Shohih jalur terkuat. * Zubaid>> Al-A’masy (lihat hadits 16 no. 1433 Riwayat Asy-Syasyiy) Hasan Lighoirih. Ketiga jalur ini dari Zubaid pembahasan sholat witir tanpa tambahan Qunut. Jalur Zubaid ke  Sufyan sangat kuat. Rowinya semua tsiqoh tanpa ada rowi yang wahm dan Mukhtalit. Ditambah ketiga jalur ini dikuatkan oleh  jalur ‘AZROH, THOLHAH, DAN QOTADDAH. Jalur jalur ini semua shohih meriwayatkan sholat witir tanpa ada tambahan witir. Adapun jalur Zubaid>> Mis’ar>> Hafs>> Umar bin Hafs. Jalur ini terdapat tambahan Qunut pada witir. Tinggal bertanya: apakah riwayat dari Umar yang ada Wahm (sifat keliru) diterima riwayatnya sebagai Ziyadatu Tsiqoh ke 6 riwayat yang tidak ada tambahan Qunut? Dimana ke 6 riwayat yang tidak ada tambahan Qunut terdapat 3 jalur kuat Shohih yaitu jalur THOLHAH, QOTADAH dan jalur ZUBAID ke SUFYAN?   Jalur Zubaid ke Mis’ar ini riwayatnya SYAD. Terdapat Umar rowi yang sedikit riwayat dan ada kelirunya. Kesimpulan: Dari hasil seluruh analisa riwayat yang padanya terdapat qunut pada Sholat witir di jalur Ubay bin Ka’ab adalah dloif. Hemat penulis telah tepat Imam Ahmad meragukan keseluruhan riwayatnya. Imam Ibnu Khuzaimah mengatakan: وشعبة أحفظ من عدد مثل يونس بن أبي إسحاق و أبو إسحاق لا يعلم أسمع هذا الخبر من بريد أو دلّس عنه. “Dan Syu’bah lebih hafidz daripada sejumlah para rowi lain seperti Yunus bin Aby Ishaq dan bapaknya Abu Ishaq juga tidak diketahui apakah ia mendengar berita ini dari Bureid (langsung) atau ia bertadlis darinya”. Permasalahan ini memang cukup rumit disaat terjadi pro kontra dalam menyikapi Fiqih Hadits, yang pada akhirnya penulis menghargai yang menilai riwayat tentang ini baik. Demikian pembahasan Qunut witir ini yang bisa penulis paparkan. (Bersambung ke Qunut Shubuh)   Akhukum Fillah abu-aqsith.com Dadi Herdiansah, Pameungpeuk-Bandung Jawa Barat Indonesia.       Daftar riwayat-riwayat Qunut Witir Jalur Ubay bin Ka’ab sesuai urutan Nomor: H.R. An-Nasai Hadits 1 No.1699:

 أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، قال: حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، كَانَ يَقْرَأُ فِي الْأُولَى بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا فَرَغَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ " Hadits 2 No. 1701: أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، قال: أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، قال: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَزْرَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ، وَيَقُولُ: يَعْنِي بَعْدَ التَّسْلِيمِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا " Hadits 3 No. 1729: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِشْكَابَ النَّسَائِيُّ، قال: أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، قال: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قال: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ " H.R.Abu Daud Hadits 4 No. 1430 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ الْأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الْأَيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " H.R. Ahmad Hadits 5 No. 21142: حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ، حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الإِيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوَتْرِ ب سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ " Hadits 6 No. 21143: حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْبَزَّازُ، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ الضَّرِيرُ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ H.R. Ibnu Aby Syaibah Hadits 7 No. 6960 &  no. 30330: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقُولُ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا " H.R. Al-Marwazy Hadits 8 No. 159: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفَى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ". وَفِي رِوَايَةٍ: ب: " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَ آمَنَ الرَّسُولُ ". وَفِي رِوَايَةٍ: " وَيَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ". ثَلاثَ مَرَّاتٍ. وَفِي أُخْرَى: " فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ". ثَلاثًا وَيَمُدُّ فِي الثَّالِثَةِ. وَفِي لَفْظٍ: " وَيَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ " Hadits 9 No. 387: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِي آخِرِ صَلاتِهِ فِي الْوِتْرِ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، ثَلاثًا، يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ ". وَفِي رِوَايَةٍ: كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مِرَارٍ، يَمُدُّ بِالثَّالِثَةِ صَوْتَهُ حَتَّى يَنْقَطِعَ نَفَسُهُ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَإِذَا سَلَّمَ وَفَرَغَ، قَالَ: فَذَكَرَهُ، إِلا أَنَّهُ قَالَ: وَطَوَّلَ الثَّالِثَةَ. وَفِي أُخْرَى: كَانَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الْوِتْرِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " يُطَوِّلُهَا ثَلاثَ مِرَارٍ H.R. Ath-Thoyalisy Hadits 10 No. 548: رَوَاهُ الأَعْمَشُ، عَنْ طَلْحَةَ، وَزُبَيْدٍ، عَنْ ذَرٍّ، عَنِ ابْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ H.R. Ibnul Jaruud Hadits 11 No. 271: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ أَبُو شَيْبَةَ، قَالَ: ثَنَا ابْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، قَالَ: ثَنَا أَبِي، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الْيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ H.R. Ath-Thohawy Hadits 12 No. 4501: كَمَا قَدْ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ الْبُخَارِيُّ الأَحْوَلُ وَغَيْرُهُ، قَالُوا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الْحَنْظَلِيُّ الرَّازِيُّ أَبُو حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثَ رَكَعَاتٍ لا يُسَلِّمُ فِيهِنَّ حَتَّى يَنْصَرِفَ، أَوَّلُ رَكْعَةٍ بِـ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَالثَّانِيَةُ بِـ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَالثَّالِثَةُ بِـ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَأَنَّهُ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ مِنْ صَلاتِهِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، مَرَّتَيْنِ يَرْفَعُ صَوْتَهُ، وَيَجْهَرُ بِالثَّالِثَةِ " Hadits 13 No. 4503: فَوَجَدْنَا عَلِيَّ بْنَ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ الرَّازِيَّ، قَدْ حَدَّثَنَا قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْحَرَّانِيُّ الأَصَمُّ، وَإِسْحَاقُ بْنُ زُرَيْقٍ بِرَأْسِ الْعَيْنِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ الْحَرَّانِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ زُبَيْدٍ الْيَامِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي الثَّانِيَةِ بِـ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِـ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا سَلَّمَ وَفَرَغَ، قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ، يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ H.R. Ath-Thobarony Hadits 14 No. 8115: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، نا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلَكُ الْقُدُّوسُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ، وَمَدَّ بِالأَخِيرَةِ صَوْتَهُ، وَيَقُولُ: رَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ "، لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ قَتَادَةَ، إلا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عُرْوَةَ، تَفَرَّدَ بِهِ: عِيسَى بْنُ يُونُسَ H.R. Asy-Syaasyiy Hadits 15 No. 1432: حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ، نا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، نا أَبِي، عَنْ مِسْعَرٍ، حَدَّثَنِي زُبَيْدُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ  كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ لا يُسَلِّمُ فِيهِنَّ حَتَّى يَنْصَرِفَ، أَوَّلُ رَكْعَةٍ بِ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَالثَّانِيَةُ بِ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَالثَّالِثَةُ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَأَنَّهُ قَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ عَنْ صَلاتِهِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ مَرَّتَيْنِ، يَرْفَعُ صَوْتَهُ وَيَجْهَرُ بِالثَّالِثَةِ " Hadits 16 No. 1433: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ زُهَيْرِ بْنِ حَرْبٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ بُكَيْرٍ الْحَضْرَمِيُّ، نا الدَّشْتَكِيُّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ، وَزُبَيْدِ، عَنْ ذَرٍّ، عَنِ ابْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ "، فَذَكَرَ الْحَدِيثَ Hadits 17 No. 1435: وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ يَعْنِي ابْنَ الأَصْبَهَانِيِّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْ صَلاتِهِ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ " H.R. Ad-Daroquthny Hadits 18 No. 1659: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا الْمُسَيَّبُ بْنُ وَاضِحٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: رُبَّمَا قَالَ الْمُسَيَّبُ، عَنْ عَزْرَةَ، وَرُبَّمَا لَمْ يَقُلْ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيهَا بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ "، مَرَّتَيْنِ يُسِرُّهُمَا وَالثَّالِثَةَ يَجْهَرُ بِهَا، وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ Hadits 19 No. 1660: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ، فِي الأَخِيرَةِ يَقُولُ: رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ " H.R. Ibnu Sunniy Hadits 20 No. 706 أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ، ثنا يَحْيَى بْنُ مُوسَى الْبَلْخِيُّ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ خَالِدٍ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، رَضِيَ اللَّـهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِـ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِـ: قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِـ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَلا يُسَلِّمُ إِلا فِي آخِرِهِنَّ، يَقُولُ بَعْدَ التَّسْلِيمِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثًا H.R. Ibnu Hibban Hadits 21 No. 2450 أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِ: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ H.R. Athusy Hadits 22 No. 439 نا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ الْجُرْجَانِيُّ، قَالَ: نا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ، قَالَ: نا سُفْيَانُ، عَنْ زُبَيْدٍ الإِيَامِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: " أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِي الأُولَى بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي الثَّانِيَةِ بِـ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ بِـ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا فَرَغَ وَسَلَّمَ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلاثَ مَرَّاتٍ يُطَوِّلُ فِي آخِرِهِنَّ. هَذَا حَدِيثٌ " حَسَنٌ غَرِيبٌ ". H.R.Al-Baihaqy Hadits 23 No. 4861: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ، أنبأ عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ الْحَافِظُ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا الْمُسَيَّبُ بْنُ وَاضِحٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ سُلَيْمَانَ: رُبَّمَا قَالَ الْمُسَيَّبُ، عَنْ عَزْرَةَ، وَرُبَّمَا لَمْ يَقُلْ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ يَقْرَأُ فِيهَا بِـف سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَىق، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَكَانَ يَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَكَانَ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " مَرَّتَيْنِ يُسِرُّ بِهِمَا، وَالثَّالِثَةُ يَجْهَرُ بِهَا، وَيَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ " Hadits 24 No. 4862: وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، أنبأ عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ: بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِي الآخِرَةِ يَقُولُ: " رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ " Hadits 25 No. 4864: أَخْبَرَنَا بِحَدِيثِ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ الإِسْفَرَايِينِيُّ بْنُ السَّقَّا بِنَيْسَابُورَ، أنبأ أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادَةَ الْقَطَّانُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُونُسَ، ثنا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، ثنا أَبِي، عَنْ مِسْعَرٍ، حَدَّثَنِي زُبَيْدٌ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ لا يُسَلِّمُ فِيهِنَّ حَتَّى يَنْصَرِفَ، الأُولَى بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَالثَّانِيَةِ بِـ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَالثَّالِثَةِ بِـ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " مَرَّتَيْنِ، وَرَفَعَ صَوْتَهُ فِي الثَّالِثَةِ " Hadits 26 No. 4869: وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ، أنبأ أَبُو بَكْرِ بْنُ دَاسَةَ، ثنا أَبُو دَاوُدَ، أنبأ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، ثنا أَبِي، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الأَيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَإِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " H.R. Ad-Dliyaa’ Al-Maqdisy Hadits 27 No. 1220: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ الْحَرْبِيُّ، بِهَا، أَنَّ هِبَةَ اللَّهِ أَخْبَرَهُمْ، أنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، أنا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ، حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدَةَ، نا أَبِي، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ طَلْحَةَ الْيَامِيِّ، عَنْ ذَرٍّ، عَنِ ابْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ Hadis 28 No. 1221: وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْفَتْحِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي الْفَتْحِ الْحُرْفِيُّ، فِي كِتَابِهِ مِنْ أَصْبَهَانَ، أَنَّ أَبَا مُحَمَّدٍ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ حُمَيْدِ بْنِ الْحَسَنِ الدُّونِيَّ أَخْبَرَهُمْ، قِرَاءَةً عَلَيْهِ، أنا أَبُو نَصْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ الْكَسَّارِ الدِّينَوَرِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ السُّنِّيِّ، نا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَحْمَدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ عَلِيٍّ النَّسَائِيُّ، نا عَلِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ، نا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ بِثَلاثِ رَكَعَاتٍ، كَانَ يَقْرَأُ فِي الأُولَى: بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي الثَّانِيَةِ بِ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَفِي الثَّالِثَةِ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، فَإِذَا فَرَغَ، قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ، يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ. كَذَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ. وَأَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ: أَنَّ النَّبِيَّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَلَّمَ فِي الْوِتْرِ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ "، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي عُبَيْدَةَ   H.R. Ath-Thobarony : Mu’jamul Ausath. Hadits 29 No.8115 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، نا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " يُوتِرُ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلَكُ الْقُدُّوسُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ، وَمَدَّ بِالأَخِيرَةِ صَوْتَهُ، وَيَقُولُ: رَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ "، لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ قَتَادَةَ، إلا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عُرْوَةَ، تَفَرَّدَ بِهِ: عِيسَى بْنُ يُونُسَ H.R. Ad-Daroquthny. Hadits 30 No. 1660 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ بِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ، وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ، ثَلاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ، فِي الأَخِيرَةِ يَقُولُ: رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ " H.R. Al-Baihaqy. Hadits 31 No. 4862 وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، أنبأ عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الأَشْعَثِ، ثنا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، ثنا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ فِطْرٍ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِثَلاثٍ: بِـ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَ قُلْ يَأَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ فَإِذَا سَلَّمَ، قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِي الآخِرَةِ يَقُولُ: " رَبِّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ "   

Dengan 31 riwayat diatas Nampak jelas beberapa riwayat yang terdapat tambahan “Qunut” adalah dibawa oleh rowi-rowi yang lemah disaat rowi-rowi yang kuat di jalurnya tidak terdapat tambahan “Qunut”. (Catatan: khusus riwayat no.14, 19, 24, 29, 30, 31 riwayat yang terdapat tambahan “Robbul Malaikati Warruhi” adalah Ma’lul (cacat) disebabkan melalui seorang rowi yang bernama Isa bin Yunus) Selain 31 riwayat dari Ubay bin Ka’ab diatas, sebenarnya di dapatkan juga riwayat Abdurrohman bin Abza r.a yang mencapai 34 riwayat tanpa melewati Ubay bin Kaab r.a yang semua riwayatnya tidak ada satupun jalur yang padanya terdapat tambahan “Qunut” namun penulis merasa tidak diperlukan lagi pembahasan sanadnya. Cukup dengan riwayat riwayat di jalur Ubay bin Ka’ab terlihat jelas kemungkaran riwayat yang padanya terdapat tambahan lafadz “Qunut”. Wallahu A’lam [1] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.165. No.rowi 665. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [2] Kitab  Al-Jarh Wa At-Ta’dilu. Juz 5 hal. 365. Cet.Ihyau At-Turots Al-‘Aroby. [3] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.739. No.rowi 5100. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [4] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.436. No.rowi 2805. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [5] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1097. No.rowi 7956. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [6] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.240. No.rowi 1274. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [7] Kitab  Mizanul I’tidal. Hal.165. No.rowi 665. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [8] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 6 hal.200 [9] Kitab  Taqribu Tahdzib. Hal.983. No.rowi 7041. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [10] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 24 hal.583 [11] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 10 hal.391 [12] Kitab  Taqribu Tahdzib. Hal.344. No.rowi 2081. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [13] Kitab  Taqribu Tahdzib. Hal.432. No.rowi 2765. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [14] Kitab  Taqribu Tahdzib. Hal.692. No.rowi 4747. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [15] Kitab  Taqribu Tahdzib. Hal.1060. No.rowi 7642. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [16] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.465. No.rowi 3051. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [17] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.414. No.rowi 2630. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [18] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 18 hal.417 [19] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 26 hal.75 [20] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.540. No.rowi 3600. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [21] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.259. No.rowi 1430. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [22] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.872. No.rowi 6131. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [23] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1037. No.rowi 7464. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [24] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.126. No.rowi 334. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [25]  Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.902. No.rowi 6392. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [26] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.414. No.rowi 2630. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [27] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.1126. No.rowi 8077. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [28] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.585. No.rowi 3939. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [29] [29] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.829. No.rowi 5802. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [30] Kitab Lisanul Mizan; Ibn Hajar. Juz 1 hal.463 No.514 cet.Maktabah Al-Matbu’at Al-Islamiyah [31] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.384. No.rowi 2378. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [32] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.773. No.rowi 5376. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [33] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.126. No.rowi 334. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [34] Kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil. Ibn Aby Hatim. Juz 8 Hal.284 No rowi 1355. Cet. Ihya Turots Al-‘Aroby. [35] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.773. No.rowi 5376. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [36] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.695. No.rowi 4763. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [37] Kitab Mizanul I’tidal. Adz-Dzahaby. Juz 4 Hal.113. No.rowi 4373. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah. [38] Kitab Tahdzibul Kamal; Al-Mizzy. Juz 27 hal.345 [39] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.936. No.rowi 5376. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [40] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.260. No.rowi 6649. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [41] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.716. No.rowi 4914. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

© 2023 Pimpinan Persatuan Islam — Cahaya Islam Berkemajuan.

Hukum Qunut Witir Part 1


Dikutip dari Persis.co.id

Takhrij Qunut dalam Witir Hadits-Hadits Marfu' Bag. I

 BY HENDI SANTIKA — 16 AGUSTUS 2016

 0

ولم يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في قنوت الوتر قبل أو بعد شيء 

Imam Ahmad berkata: “Tidaklah benar datang dari Nabi saw tentang Qunut witir sebelum atau sesudahnya”. [1] Atas penyataan Imam Ahmad demikian penulis tertarik untuk menganalisa riwayat-riwayat tentang Qunut witir ini. Apa yang menjadi landasan Imam Ahmad berkata demikian? Berikut analisa riwayat-riwayat marfu yang telah penulis kumpulkan:

Riwayat Ali r.a:

Riwayat 1:

حدثنا عبد الصمد بن علي حدثنا عبد الله بن غنام حدثنا عقبة ابن مكرم حدثنا يونس بن بكير حدثنا عمرو بن  شمر عن سلام عن سويد بن غفلة قال: سمعت أبا بكر و عمر و عليا و عثمان يقولون : قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في آخر الوتر، وكانوا يفعلون ذالك. “Rasulullah saw melakukan Qunut di akhir shalat witir”. (Suwaid bin Goplah berkata) : dan mereka pun (abu bakar r.a, umar r.a, aly r.a dan utsman) malakukan seperti itu. (Dikeluarkan oleh: Imam Ad-Daroquthny; Sunan Ad-Daroquthny. Juz 2 Kitab Witir. Hal.357 cet. Muassasatu Ar-Risalah) Pada riwayat ini terdapat rowi pendusta yang bernama ‘Amr bin Syamr. Abu Hatim menilai: “’Amr bin Syamr itu munkarul Hadits Jiddan !! dan ia itu dloif haditsnya juga ditinggalkan”. Adapun Abu Jur’ah menilai: Dloiful Hadits. Ibnu Ma’in mengatakan: “Laisa Bitsiqqoh”.[2]. Imam Al-Jauzajaany: (Amr bin Syamir) Zaaigu Kadzdzab (Pendusta). Adapun ibnu hibban menambahkan dengan komentarnya:

 رافضي يشتمّ الصحابة و يروي الموضوعات عن الثقات 

(Amr bin Syamr) adalah seorang Syi’ah Rofidloh yang mencela para Shahabat, dan ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari rowi yang tsiqoh. Imam Al-Bukhory mengatakan: “dia Munkarul Hadits”. Imam An-Nasai dan Imam Ad-Daroquthny mengatakan: “dia Matrukul Hadits”. [3].

Atas keseluruhan komentar diatas penulis menyimpulkan riwayat yang dibawa oleh ‘Amr bin syamir disini jelas riwayatnya munkar dloif sekali dan tidak sah riwayat ini dipakai sebagai hadits penguat dengan hadits-hadits yang lain terutama dipakai sebagai hujjah. Tidaklah benar Suwaid bin Goflah seorang kibaru tabi’in mengabarkan riwayat ini dari para Shahabat seperti Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman dan Aly r.a tentang qunutnya rasul saw pada shalat witir. Dan juga tidaklah benar para Shahabat berqunut pada shalat witir atas dasar riwayat ini.

Riwayat 2:

حدثنا موسى بن إسماعيل حدثنا حماد عن هشام بن عمرو الفزاري عن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام عن علي بن أبي طالب أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يقول في أخر وتره ((اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك وأعود بك منك لأحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك)). 

Dari Ali bin abi tholib r.a bahwa rasul saw membaca pada akhir witirnya: “Allahumma Inny…” (Dikeluarkan oleh: Imam Abu Daud; Sunan Aby Daud. Juz 2 Bab Qunut fil Witr. Hal.254-255 cet. Muassasatu Ar-Royyan) Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Imam At-Tirmdizy pada bab Du’aul Witr, Imam An-Nasai pada bab “Ma Yaqulu fi Akhir Witrihi”, Ibnu Majah pada bab “Ma Jaa fil Qunut fil Witr”. Juga didapatkan di kitab Ad-Du’a Imam Athobarony, kitab Mushonnaf Ibn Aby Syaibah. Pada riwayat ke 2 ini tidak ada penyebutan Qunut pada shalat witir. Riwayat ini mahfudz rowi-rowinya baik. Hamad disini adalah Hamad bin Salamah. Rowi tsiqoh, begitupun Hisyam bin ‘Amr rowi tsiqoh atas penilaian Abu Hatim.  Riwayat ini tidak ada penjelasan disaat apa do’a ini dibaca oleh rasulullah saw. Adapun pada riwayat pertama diatas tidak bisa di jadikan penjelas bahwa bacaan ini disebut pada qunut witir karena riwayatnya munkar. Adapun sebagai penjelas riwayat ke 2 ini penulis kutip riwayat Aisyah r.a yang dikeluarkan oleh Imam Muslim: 

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أبو أسامة حدثني عبيد الله بن عمر عن محمد بن يحيى بن حبان عن الأعرج عن أبي هريرة عن عائشة قالت فقدت رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة من الفراش فالتمسته فوقعت يدي على بطن قدميه وهو في المسجد وهما منصوبتان وهو يقول اللهم أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك وأعوذ بك منك لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك 

“Saya kehilangan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pada suatu malam ditempat tidur, lalu sayapun mencarinya dengan meraih-raih tanganku (karena gelap), hingga tanganku menyentuh kedua telapak kakinya, sedangkan ia dalam sujud, kedua kakinya tersebut ditegakkan, sambil berdoa: “Allaahumma a’uudzu bi ridhaaka min sakhatik, wa bi mu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzu bika min ka, laa uhshii tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik’. (Dikeluarkan oleh: Imam Muslim; Shahih Muslim. 

    Kitab Shalat. Bab Maa Yuqoolu Fi Ruku’ Wa Sujud. Hal. 252 No.hadits: 486 cet. Darul Mughny) Riwayat Aisyah ini baik rowi-rowinya tsiqoh. Imam Muslim memasukkan riwayat ini pada bab bacaan ruku’ dan sujud. Nampak jelas riwayat ke 2 diatas yang diriwayatkan oleh ‘Aly bin Aby tholib yang padanya terdapat do’a adalah bacaan rasul saw yang dibaca pada do’a sujud atas penjelasan istri Nabi saw Aisyah r.a. Riwayat ini sebagai penjelas akan kekeliruan riwayat lain yang menambahkan kata Qunut pada riwayatnya yang di bawa oleh rowi bermasalah. Kesimpulan: Riwayat ‘Aly yang Mahfudz adalah pada riwayat ke 2 dimana rasul saw membaca do’a “Allahumma Inny….” Di akhir witirnya bukan dibaca dalam qunut, tapi dibaca dalam sujud seperti di jelaskan dengan shorih oleh riwayat ‘Aisyah. Adapun penyebutan Qunut di akhir witir adalah Munkar yang dibawa oleh rowi Munkar yaitu ‘Amr bin Syamir.  

Riwayat Ibu Abbas r.a

أنبأ أبو محمد عبد الله بن محمدبن إسحاق الفاكهي بمكة ثنا أبو يحيى عبد الله بن أحمد بن زكريا بن الحارث بن أبي ميسرة أخبرني أبي انبأ عبد المجيد يعني ابن عبد العزيز بن أبي رواد عن ابن جريج أخبرني عبد الرحمن بن هرمز أنّ بريد بن أبي مريم أخبره قال سمعت ابن عبّاس و محمد بن علي هو ابن الحنفية يقولان : كان النبي صلى الله عليه وسلم يقنت في صلوة الصبح وفي وتر الليل بهؤلاء الكلمات : اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولّني فيمن تولّيت وبارك لي فيما أعطيت وقني شرّ ماقضيت إنّك تقضي ولا يقضيعليك إنّه لا يذل من واليت تباركت ربّنا وتعاليت.

 “Adalah Nabi saw melakukan Qunut pada shalat shubuh dan pada shalat witir dengan kalimat-kalimat ini: “Allahummah dinie Fieman Hadait…….” (Dikeluarkan oleh: Imam Al-Baihaqy;  Sunan Al-Kubra. Juz 2. Hal. 210 cet. Majlis Dairatu Al-Ma’arif) Begitu juga dikeluarkan oleh Imam Al-Faqihy dalam kitab Fawaid Aby Muhammad Al-Faqihy. Abdurrozzaq dalam kitabnya Mushonnif Abdirrozzaq. Dan Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam kitabnya Shalatul Witr Lilmarwazy. Semuanya bermuara ke Ibnu Jurej dari Abdurrohman bin Hurmuz dari Buroid bin Aby Maryam dari Ibnu Abbas r.a. Titik kritis pada sanad ini tertuju pada Abdurrohman bin Hurmuz. Apabila yang dimaksud adalah Abdurrohman bin Hurmuz Al-A’rozy yang tsiqoh, maka data riwayat menunjukkan bahwa Abdurrohman bin Hurmuz Ar-Rozy tidak memiliki sanad keguruan kepada Bureid bin Aby Maryam dan juga tidak memiliki jalur riwayat ke Abdul malik bin Abdul Aziz bin Jurej. Abdurrohman bin Hurmuz Al-Rozy orang madinah wafat tahun 117H[4] seorang tabi’in yang banyak mendapat periwayatan dari para Shahabat Nabi saw seperti Abu Hurairoh r.a, Abu Ubaidah r.a, Mu’awiyah r.a dll, sedangkan Bureid orang Bashroh[5] wafat tahun 144H yang hanya mendapat riwayat dari beberapa shabat saja yang akhir seperti Anas bin Malik r.a, Ibnu Abbas r.a. Artinya disini dari arah wafat dan thobaqohnya sudah terbalik dalam pengertian tidak mungkin Abdurrohman bin Hurmuz Al-Rozy seorang yang termasuk Kibaru Tabi’in (w 117H) meriwayatkan dari Bureid bin Aby Maryam yang termasuk Shigoru Tabi’in (w144). Dari analisa pertama ini terdapat kejanggalan. Siapa Abdurrohman bin Hurmuz pada riwayat ini? Kemudian apabila kita perhatikan jalur riwayat yang lain bisa didapatkan ternyata pada riwayat lain Nampak jelas nama Abdurrohman bin Hurmuz tidak disebutkan. 

    Berikut jalur periwayatan Imam Al-Marwazy:

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ ، ثنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ ، حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ ، وَمُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ ، يَقُولانِ بِالْخَيْفِ : " كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي صَلاةِ الصُّبْحِ بِهَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ ، وَفِي الْوِتْرِ بِاللَّيْلِ " .

 (Dikeluarkan oleh: Imam Al-Marwazy;  Shalatul Witr Lil-Marwazy. No.hadits 60) Nampak jelas pada riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Al-Marwazy tidak ada penyebutan Abdurrohman bin Hurmuz. Sanad riwayat yang di keluarkan oleh Imam Al-Marwazy ini diperkuat oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Abdurrozaq. 

Berikut riwayatnya: 

عبد الرزاق عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي مَنْ ، سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ ، وَمُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ بِالْخَيْفِ ، يَقُولانِ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ بِهَؤُلاءِ الْكَلِمَاتِ فِي صَلاةِ الصُّبْحِ ، وَفي الْوِتْرِ بِاللَّيْلِ : " اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَإِنَّهُ لا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ "

 (Dikeluarkan oleh: Imam Abdurrozaq;  Mushonnaf Abdurrozaq Juz 3 hal. 108 . No.hadits 4957 cet. Al-Maktabu Al-islamy) Pada riwayat yang dikeluarkan Abdurrozaq ini menguatkan apa yang dikeluarkan oleh Al-Marwazy bahwa sebenarnya Ibnu Jurej meriwayatkan dari orang yang tidak dikenal (Majhul) sehingga penyebutan Abdurrohman bin Hurmuz Nampak jelas adalah rowi Majhul yang tidak didapatkan daftar biografinya. Rowi ini adalah Majhulul ‘Ain. Kemajhulannya Nampak jelas ketika pada riwayat Abu Sofwan Al-Umawy pada jalur sanadnya disebutkan beda lagi yakni Abdullah bin Hurmuz.

 رَوَاهُ أَبُو صَفْوَانَ الأُمَوِيُّ ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ ، إِلا أَنَّهُ قَالَ : عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُرْمُزَ ، وَقَالَ فِي حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، وَابْنِ الْحَنَفِيَّةِ : " فِي قُنُوتِ صَلاةِ الصُّبْحِ "

 (Dikeluarkan oleh: Imam Al-Baihaqy;  Sunan Al-Kubra. Juz 2. Hal. 210 cet. Majlis Dairatu Al-Ma’arif) Titik masalahnya hemat penulis ada di rowi yang bernama Ibnu Jurej pula. Ibnu Jurej lah yang telah memunculkan rowi majhul ini yang tidak diketahui keberadaannya. Yahya bin Said Al-Qotthon mengatakan:

 كان ابن جريج صدوقا فإذا قال ((حدّثني)) فهو سماع، وإذا قال : ((أخبرنا)) أو ((أخبرني)) فهو قراءة، وإذا قال: (قال) فهو شبه الريح 

Ibnu Jurej itu shoduq, apabila mengatakan “Haddatsany” maka dia itu mendengar (sama’) dan apabila ia mengatakan “Akhbarona” atau “Akhbarony” maka dia itu membaca, dan apabila ia mengatakan “Qola” maka riwayatnya seperti angin (berlalu).[6] Ibnu Jurej terlihat ragu dalam periwayatannya dari apa yang ia baca, kadang menyebutkan orang tanpa nama ( من ) kadang juga menyebutkan (عبد الله بن هرمز) dan kadang juga menyebutkan (عبد الرحمن بن هرمز) ketiga-tiganya telah disebutkan oleh Ibnu Jurej atas rowi yang tidak dikenal (Majhulul ‘Ain) Atas analisa yang kami ketahui seperti ini Al-Hafidz Ibnu Hajar telah tepat memberikan komentar pada riwayat ini dari kitabnya Talkhis Al-Habir dengan mengatakan: عبدالرحمن بن هرمز ليس هو الأعرج، يحتاج إلى الكشف عن حاله “Abdurrohman bin Hurmuz bukanlah Al-A’roj (yang tsiqoh). Ini dibutuhkan lagi penelitian tentangnya” (Talkhis Al-Habir Juz 1 hal.248) Kesimpulan: Atas dasar ini riwayat Ibnu Abbas r.a melalui informasi Ibnu Jurej dari rowi majhul ini riwayatnya adalah dloif goir muhtamal (dloif yang tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat lemah yang lain). Tidaklah benar shabat Nabi saw yang bernama Ibnu Abbas r.a mengatakan seperti pada riwayat ini.  

Riwayat Ibnu Mas’ud r.a:

Riwayat ke 1:

حدثنا جعفر بن أحمد بن محمد المؤذّن حدثنا الريّ بن يحيى حدّثنا فبيصة حدّثنا سفيان عن أبان بن أبي عيّاش عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله قال : قنت رسول الله صلّى الله عليه وسلم في الوتر قبل الركعة، قال : فأرسلت أمّي إليه القابلة ، فأخبرتني أنّه فعل ذلك

. Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah saw berqunut pada shalat witir sebelum ruku’ (Dikeluarkan oleh: Imam Ad-Daroquthny; Sunan Ad-Daroquthny. Juz 2 Kitab Witir. Hal.356 cet. Muassasatu Ar-Risalah) Juga di keluarkan oleh Ibnu Aby Syaibah yang padanya terdapat rowi matruk Aban bin Aby ‘Iyyas Fairuz Al-Basyory. Yahya bin Ma’in dan Imam An-Nasai menilai Matruk, Abu Ishaq Al-Juzajany menilai Saqit (sederajat dengan Matruk)[7] atas penilain-penilaian ini Ibnu Hajar menyimpukan bahwa Aban bin Aby ‘Iyyas adalah rowi Matruk.[8] Riwayat Ibnu Mas’ud r.a ini dloif goir muhtamal (dloif parah yang tidak bisa di pakai untuk katagori taqwiyah dengan riwayat lemah yang lain).

Riwayat ke 2:

حدثنا محمد بن شعيب ثنا يعقوب الدشتكي ثنا هشام بن عبيد الله السني : نا محمد بن جابر عن حماد عن إبراهيم عن علقمة و الأسود قالا قال عبد الله : ما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم في شيء من الصلوات إلا في الوتر وإنّه كان إذا حارب يقنت في الصلوات كلهن يدعو على المشركين وما قنت أبو بكر ولا عمر ولا عثمان حتّى ماتوا. ولا قنت علي حتى حارب أهل الشام، وكان يقنت في الصلوات كلّهن وكان معاوية يدعو (عليه) أيضا يدعو كل واحد منهما على الآخر.

 (Dikeluarkan oleh: Imam Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Ausath. Juz 7 Hal.274 cet. Darul Haromain) Dzohirnya ini hadits berbicara tentang Qunut Nazilah. Pada riwayat ini terdapat Muhammad bin Jabir bin Sayyar As-Suhaimy. Rowi dloif. Yahya bin Main menilai rowi ini termasuk lemah dengan mengatakan: “Dia buta, dan tercampur (hafalan) haditsnya. Termasuk orang Kufah dan pindah ke negri Al-Yamamah, dan dia termasuk rowi dloif”. [9] Amr bin ‘Aly menilai: 

صدوق كثير الوهم متروك الحديث 

“Shoduq banyak kekeliruan. Haditsnya Matruk”. [10] Abu Daun menilai: “Laisa bi Syain” dan Imam An-Nasai mengatakan: “dia Dloif”. [11] Abu Hatim dan Abu Zur’ah mengatakan: “Muhammad bin Jabir Yamamy, siapa saja yang mencatat darinya di kota Yamamah dan Makkah maka dia itu shoduq (riwayatnya diterima), kecuali pada haditsnya terjadi percampuran adapun asal mulanya ia itu (riwayatnya) shahih Abu Zur’ah menambahkan: Muhammad bin Jabir itu Saqitul Hadits (dloif) menurut para ahli ilmu. Dan Abu hatim pun menambahkan: kedudukannya adalah Ash-Shidq (jujur) dan Muhammad bin Jabir lebih aku sukai dari pada Ibnu Lahi’ah.” [12] Atas keseluruhan penilaian diatas, hemat penulis Ibnu Hajar sangat tepat menyimpulkan bahwa Muhammad bin Jabir ini Shuduq, kholato katsiron (jujur, banyak percampuran=perubahan riwayat). Al-Hafidz ibnu hajar tidak mengindahkan penilaian Amr bin ‘Aly yang menilainya matruk, juga tidak mengindahkan qoul Abu Zur’ah yang mengatakan Saqith (matruk dan Saqith adalah dua penilaian yang sangat lemah, yang bagi rowinya adalah goir muhtamal) karena penilaian-penilaian para imam itu dan imam yang lain yang menjarhnya dengan perkataan yang sejenisnya adalah ditujukan pada perubahan hafalannya dan tidak sedang menjatuhkan ‘Adalahnya. Atas penilaian akhir dari Ibnu Hajar pada dasarnya riwayat yang dibawa oleh Muhammad bin Jabir adalah dapat diterima dengan beberapa syarat diantaranya ada Syahid (saksi) atau Mutabi’ (rowi penyerta). Riwayat yang dibawa oleh Muhammad bin jabir dari Hamad adalah dloif muhtamal (dloif yang bisa diperhitungkan untuk diangkat apabila ada riwayat lain yang mengikutinya)

Riwayat 3:

وقال بن المجالد عن أبيه عن إبراهيم عن علقمة والأسود قالا ما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم في شيء من الصلوات إلا إذا حارب فإنه كان يقنت في الصلوات كلهن ولا قنت أبو بكر ولا عمر ولا عثمان حتى ماتوا حتى لا قنت علي حتى حارب أهل الشام فكان يقنت في الصلوات كلهن وكان معاوية يقنت أيضا فيدعو كل واحد منهما على صاحبه .

 (Dikeluarkan oleh: Abdurrozzaq; Mushonnaf Li-Abdirrozzaq. Juz 3 hal.107 no.4953 cet.Habiburrohman Al-A’dzomy) Pada riwayat yang dikeluarkan oleh abdurrozzaq ini kita dapatkan ternyata pada periwayatan Muhammad bin Jabir yang dibahas sebelumnya didapatkan Syahid baginya. Ibnu Mujalid adalah Ismail bin Mujalid bin Sa’id Al-Hamdany. Rowi ini dinilai Shoduq Yukhty atas kesimpulan Ibnu Hajar.[13] Imam Al-Bukhory menilai: “Shoduq”. Adapun Abu Zur’ah menilai “Wasath”. Adapun ayahnya Mujalid bin Sa’id Imam An-Nasai menilai “Laisa Bitsiqoh” dan ditempat yang lain mengatakan “Tsiqoh”. Rowi ini juga diketahui telah berubah hafalannya diakhir hidupnya. [14] 

    Melihat dua riwayat diatas yakni riwayat 2 dan riwayat 3 dengan redaksi matan yang sama, penulis memahami kedua riwayat ini terangkat saling menguatkan dari kelemahan Muhammad bin Jabir dan kelemahan Ismail bin Mujalid. Riwayat ini terlihat baik dari segi sanad begitu juga matannya hampir saling beriringan kata demi kata dari riwayat 2 yang dibawa Muhammad bin Jabir dan riwayat 3 yang dibawa Ismail bin Mujalid. Hanya saja pada riwayat 2 terdapat tambahan kata Witir yang tidak didapatkan pada riwayat 3. Riwayat 2 yang dibawa Muhammad bin Jabir:

 ما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم في شيء من الصلوات إلا في الوتر وإنّه كان إذا حارب... 

Riwayat 3 yang dibawa Ismail bin Mujalid:

 ما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم في شيء من الصلوات إلا إذا حارب ....

 Melihat penilaian para imam jarh dan ta’dil dapat di ketahui Ismail bin Mujalid lebih baik penilaiannya daripada Muhammad bin Jabir. Imam Al-Bukhory saja menilainya shoduq terhadap Ismail bin Mujalid, berbeda dengan Muhammad bin Jabir kelemahannya dianggap “Saqith” oleh Abu Zur’ah. Ini berarti lafadz tambahan “Witir” pada riwayat yang dibawa oleh Muhammad bin Jabir adalah Syad (cacat). Dengan begitu dapat difahami disini bahwa menurut riwayat ini rasul saw tidak pernah melakukan qunut pada shalat apa saja (qunut didawamkan), kecuali apabila ia berperang (mendo’akan kebinasaan musuh) maka rasul saw melaksanakan qunut pada shalat-shalatnya. Dan ini banyak riwayat sebagai saksi akan pelaksanaan qunut nazilah yang dilakukan rasul saw seperti yang di keluarkan oleh Imam Al-Bukhory dan Imam Muslim.

عَنِ الْبَرَاءِ رضي الله عنه قَالَ : " قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْفَجْرِ وَالْمَغْرِبِ " أخرجه مسلم.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه : " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ " متفق عليه واللفظ لمسلم .

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : " أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ قَنَتَ اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ ". أخرجه البخاري .

Bahkan pada riwayat 2 dan riwayat 3 diatas dijelaskan juga bahwa Abu Bakar r.a, Umar r.a, Utsman r.a dan Ali r.a tidak pernah melakukan qunut yang didawamkan kecuali apabila melakukan qunut nazilah seperti halnya Ali r.a pada riwayat ini terlihat perseteruannya dengan mu’awiyah dimana sejarah mencatat terjadinya perang siffin. Kesimpulan: Tidaklah benar Ibnu Abbas r.a pada riwayat ke 1 mengabarkan riwayat qunut witirnya rasul saw karena informasinya melawati rowi matruk yang bernama Aban bin Aby ‘Iyyas. Bahkan riwayat 2 dan riwayat 3 sebagai penjelas bahwa rasul saw tidak pernah melakukan qunut kecuali apabila berperang mendo’akan musuh-musuh Allah swt (qunut nazilah) dimana tentang qunut nazilah Imam Al-Bukhory dan Imam Muslim telah mencantumkannya di kitab shahihnya.  

Riwayat Ibnu Umar r.a:

حدثنا محمود بن محمد المروزي : نا سهل بن العباس الترمذي : نا سعيد بن سالم القداح ، عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم  كان يوتر بثلاث ركعات ويجعل القنوت قبل الركوع. لم يرو هذا الحديث عن عبيد الله بن عمر إلا سعيد بن سالم. 

Dari Ibnu Umar r.a bahwa Nabi saw Shalat witir dengan 3 roka’at dan melakukan qunut sebelum ruku’ (Dikeluarkan oleh: Imam Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Ausathu Lithobarony. Juz 8 hal.36 no.7885 cet.Darul Haromain) Imam Ath-Thobarony mengomentari bahwa riwayat ini tidak ada seorangpun yang meriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin Umar kecuali Sa’id bin Salim. Dan penulis katakan: tidak ada juga seorangpun yang meriwayatkan dari Sa’id bin Salim kecuali Sahl bin Al-Abbas. Sahl bin Al-Abbas lah yang buat riwayat ini seolah-olah dari Ibnu Umar r.a dari Nabi saw. Sahl bin Al-Abbas adalah rowi matruk. Imam Ad-Daroquthny mengatakan: “Laisa bitsiqoh, Matruk”. Dia tidak kuat, termasuk rowi matruk. Riwayat ini dloif syadid termasuk dloif goir muhtamal (dloif yang tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat lain). Pada riwayat ini tidaklah benar Ibnu Umar r.a mengatakan bahwa Nabi saw melakukan qunut sebelum ruku’.  

Riwayat Al-Hasan bin ‘Aly r.a:

حدثنا الحسن بن المتوكل البغدادي ثنا عفان بن مسلم ثنا أبو الأحوص عن أبي إسحاق عن بريد بن أبي مريم عن أبي الحوراء عن الحسن بن علي رضي الله عنه قال: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في قنوت الوتر ( اللهم اهدني فيمن هديت وعافني فيمن عافيت وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني شر ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك إنه لا يذل من واليت ولا يعز من عاديت تباركت ربنا وتعاليت 

Dari Al-Hasan bin ‘Aly r.a ia berkata: Rasul saw mengajariku beberapa kalimat yang aku baca kalimat itu pada qunut witir: “Allahummahdini …..” (Dikeluarkan oleh: Imam Ath-Thobarony; Al-Mu’jamu Al-Kabir Lithobarony. Juz 3 hal.74 no.2705 cet.Maktabu ibn Taimiyyah) Berkenaan dengan riwayat Al-Hasan bin Aly r.a cukup banyak dan untuk mempermudah penjelasan dari apa yang penulis fahami maka setelah penelusuran riwayat di kitab mashodir Asliyyah (kitab-kitab primer) penulis susun bagan riwayat berikut ini: abuaqsith1 [1] Kitab Masail Abdullah Liabihi Ahmad bin Hanbal hal.9291 no.323 [2] Kitab Jarh wa Ta’dil: Juz 6 hal.239-240 cet. Ihyau At-Turots Al-Islamy. [3] Kitab Mizanul I’tidal: Adz-Dzahaby. Juz 5 hal.324 cet. Ihyau At-Turots Al-Islamy. Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah [4] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 17 hal. 471 cet. Muassasatu Ar-Risalah [5] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 4 hal. 52 cet. Muassasatu Ar-Risalah [6] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 18 hal. 351 cet. Muassasatu Ar-Risalah [7] Kitab Mizanul I’tidal; Juz 1 hal. 125  cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah [8] [9] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 24 hal. 566 cet. Muassasatu Ar-Risalah [10] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 24 hal. 567 cet. Muassasatu Ar-Risalah [11] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 24 hal. 568 cet. Muassasatu Ar-Risalah [12] Kitab Tahdzibul Kamal; Juz 24 hal. 567 cet. Muassasatu Ar-Risalah [13] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.143. No.rowi 480. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah. [14] Kitab  Taqribu At-Tahdzib. Ibnu Hajar. Hal.980. No.rowi 6520. Tahqiq Abul Ashbal. Cet.Darul ‘Ashimah.

 

© 2023 Pimpinan Persatuan Islam — Cahaya Islam Berkemajuan.